Menu

Mode Gelap
Sukses Gelar Porseni SD/MI Siantan, KKG Tuah Siantan Tuai Apresiasi Disdikpora Anambas Tamu Beradat Di Balik Jendela Bersama Buku Jurnal BMKG: Cuaca Kepri Sabtu 9 Mei 2026 Didominasi Cerah Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah Peduli Lingkungan Bhabinkamtibmas Serahkan Lima Bibit Pohon, Green Policing Polres Kep Meranti Bhabinkamtibmas Alahair Cek Ternak Warga, Kapolsek Tebingtinggi: Kita Ingin Masyarakat Ikut Mendukung Program Presiden 

Minda

Tamu Beradat

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

WOI… Wak, kalau kaki sudah melangkah ke rumah orang, apalagi balai adat, jangan pula perangai tinggal di luar pagar. Masuk ke wilayah adat itu bukan sekadar melangkah, tapi membawa marwah. Di sana, sendok pun tunduk pada sopan, piring pun diam menunggu isyarat. Hidangan sudah tersaji di depan mata, lauk berasap menggoda selera, tapi tangan jangan dulu bergerak. Tunggu tuan rumah berkata, “silakan.” Kalau tidak, biarlah gulai itu dingin, asal adat tetap hangat. Orang tua-tua sudah berpesan: biarlah mati anak, jangan mati adat. Walau kadang terasa perut meronta, adat tetap di atas kepala.

Dalam Kitab Undang-Undang Kerajaan Siak BAB Al Qawa’id BAB 18 yang berisi delapan pasal, adat bertamu itu sudah lama diatur dengan terang. Pada Pasal 7 diterangkan bahwa orang yang berkain gombang tidak boleh masuk ke Balai, terkecuali orang yang terkejut di tengah jalan lalu hendak meminta pertolongan kepada polisi atas kesusahannya. Maknanya jelas, Wak, masuk ke balai atau rumah adat bukan main mendadak. Ada tertib, ada syarat, ada marwah yang dijaga. Bahkan pakaian dan keadaan diri pun menjadi ukuran sopan santun. Dari dulu lagi orang Melayu sudah mengajar, tempat mulia mesti dimasuki dengan adab, bukan main londo saja.

Masuk rumah orang bukan macam masuk kedai kopi, Wak. Ada pintu, ada izin, ada salam. Dalam ajaran Islam pun sudah terang benderang, rumah itu ada “auratnya.” Bahkan anak sendiri pun tak boleh sembarang terobos kamar orang tuanya pada waktu-waktu tertentu. Ini menandakan bahwa rumah bukan sekadar bangunan, tapi ruang kehormatan.

Adab bertamu itu bukan teori tinggi, tapi amal harian. Ketuk pintu, beri salam, tunggu jawaban. Kalau sudah tiga kali salam tak berjawab, jangan pula kita berdiri macam tiang listrik, terconggok saja menunggu arus, balik saja dengan hati lapang. Itu bukan ditolak, itu diajarkan cara menjaga harga diri, dua-dua pihak selamat, tak ada yang tersinggung.

Kalau berdiri di depan pintu, jangan pula pasang mata macam CCTv. Berdirilah di samping, sebelah kiri atau kanan, biar pandangan tak liar menembus dapur orang. Kita ini tamu, bukan auditor rumah tangga. Datang pun tengok waktu, Wak, jangan pula Subuh-subuh datang bawa cerita, siang hari ganggu orang istirahat, atau malam selepas Isya baru teringat silaturahmi. Itu bukan bertamu, itu menguji kesabaran namanya tu, parang bangkung kesudah yang menyambut, Wak.

Satu lagi, Wak, kalau sudah duduk, jangan pula lupa berdiri. Bertamu ada batasnya. Jangan sampai tuan rumah sampai sangap tiga kali, kita masih cerita dari hulu ke hilir. Dalam Islam pun disebut, kalau menginap, paling elok tiga hari. Lebih dari itu, jangan sampai jadi “penghuni sementara yang tak diundang.”

Ingat juga ya, Wak. Kalau dihidang makanan, makanlah dengan adab. Jangan pula lauk disindir, sambal dikritik. Lidah kita ini kadang lebih tajam dari pisau dapur. Padahal, yang dihidang itu bukan sekadar makanan, tapi niat baik dan penghormatan.

Dalam bertamu menjaga pandangan itu wajib karena rumah orang bukan tempat kita menjelajah dengan mata. Jangan intip, jangan selongkar, jangan pula pura-pura tersesat sampai ke kamar belakang. Itu bukan tamu, itu hampir jadi mate-mate.

Dalam bertamu, bila urusan sudah selesai, pamitlah dengan santun. Ucapkan terima kasih, doakan tuan rumah. Biar langkah kita pergi meninggalkan kesan baik, bukan jejak beban. Orang besar pun tahu adat ini, Wak. Bila hendak datang ke rumah adat, memberi tahu lebih dulu itu tanda beradab. Itu bukan sekadar prosedur, tapi salam yang berjalan sebelum kaki melangkah.

Di situlah makna tamu itu raja, tapi raja yang tahu diri. Kalau tamu datang dengan adat, tuan rumah menyambut dengan mulia. Tapi kalau tamu datang dengan angin, jangan heran kalau disambut dengan dinding.

Ingat, Wak, status “raja” itu bukan mahkota tetap. Ia datang dengan syarat yakni, tahu diri, tahu batas, tahu adat. Kalau buat kecuh dan melunjak, hilanglah takhta. Tuan rumah pun punya kewajiban, tapi bukan berarti harus menanggung semua perangai tamu.

Akhirnya, hubungan tamu dan tuan rumah itu ibarat menari zapin, harus seimbang langkahnya. Satu memberi hormat, satu memberi tempat. Kalau dua-dua tahu diri, rumah jadi tempat silaturahmi. Kalau tidak, ya jadi cerita panjang di kedai kopi esok hari.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Di Balik Jendela Bersama Buku Jurnal

9 Mei 2026 - 00:15 WIB

Koperasi Serasi Sepadu Jaya dan PT Priatama Riau Gelar Penanaman Perdana Kebun Plasma KKPA di Rupat

7 Mei 2026 - 16:46 WIB

Besok, Peluncuran Buku Karmila Sari Digelar di Balai Adat LAMR Riau

7 Mei 2026 - 13:40 WIB

Wilayah Perbatasan Indonesia

7 Mei 2026 - 10:28 WIB

Langkah Terakhir Menuju Pucuk BSP di Tangan Bupati Siak

6 Mei 2026 - 14:02 WIB

Trending di Pekanbaru