Menu

Mode Gelap
Anies Jadi Dewan Penasihat Lembaga Strategis di Riyadh Smokel Empat Pelaku Penyalahgunaan Sabu Diamankan Satresnarkoba Polres Bengkalis di Bathin Solapan Polsek Rupat Utara Ungkap Kasus Sabu di Kebun Karet, Tiga Pelaku Ditangkap Berawal dari Laporan Warga, Polsek Siak Kecil Ringkus Pengguna Sabu di Sungai Linau Uang, Oh Uang…

Riau

Uang, Oh Uang…

badge-check


					Hang Kafrawi Perbesar

Hang Kafrawi

Oleh Hang Kafrawi

Di zaman kenen (kini), banyak hubungan manusia runtuh disersebabkan uang. Nampaknya uang menjadi hal paling penting dalam kehidupan manusia modern. Tak ada uang, tak ada kehormatan, tak ada tegur sapa. Uang menjadi sumber perkelahian suami dan istri, pertengkaran saudara kandung, anak melawan orang tua, bahkan pembunuhan, sering bermula dari perkara uang. Uang yang seharusnya menjadi alat untuk mempermudah kehidupan perlahan berubah menjadi pusat kehidupan. Manusia tidak lagi mengendalikan uang, tetapi justru dikendalikan olehnya.

Dahulu, orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hari ini, banyak orang hidup demi mengejar pengakuan sosial yang dibangun melalui uang. Nilai manusia diukur dari apa yang dimilikinya seperti memiliki rumah besar, kendaraan mewah, pakaian mahal, dan gaya hidup yang dipertontonkan. Kehormatan tidak lagi lahir dari budi dan ilmu, melainkan dari kemampuan memamerkan kemewahan. Celaka pandangan ini terus menjalar dan menyala di kehidupan masyarakat.

Media sosial mempercepat perubahan itu. Kehidupan manusia berubah menjadi panggung pertunjukan. Orang-orang berlomba menampilkan kebahagiaan, meskipun di balik layar hidup mereka berantakan. Kemewahan dipamerkan tanpa henti, sementara mereka yang melihat perlahan merasa tertinggal. Dari sinilah lahir rasa iri, rendah diri, dan keinginan untuk tampak lebih daripada orang lain. Bertambah buruk, hal ini dipertontonkan oleh tokoh-tokoh masyarakat dari politikus, tenaga pendiddik sampai tokoh agama. Tak dapat lagi hendak berpegang kemana.

Masalahnya, tidak semua orang memiliki kemampuan ekonomi untuk mengikuti perlombaan tersebut. Tekanan sosial membuat banyak orang takut terlihat gagal. Akhirnya jalan tercepat dipilih yaitu dengan berhutang. Kehadiran pinjaman online membuat segalanya terasa mudah. Dengan beberapa sentuhan jari, uang bisa cair dalam hitungan menit, tetapi kemudahan itu sering kali menyimpan jerat yang mematikan. Banyak orang awalnya meminjam untuk kebutuhan kecil, lalu perlahan terjebak dalam bunga dan tagihan yang terus membesar. Hutang menjadi lingkaran yang sulit diputus. Orang bekerja bukan lagi untuk membangun kehidupan, tetapi sekadar menutup cicilan demi cicilan. Tidur tidak tenang, pikiran dipenuhi kecemasan, dan hubungan keluarga perlahan retak.

Persoalan tidak berhenti pada hutang. Di tengah tekanan ekonomi dan budaya ingin cepat dapat uang, banyak orang mulai mencari jalan instan untuk mendapatkan uang. Dari sinilah judi online tumbuh seperti wabah baru. Judol dipromosikan seolah-olah menjadi jalan pintas menuju kekayaan. Dengan modal kecil dan janji kemenangan besar, banyak orang tergoda untuk mencoba. Padahal judi online bukan jalan keluar, melainkan perangkap yang sangat dalam. Judol memanfaatkan harapan dan keputusasaan manusia sekaligus. Orang yang kalah akan terus bermain karena ingin mengembalikan uangnya. Sementara yang menang sesekali justru semakin ketagihan karena merasa bisa mendapatkan lebih banyak lagi. Akhirnya manusia masuk ke dalam lingkaran candu yang sulit dihentikan.

