Menu

Otomatis
Breaking News

Internasional

Krisis BBM Filipina Lumpuhkan Transportasi, Warga Beralih Jalan Kaki

badge-check

Warga Filipina terpaksa jalan kaki imbas krisis BBM. (Foto: net) Perbesar

Warga Filipina terpaksa jalan kaki imbas krisis BBM. (Foto: net)

RiauKepri.com, MANILA – KRISIS Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda Filipina kini tak hanya berdampak pada kenaikan harga energi, tetapi juga melumpuhkan aktivitas transportasi di sejumlah wilayah, terutama di ibu kota Manila.

Fenomena jalanan yang biasanya padat kendaraan kini berubah drastis. Lalu lintas tampak lengang, sementara ribuan warga memilih berjalan kaki menuju tempat kerja akibat sulitnya mendapatkan BBM.

Kondisi ini dipicu oleh terganggunya pasokan energi global, khususnya setelah konflik di Timur Tengah yang berimbas pada penutupan jalur distribusi minyak dunia. Filipina yang selama ini mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan minyaknya langsung merasakan dampak signifikan.

Pemerintah Filipina bahkan telah menetapkan status darurat energi nasional sejak 24 Maret 2026. Kebijakan tersebut diambil setelah cadangan bahan bakar dilaporkan berada di level kritis dan harga BBM melonjak tajam hingga dua kali lipat di dalam negeri.

Akibatnya, sektor transportasi menjadi yang paling terpukul. Banyak kendaraan pribadi dan angkutan umum berhenti beroperasi karena keterbatasan pasokan bahan bakar. Situasi ini memaksa masyarakat beradaptasi dengan cara yang tidak biasa, yakni berjalan kaki untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Di sejumlah ruas jalan utama, pemandangan didominasi pejalan kaki, menggantikan hiruk-pikuk kendaraan bermotor. Bahkan, kondisi ini disebut-sebut sebagai perubahan drastis dalam mobilitas masyarakat urban di Filipina.

Selain berdampak pada mobilitas, krisis ini juga menekan sektor ekonomi. Distribusi barang terganggu, biaya logistik meningkat, dan aktivitas bisnis ikut melambat.

Meski demikian, di tengah situasi sulit, muncul fenomena sosial baru. Sebagian pihak menilai kebiasaan berjalan kaki ini berpotensi membawa dampak positif, seperti peningkatan kesehatan masyarakat dan pengurangan emisi kendaraan, meski sifatnya sementara.

Di sisi lain, Filipina tetap berkomitmen menjalankan agenda internasional, termasuk menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN. Hal ini menunjukkan upaya pemerintah menjaga stabilitas dan kepercayaan global di tengah krisis energi yang sedang berlangsung.

Krisis BBM Filipina menjadi gambaran nyata betapa rentannya negara yang bergantung pada impor energi terhadap gejolak geopolitik global. Situasi ini sekaligus menjadi peringatan bagi negara lain untuk memperkuat ketahanan energi di masa depan. (RK6/*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Kisah Petugas Haji Asal Batam: Saibansah dan Seteguk Air di Tanah Suci

19 Jun 2026 - 20:59 WIB

Kisah Petugas Haji Asal Batam: Saibansah dan Seteguk Air di Tanah Suci

Peringatan Tsunami di Indonesia Berakhir, Korban Gempa Filipina Bertambah

8 Jun 2026 - 14:02 WIB

Peringatan Tsunami di Indonesia Berakhir, Korban Gempa Filipina Bertambah

Jemaah Haji Siak di Arafah, Puncak Ibadah Haji Dimulai

26 Mei 2026 - 13:49 WIB

Jemaah Haji Siak di Arafah, Puncak Ibadah Haji Dimulai

Walikota Batam ‘Dikerubungi’ Wartawan Nasional di Tanah Suci Makkah

23 Mei 2026 - 12:33 WIB

Walikota Batam ‘Dikerubungi’ Wartawan Nasional di Tanah Suci Makkah

GA CAJ 2026 Digelar 27–30 April, Bahas Suksesi Kepemimpinan hingga Era Jurnalisme AI

27 Apr 2026 - 15:09 WIB

GA CAJ 2026 Digelar 27–30 April, Bahas Suksesi Kepemimpinan hingga Era Jurnalisme AI
Trending di Internasional