Oleh Hang Kafrawi
Penghambat diri untuk lebih maju disebabkan kita selalu berpikir pendapat orang tentang diri kita. Berpikir tentang pendapat orang kepada kita seperti satu penjara yang tidak memiliki tembok, tetapi mampu mengurung begitu banyak kemampuan yang kita miliki. Hal ini harus kita sadari dan harus cepat-cepat kita ubah sebelum pandangan ini menjadi kuburan krativitas kita.
Ironisnya, semakin seseorang memiliki mimpi besar, semakin besar pula kemungkinan ia masuk ke dalam penjara pendapat orang terhadap kita. Seorang penulis takut tulisannya dianggap buruk. Seorang pelukis takut lukisannya tidak dipahami. Seorang dosen takut gagasannya dianggap biasa. Seorang seniman takut karyanya ditertawakan. Ketakutan itu perlahan menjelma menjadi keraguan, dan keraguan yang terus dipelihara berubah menjadi kegelapan. Banyak karya akhirnya tidak pernah lahir, bukan karena tidak ada kemampuan, melainkan karena terlalu banyak memikirkan bagaimana orang akan menilainya.
Dapat dilihat, setiap karya besar dalam sejarah hampir selalu lahir dari keberanian untuk berbeda. Tidak ada pembaru yang memulai langkahnya dengan jaminan bahwa semua orang akan setuju. Sebaliknya, hampir semua gagasan baru mula-mula disambut dengan keraguan, bahkan penolakan. Sejarah tidak bergerak oleh orang yang selalu menunggu persetujuan, tetapi oleh mereka yang berani melangkah meskipun belum mendapatkan tepuk tangan.
Hari ini, kita hidup di zaman ketika pendapat orang lain terasa semakin dekat. Media sosial membuat setiap karya dapat segera menerima pujian, kritik, atau bahkan cemoohan. Jumlah tanda suka, komentar, dan jumlah pengikut perlahan berubah menjadi ukuran nilai diri. Tanpa disadari, kita mulai menciptakan bukan karena ingin menyampaikan sesuatu yang penting, tetapi karena ingin mendapatkan penerimaan. Akibatnya, proses berkarya berubah dari ruang kebebasan menjadi ruang kecemasan.
Paling menyedihkan bukanlah ketika karya dikritik, lebih menyedihkan adalah ketika suatu karya tidak pernah dibuat karena penciptanya sudah kalah sebelum memulai. Kita sibuk membayangkan penilaian orang lain sampai lupa bahwa setiap karya memang memiliki takdirnya sendiri. Ada karya yang langsung diterima. Ada yang baru dihargai bertahun-tahun kemudian. Ada pula yang hanya mengubah hidup segelintir orang, tetapi perubahan itu sangat berarti.
Filsafat Melayu manusia diajarkan untuk menjaga marwah. Marwah bukanlah pujian yang diberikan orang lain, melainkan kehormatan yang lahir dari kesetiaan kepada nilai yang diyakini. Orang yang menjaga marwah tidak hidup untuk mengejar tepuk tangan. Ia hidup untuk menjaga amanah yang dipercayakan kepadanya. Oleh sebab itu, ukuran keberhasilannya bukan seberapa ramai orang memujinya, melainkan seberapa jujur ia menjalankan tanggung jawabnya.
Kejujuran dalam berkarya sering kali lebih sulit daripada menghasilkan karya yang disukai banyak orang. Karya yang jujur menuntut keberanian untuk memperlihatkan kegelisahan, keyakinan, bahkan kerentanan diri. Sebaliknya, karya yang hanya mengejar penerimaan sering berakhir menjadi bayangan dari keinginan orang lain. Ia mungkin mendapat pujian sesaat, tetapi kehilangan jiwanya.
Alam memberikan pelajaran yang sederhana. Pohon tidak tumbuh untuk dipuji. Sungai tidak mengalir agar dikagumi. Matahari tidak terbit untuk mendapatkan tepuk tangan. Mereka menjalankan perannya karena itulah hakikat keberadaan mereka. Justru karena kesetiaan itulah kehidupan dapat berlangsung. Manusia sering kali menjadi satu-satunya makhluk yang lupa pada hakikatnya karena terlalu sibuk memikirkan pandangan pendapat orang lain.
Bukankah pohon meranti tetap menjulang meskipun tidak ada seorang pun yang memotretnya? Bukankah bunga hutan tetap mekar meskipun tidak pernah masuk ke halaman media sosial? Alam mengajarkan bahwa nilai sebuah keberadaan tidak ditentukan oleh seberapa banyak ia dilihat, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang ia berikan.
Sering kali kita mengira bahwa semua orang sedang memperhatikan kita. Padahal kenyataannya, setiap orang juga sedang sibuk memikirkan dirinya sendiri. Ketakutan terhadap penilaian orang lain kadang jauh lebih besar daripada penilaian itu sendiri. Kita membangun bayangan yang lebih menakutkan daripada kenyataan. Bayangan itu lalu menguras keberanian sedikit demi sedikit.
Berkarya seharusnya menjadi bentuk syukur atas kemampuan yang diberikan Tuhan. Setiap gagasan adalah amanah. Setiap bakat adalah titipan. Menyembunyikannya karena takut dikritik sama saja dengan membiarkan benih tidak pernah ditanam hanya karena khawatir pohon itu tidak tumbuh sempurna. Padahal tidak ada hutan yang lahir dari benih yang terus disimpan.
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengejar persetujuan semua orang. Tidak ada satu pun karya yang dicintai oleh semua manusia. Bahkan kebenaran pun sering ditolak oleh sebagian orang. Jika demikian, mengapa kita harus menunda langkah hanya karena berharap semua orang akan setuju? Mungkin yang perlu kita lakukan bukan menghilangkan rasa takut, melainkan berjalan bersama rasa takut itu. Keberanian bukanlah ketiadaan ketakutan, melainkan kemampuan untuk tetap melangkah meskipun ketakutan masih ada.
Teruslah berkarya. Bukan untuk menjadi sempurna, bukan pula untuk menyenangkan semua orang. Berkaryalah karena itu adalah cara paling jujur untuk mengatakan kepada dunia bahwa kita pernah hidup, pernah berpikir, dan pernah berusaha meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama. Di situlah kebebasan seorang pencipta bermula, ketika ia tidak lagi diperbudak oleh bayang-bayang penilaian, melainkan dipandu oleh hati nurani dan keyakinannya sendiri.
Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB UNILAK, Pekanbaru, Riau.