Paling mengerikan, judi online tidak hanya merusak ekonomi, tetapi juga menghancurkan mental dan hubungan sosial. Banyak keluarga hancur karena gaji habis untuk judi. Banyak anak kehilangan nafkah karena orang tuanya kecanduan. Bahkan tidak sedikit orang nekat mencuri, menipu, atau melakukan kejahatan demi menutup kekalahan berjudi. Ironisnya, semua itu sering bermula dari keinginan sederhana, ingin hidup lebih baik. Namun ketika keinginan itu tidak lagi dengan kesabaran dan kesadaran, manusia mudah tergoda oleh jalan pintas. Di zaman yang memuja hasil instan, kerja keras terasa lambat, sedangkan judi tampak menjanjikan keajaiban. Padahal keajaiban semacam itu sering berakhir pada kehancuran.

Dalam banyak rumah tangga, uang berubah menjadi sumber pertengkaran paling utama. Cinta yang dahulu penuh kehangatan menjadi dingin karena tekanan ekonomi. Suami dan istri saling menyalahkan. Anak-anak tumbuh dalam suasana tegang. Di titik tertentu, uang bukan lagi alat memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi racun yang merusak ketenteraman keluarga. Lebih tragis lagi, banyak manusia mulai kehilangan rasa cukup. Berapa pun yang dimiliki terasa kurang. Ketika melihat orang lain tampil lebih mewah, muncul dorongan untuk mengejar hal yang sama. Akhirnya hidup dihabiskan dalam perlombaan yang tidak pernah selesai. Manusia terus berlari, tetapi tidak tahu ke mana sebenarnya ia ingin sampai.

Dalam filsafat modern, Karl Marx pernah mengingatkan bahwa manusia bisa terasing oleh sistem ekonomi yang diciptakannya sendiri. Sementara Jean Baudrillard melihat masyarakat modern hidup dalam budaya citra dan konsumsi. Orang membeli bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin terlihat memiliki nilai lebih dibanding orang lain. Padahal dalam banyak tradisi lama, termasuk budaya Melayu, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh harta. Orang dihormati karena adab, amanah, dan budi pekerti. Kekayaan bukan sesuatu yang harus dipamerkan. Bahkan rasa malu dianggap lebih tinggi nilainya daripada kemewahan. Nampaknya nilai-nilai itu perlahan terkikis oleh budaya konsumsi modern yang menjadikan penampilan sebagai ukuran utama.

Menyedihkan memang, manusia modern sering mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi mempertahankan citra. Mereka tersenyum di media sosial, tetapi menangis dalam kenyataan. Mereka tampak kaya, tetapi hidup dalam hutang. Mereka terlihat bahagia, tetapi kehilangan ketenangan batin. Semua tersebab keinginan untuk diakui.

Dalam Islam, harta tidak pernah dianggap musuh. Nabi Muhammad juga berdagang dan mengajarkan pentingnya bekerja. Islam mengingatkan bahwa harta hanyalah titipan. Ketika manusia mulai mencintai dunia secara berlebihan, maka lahirlah kerakusan, ketidakadilan, dan hilangnya rasa kemanusiaan.

Hari ini, manusia tidak hanya diperbudak oleh uang, tetapi juga oleh rasa takut terlihat miskin. Tersebab hal ini, banyak orang memaksakan gaya hidup di luar kemampuan. Mereka membeli bukan karena perlu, tetapi karena takut dianggap rendah. Dari sinilah hutang tumbuh subur, dan dari hutang itulah banyak tragedi kehidupan bermula.

Mungkin masalah terbesar manusia modern bukan kurangnya uang, tetapi hilangnya kesadaran tentang makna hidup. Sebab ada orang sederhana yang hidup tenang, dan ada pula orang kaya yang setiap malam dipenuhi kecemasan. Uang memang penting, tetapi ketika ia menjadi pusat kehidupan, manusia perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Dapat dilihat yang menghancurkan manusia sering kali bukan kemiskinan, melainkan ketidakmampuan mengendalikan hasratnya. Dan di zaman yang mengagungkan penampilan ini, menjaga diri agar tidak menjadi budak uang mungkin adalah salah satu perjuangan paling berat manusia modern. Nampaknya kekuasaan disebabkan uang semakin merajalela di tengah kehidupan masyarakat masa kini. Kita tinggal memilihnya…

Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak.

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Smokel

17 Mei 2026 - 09:09 WIB

Adat Duduk

16 Mei 2026 - 07:27 WIB

Menengok Program Prioritas Kementrian Pendidikan Nasional: Dari Revitalisasi Sekolah hingga Tunjangan Guru

16 Mei 2026 - 07:13 WIB

Provinsi Kepri Terbentuk Karena Perjuangan Bersama

16 Mei 2026 - 06:41 WIB

Dari Byzantium, Konstantinopel hingga Istanbul

16 Mei 2026 - 00:10 WIB

Trending di Minda