RIAU ini agaknya sedang diuji, Wak. Belum habis kopi di warung ditenggak, sudah datang lagi kabar pemimpin berurusan dengan penegak hukum. Orang kampung sampai cakap: kalau macam ini terus, yang lebih laris bukan baliho calon, tapi berita penangkapan.
Orang tua-tua pun menggeleng sambil mengusap dada. “Tak pakai sudah agaknya.” Padahal dari kecil semua diajar yang sama. Emak mengajarkan malu, ayah mengajarkan amanah, guru mengajarkan ilmu, ustaz mengajarkan agama, datuk mengajarkan adat.
Maka rasanya tak elok kalau dibilang mereka kurang ajar. Kalau kurang ajar, tak mungkin pandai memberi salam, pandai berpantun, pandai pula berpidato tentang integritas. Yang nampak justru: berlebih ajar. Sampai-sampai merasa dirinya paling pandai, paling kuat, dan paling kebal.
Bila penyakit itu datang, yang halal dan haram pun mulai berbancuh macam gulai kenduri dimasuki sudu semua orang. Mata masih melihat, tapi hati sudah rabun. Telinga masih mendengar, tapi petuah masuk telinga kiri, keluar ikut pintu belakang.
Kalau sudah begitu, mungkin betul kata orang tua, Bumi Lancang Kuning ini perlu dimandikan tolak bala. Tapi jangan cuma kampung yang dimandikan. Hati para pemimpin pun elok direndam dulu dalam air malu, disabuni dengan amanah, lalu dijemur di bawah terik rasa takut kepada Tuhan.
Sultan-sultan Melayu dahulu meninggalkan teladan yang tinggi. Nama baik lebih dijaga daripada harta. Marwah lebih mahal daripada emas. Sebab orang beradat tahu, harta yang dibawa mati hanya tiga lapis kain kafan, bukan satu truk dokumen aset.
Sayangnya, ada juga yang mengira jabatan itu macam kebun sawit warisan. Begitu duduk di kursi empuk, mulailah sibuk menghitung apa yang boleh dibawa balik, bukan apa yang boleh ditinggalkan sebagai jasa.
Padahal pantun sudah tak terhitung banyaknya. Zapin sudah tak tahu berapa kali dipentaskan. Ceramah agama tiap Jumat tak pernah absen. Bahkan tulisan di dinding kantor pun berbunyi “Melayani dengan Integritas”. Cuma entah kenapa, yang dibaca hanya kata “melayani”, sedangkan “integritas” mungkin tertutup pigura.
Lucunya lagi, sewaktu baru dilantik, senyum sepanjang Sungai Siak. Tangan tak putus-putus melambai. Janji pun bertaburan macam bunga di pelaminan. Tetapi ketika diperiksa aparat, senyumnya mengecil, lambaiannya hilang, yang tinggal hanya kalimat, “Mari kita hormati proses hukum.”
Orang kampung sebenarnya tak meminta pemimpin jadi malaikat, Wak. Mereka cuma berharap jangan jadi cerita lucu di kedai kopi. Sebab kalau setiap musim ada saja yang tersandung perkara, lama-lama rakyat lebih hafal pasal hukum korupsi daripada program pembangunan.
Tunjuk ajar Melayu sudah lama mengingatkan, bila menjadi orang besar, besarkan dahulu budi pekerti. Bila diberi kuasa, kecilkan dahulu nafsu diri. Kuasa tanpa malu ibarat perahu bocor; mula-mula tenang, lama-lama tenggelam juga.
Sebab itu, jangan pernah menganggap petuah adat sekadar hiasan pidato. Pantun bukan hanya pemanis acara. Nasihat datuk bukan sekadar pembuka sambutan. Semua itu adalah pagar agar kita tidak tersesat ketika kekuasaan mulai membuat kepala terasa lebih tinggi daripada langit.
Mudah-mudahan selepas ini tak adalah lagi orang berkata, “Tak pakai sudah Riau ini.” Biarlah yang tak pakai itu hanya baju lama yang sudah lusuh. Adat, amanah, malu, dan marwah, jangan sekali-kali ditanggalkan. Sebab kalau semuanya ikut dilepas, yang tersisa bukan lagi pemimpin, melainkan pelajaran bagi generasi yang akan datang.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







