Menu

Mode Gelap
KKP Lakukan Survei Topografi, Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Jemaja Timur Masuki Tahap Awal Jumat ASRI Jemaja Timur Libatkan Forkopimcam, Warga, dan Mahasiswa KKN UGM Bersihkan Lingkungan Desa Bukit Padi Camat Siantan Hadiri Buka Puasa Asyura dan Santunan Anak Yatim, Apresiasi Kepedulian Majelis Taklim Istiqomah HNSI Jemaja dan Kapolsek Perkuat Sinergi, Nelayan Diimbau Waspada Musim Angin Selatan Ungkap Penyalahguna Narkotika Polsek Siak Kecil Bekuk dua Pelaku Polsek Pinggir Ungkap Kasus Narkotika di Talang Muandau, Satu Tersangka Diamankan

Siak

Julang Budaya Siak 2025, Menjaga Ruh Kemelayuan di Negeri Istana

badge-check


					Salah satu pertunjukan Julang Budaya Siak 2025. F: Ist Perbesar

Salah satu pertunjukan Julang Budaya Siak 2025. F: Ist

RiauKepri.com, SIAK –  Malam Minggu, Lapangan Siak Bermadah berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga dari berbagai penjuru Kabupaten Siak berkumpul, memenuhi ruang terbuka luas yang berada tepat di hadapan Istana Siak yang megah. Lampu-lampu menerangi halaman istana, menciptakan siluet anggun bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan budaya Melayu.

Di tengah riuh rendah suara masyarakat, Julang Budaya Siak 2025 resmi dibuka oleh Bupati Siak, Afni Zulkifli. Acara yang telah menjadi agenda tahunan ini kembali berhasil menarik perhatian publik, menjadi ruang berkumpulnya masyarakat yang ingin merayakan sekaligus merawat identitas Melayu mereka.

Kehadiran warga dari berbagai usia—dari anak kecil, remaja, hingga orang tua—menunjukkan bahwa budaya bukan milik satu generasi saja. Ia adalah napas panjang yang diwariskan dari masa ke masa, dan pada malam itu, napas itu terasa semakin kuat.

Dalam sambutannya, Bupati Afni menegaskan pentingnya menjaga akar budaya Melayu Riau, terutama di Kabupaten Siak yang dikenal sebagai Negeri Istana. Menurutnya, khazanah budaya di daerah ini adalah ruh yang harus tetap hidup di tengah perubahan zaman.

“Ruh Kemelayuan Riau ada di tanah kita, di negeri istana. Insya Allah, selagi nyawa masih di badan, kita harus menjaga kebudayaan ini,” ujarnya dengan suara yang tegas namun penuh haru, disambut tepuk tangan warga yang memenuhi lapangan.

Ia juga menyampaikan kekagumannya terhadap penampilan anak-anak berprestasi tingkat provinsi yang mengisi acara pembukaan. Mereka tampil percaya diri dengan bahasa Melayu, syair, tarian, dan pidato, menjadi bukti bahwa tradisi budaya masih tumbuh subur di tanah Siak.

“Bahasa dan kebudayaan kita jangan sampai terlupa,” kata Afni. Ia mengingatkan bahwa banyak suku di belahan dunia lain yang mulai hilang ditelan perubahan zaman, dan hal itu tidak boleh terjadi pada budaya Melayu di Siak.

Dalam pidatonya, Afni menyebut sejumlah suku yang kini hanya tinggal sejarah: Maori, Aborigin, Eskimo, Maya, dan suku-suku asli di Amerika. Baginya, kisah tersebut harus menjadi pelajaran untuk terus menjaga budaya, baik yang berwujud benda maupun tak benda.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menyalakan denyut budaya hingga ke kecamatan. Meski efisiensi anggaran dilakukan, kegiatan kebudayaan tidak akan dihilangkan. Sebaliknya, akan dibuat semakin merata dan hidup di seluruh wilayah.

“Justru kita akan hidupkan, tidak hanya denyutnya di jantung ibu kota kabupaten kita, tapi juga sampai ke tingkat kecamatan,” ucapnya, meminta dukungan penuh dari masyarakat.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV Kepri, Jumhari. Ia menyebut Julang Budaya Siak sebagai momentum penting untuk melindungi serta memajukan warisan budaya, baik yang berupa cagar budaya maupun tradisi tak benda.

“Di sini berdiri Istana Siak, cagar budaya nasional. Di sini pula kita bisa melihat warisan budaya seperti tari zapin dan tenun Siak,” ujarnya. Ia bahkan menargetkan zapin untuk didorong menjadi warisan budaya tak benda dunia.

Bagi Jumhari, acara ini bukan hanya pelestarian budaya, tetapi juga motor penggerak ekonomi lokal. UMKM berbasis budaya mendapatkan ruang tampil melalui bazar dan pameran, memungkinkan mereka berkembang dan memperluas pasar.

“Kegiatan ini mendorong ekonomi kreatif dan UMKM agar naik kelas,” tambahnya. “Tidak hanya melestarikan budaya, tapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”

Suasana malam semakin meriah dengan penampilan seni budaya: musik lokal, tarian zapin, syair Melayu, hingga pidato anak-anak. Puncak kehangatan terjadi ketika Bupati Afni sendiri membaca puisi dan ikut menari bersama warga, menghadirkan kedekatan antara pemimpin dan masyarakat.

Selain hiburan, bazar UMKM turut menjadi magnet bagi pengunjung. Produk-produk lokal, mulai kuliner tradisional, minuman khas, hingga kerajinan tangan, dipajang dengan bangga. Julang Budaya Siak yang berlangsung hingga 16 November 2025 ini menjadi bukti nyata bagaimana budaya bukan hanya dirawat, tetapi juga dijadikan jalan menuju kesejahteraan masyarakat. (RK1/*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Empat Pelajar Ring 1 PT BSP Wakili Siak di Program Kepemimpinan Nasional GFLN 2026

25 Juni 2026 - 13:45 WIB

Bantu Pasien Tak Mampu, Rumah Singgah Kesehatan Gratis Mulai Dibangun di Siak

25 Juni 2026 - 12:35 WIB

Pemkab Siak Pastikan Bayar Gaji ke 13 Dari APBD

24 Juni 2026 - 10:15 WIB

KKP Pastikan Investasi di KITB Tetap Jalan, Penyegelan Bersifat Sementara

24 Juni 2026 - 09:11 WIB

Izin PKKPRL PT MNS Dalam Proses, Pembangunan Darat Lancar

24 Juni 2026 - 08:38 WIB

Trending di Riau