WAK, hidup di kampung ini ibarat menanak nasi, kalau api kecil, memang lama masaknya, tapi kalau api dibiarkan padam, jangan harap nasi jadi. Begitulah kepercayaan, kalau sudah redup, lama-lama hilang terus.
Dalam sepekan ini, di Panipahan, ada cerita amuk yang bukan lagi soal sabar atau tidak sabar. Ini soal perut yang sudah kenyang makan janji, tapi tetap lapar keadilan. Orang kampung pun mulai bertanya, hukum ini masih hidup atau sudah jadi cerita lama?
Narkoba pula masuk bukan lagi sembunyi-sembunyi, Wak. Sudah macam jual gorengan di simpang jalan, terang-terangan, berani, malah kadang terasa dilindungi. Yang kereknya, yang jaga kampung ini macam tak nampak apa-apa.
Kalau orang Melayu bilang, “air tenang jangan disangka tiada buaya.” Tapi di sini lain jadinya, buaya sudah timbul ke permukaan, malah berenang santai, orang pula disuruh pura-pura tak nampak.
Akibatnya bukan sikit, Wak. Anak-anak muda yang dulu disuruh mengaji, sekarang lebih pandai “menghilang.” Hormat pada orangtua makin tipis, macam kain lama yang sudah ditarik-tarik.
Rasa malu pun entah ke mana. Kalau dulu, salah sikit saja sudah tunduk kepala. Sekarang, salah besar pun bisa tertawa. Malu itu sudah hanyut, mungkin sampai ke Selat, tak tahu balik atau tidak.
Yang lebih pedih, orang tua cuma bisa mengeluh di beranda. Nak marah, takut. Nak diam, hati sakit. Beginilah kalau adat mulai longgar, yang tua kehilangan suara, yang muda kehilangan arah.
Aparat pula cakap, “tak ada bukti.” Wak, ini lucu tapi menyakitkan. Macam orang lihat asap tebal, tapi bilang tak ada api. Entah mata yang tertutup, atau memang sengaja memejam.
Orang kampung ini bukan tak tahu apa-apa. Mereka diam bukan karena bodoh, tapi karena masih menghormati aturan. Tapi kalau aturan tak lagi melindungi, sabar itupun ada batasnya.
Sampai akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun datang, bukan bantuan, tapi keberanian. Warga bersatu, macam aur dengan tebing, tak lagi goyah walau diterpa angin.
Gerakan itu bukan dirancang di meja, Wak. Itu lahir dari hati yang sama-sama luka. Sekali melangkah, tak ada lagi yang menahan. Rumah yang selama ini jadi bisik-bisik, akhirnya didatangi terang-terangan.
Lucunya, begitu rakyat bergerak, buktipun muncul. Macam barang yang selama ini sembunyi, tiba-tiba keluar sendiri. Jadi selama ini, siapa yang sebenarnya tak mau melihat?
Bandar narkoba pun hilang entah ke mana. Cepat betul lenyapnya, macam asap disapu angin laut. Tinggal cerita dan tanya yang tak terjawab.
Ada pula yang kena copot jabatan. Itu ibarat daun kering jatuh dari ranting, memang sudah waktunya, kata orang. Tapi apakah cukup satu dua daun, kalau akarnya masih sama?
Tunjuk ajar kita orang Melayu, Wak, jelas: kalau hendak kampung selamat, hukum jangan pilih kasih. Kalau hendak anak cucu bermarwah, adat mesti dijaga. Dan kalau kepercayaan sudah hilang, jangan salahkan rakyat kalau mereka memilih jalan sendiri.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







