RiauKepri.com, BATAM – Ketegangan di Timur Tengah melonjak tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas. Tapi Iran membantah dan melakukan serangan balasan, menyasar pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Perkembangan terbaru ini memperlihatkan konflik yang tidak hanya berdampak bilateral antara AS dan Iran, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas regional dan ekonomi global. Hingga kini, dunia menanti kejelasan nasib Khamenei sekaligus arah lanjutan dari konfrontasi berskala luas tersebut.
Trump mengatakan, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam sebuah “operasi tempur besar-besaran”, Sabtu (2/3) waktu setempat. Gedung Putih juga merilis pernyataan video yang menegaskan bahwa operasi militer dilakukan untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran.
Sementara itu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kepada media internasional bahwa Khamenei masih hidup. Pernyataan itu mempertegas bantahan Teheran atas klaim Washington dan menambah kabut informasi di tengah situasi perang yang berkembang cepat.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut ada “tanda-tanda” bahwa Khamenei telah tewas. Israel menyatakan operasi militer dilakukan bersama Amerika Serikat untuk melumpuhkan apa yang mereka sebut sebagai rezim teroris di Iran.
Serangan gabungan tersebut dilaporkan menghantam sejumlah kota strategis di Iran, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Kantor berita semi-resmi Iran melaporkan ledakan terdengar hampir bersamaan di berbagai wilayah sekitar pukul 09.30 waktu setempat.
Juru bicara Bulan Sabit Merah Iran, Mojtaba Khaledi, menyebut sedikitnya 201 orang tewas dan 747 lainnya luka-luka akibat serangan. Sebanyak 24 dari 31 provinsi dilaporkan terdampak. Angka korban tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Media pemerintah Iran juga melaporkan sedikitnya 85 orang tewas setelah sebuah sekolah dasar di Minab, wilayah selatan Iran, dihantam serangan udara. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan brutal terhadap warga sipil.
Citra satelit yang beredar memperlihatkan kerusakan signifikan di kompleks kediaman Khamenei di Teheran. Bangunan terlihat menghitam dengan puing-puing berserakan dan asap membubung tinggi. Namun, belum ada kepastian apakah Khamenei berada di lokasi saat serangan terjadi.
Seorang pejabat militer Israel menyebut gelombang awal serangan menyasar ratusan target, termasuk pertemuan pejabat senior Iran dan fasilitas militer strategis. Fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan diklaim menjadi bagian dari sasaran operasi.
Di sisi lain, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah titik di kawasan Timur Tengah. Ledakan dilaporkan terjadi di beberapa negara Teluk, sementara pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan itu disebut menjadi target rudal dan drone.
Otoritas di sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain melaporkan pencegatan rudal serta drone yang diduga diluncurkan Iran. Militer Israel juga mengaktifkan sistem pertahanan udara menyusul sirene peringatan serangan di berbagai wilayahnya.
Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup. Jalur strategis tersebut selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, sehingga ancaman penutupan memicu kekhawatiran pasar global.
Eskalasi militer ini terjadi di tengah proses diplomatik antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran. Putaran pembicaraan terakhir di Jenewa pada 26 Februari lalu berakhir tanpa terobosan, sementara rencana pertemuan lanjutan dibatalkan setelah serangan militer terjadi.
Trump dalam pernyataannya mendesak rakyat Iran untuk memanfaatkan situasi ini guna menggulingkan pemerintahan ulama. Ia bahkan menjanjikan imunitas bagi aparat keamanan Iran yang meletakkan senjata dan memperingatkan konsekuensi berat bagi yang tetap bertempur.
Di tengah memanasnya situasi, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi tersebut. Pemerintah Indonesia menyerukan semua pihak menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Presiden Prabowo Subianto disebut siap memfasilitasi dialog, bahkan bersedia melakukan kunjungan ke Teheran jika kedua pihak menghendaki mediasi. (RK6/*)







