Menu

Mode Gelap
H Satria: Jagalah Perairan dari Sampah dan Hindari Berita Hoax Wakil Ketua I DPRD Karimun, Ikut Meramaikan Lomba Mancing Pantai Desa Batu Limau ‎Cuaca Ekstrem Mengintai, Kades Kuala Maras Ajak Warga Lebih Berhati-hati Pembisik Negeri Ganja Kakus Hanya Padamu Cinta Ini Kuabadikan

Minda

Ganja Kakus

badge-check


					Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

POJOL orang sekampung ketawa, Wak. Apa pasal? Pasalnya minggu ini keluar berita yang bukan alang kepalang ajaibnya. Konon ceritanya, ada pula aparat bercakap ganja itu “terpapar” dari dalam kakus. Mendengar cerita itu, Makcik Timah sampai tersedak kopi panas. Pak Lung Mail pula hampir jatuh dari bangku warung sebab terlalu kuat gelaknya.

“Masya Allah, sakti betul barang itu sekarang,” kata Wak Jali sambil menggeleng kepala. “Dulu orang masuk kakus bawa gayung, sekarang takut keluar bawa perkara.”

Begitulah kampung kita, Wak. Kalau ada cerita ajaib sedikit, belum tengah hari sudah beranak pinak jadi seribu versi. Ada yang cakap mungkin ganja itu pandai memilih tuan. “Barang kali ganja itu kenal mana anak pejabat, mana anak rakyat jelata,” bual si Jang sambil menghembus asap rokok daun nipah. Yang mendengar bukan main lagi ketawanya, sampai ayam belakang warung terkejut lalu bertelur di parit.

Tapi ada pula orang tua-tua yang menggeleng kepala. Katanya, kalau sampai keluar kalimat “terpapar dari kakus” itu bukan lagi cerita lucu, tapi cerita yang membuka pekung kebodohan sendiri. Bak kata orang lama: “Bodoh tak bisa diajar, pandai tak bisa diikut.” Sebab dalam adat Melayu, kalau lidah sudah kalah oleh akal, alamat marwah pun ikut tergadai.

Yang lucunya lagi, sejak berita itu keluar, budak-budak kampung jadi takut masuk jamban. Bujang siap berseru dari luar pintu, “Mak, kalau lama sangat dalam kakus nanti saya terpapar pula ke?” Maknya terus menjawab, “Yang terpapar itu bukan sebab kakus, tapi sebab perangai!”

Nah Wak, di situlah sebenarnya letak penyakit zaman sekarang. Orang terlalu pandai mencari alasan, tapi terlalu malas mencari teladan. Padahal tunjuk ajar Melayu tak pernah mengajar orang takut masuk kakus sebab ganja. Yang diajar orang tua-tua dulu bagaimana mendidik anak supaya tahu batas halal haram, tahu malu, tahu marwah.

Raja Ali Haji sudah lama mengingatkan dalam Gurindam Dua Belas: “Apabila anak tidak dilatih, Jika besar tiadalah jadi letih.”

Maknanya jelas, anak yang tak diasuh dari kecil, bila besar jadi liat macam kayu basah. Disuruh baik tak mau, disuruh belajar mengelat, disuruh kerja hilang entah ke mana. Tapi bila kena masalah, semua benda disalahkan. Kadang sampai kakus pun ikut kena tuduh.

Orang Melayu dulu mendidik anak bukan setakat pandai membaca. Tapi diajar adab, diajar malu, diajar hormat orang tua. Sebab itu Raja Ali Haji berpesan lagi:

“Dengan bapa jangan durhaka,
Supaya Allah tidak murka.”

Sekarang ni lain jadinya, Wak. Anak dimanja macam putera raja, tapi akhlaknya dibiarkan liar macam kerbau lepas tali. Bila sudah jadi masalah, mulalah masyarakat sibuk berbalas alasan. Yang salah dicuci, yang benar dipulas, yang tak masuk akal dibuat logika.

Padahal orang Melayu punya tunjuk ajar sangat terang. Kalau kasih pada anak, jangan cuma dibelikan motor dan telepon gengam, ajari anak ilmu, adab, agama dan malu. Sebab kata Gurindam lagi:

“Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.”

Ilmu itu bukan sekadar pandai menjawab wartawan atau pandai membuat alasan. Ilmu itu cahaya akal. Bila akal hilang, orang bisa bercakap apa saja walaupun seluruh kampung ketawa mendengarnya.

Sebab itulah Wak, orang tua Melayu dulu selalu berpesan: “Anak dipangku biar menjadi, Kampung dijaga biar berbudi.”

Kalau anak tak dijaga dengan tunjuk ajar, nanti jadilah generasi yang pandai mencari kambing hitam, tapi tak pandai menjaga marwah sendiri. Hari ini salahkan kakus, esok lusa entah apa pula yang dituduh. Jangan-jangan nanti asap gulai lemak pun dikata membawa pengaruh.

Aduhai Wak, memang dunia sudah banyak berubah. Tapi satu yang jangan berubah, akal sehat dan adat Melayu. Sebab kalau itu hilang, orang sekampung bukan saja ketawa tapi menangis dalam diam melihat marwah sendiri makin tercicir.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pembisik Negeri

30 Mei 2026 - 08:11 WIB

Dunia Seni Riau Berduka, Dua Senimannya Meninggal Dunia

28 Mei 2026 - 21:07 WIB

BRK Syariah Dorong Budaya Menabung Kurban untuk Mudahkan Pegawai Beribadah Setiap Tahun

28 Mei 2026 - 19:08 WIB

Pererat Kebersamaan, PT Arara Abadi dan Mitra APP Group Kembali Salurkan Hewan Qurban

28 Mei 2026 - 13:26 WIB

Meriahkan HUT ke-63 Taspen, Tim Padel BRK Syariah Raih Juara di Taspen Cup 2026

28 Mei 2026 - 11:23 WIB

Trending di Pekanbaru