Menu

Mode Gelap
Usai Limbah, SPR MoU dengan Koperasi Bidik Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit dan Komuditi Pengan Keren, MoU Terkait Pengelolaan Limbah dengan PT. TMC, SPR dapat 20 Persen Keuntungan untuk PAD Riau Hafizha Rahmadhani Pastikan Pembangunan Sarana Sanitasi dan Air Minum Tepat Sasaran Hotspot Karhutla di Bengkalis Menurun, Terpantau Satu Titik Kategori Medium ASN Muda Ramai Tinggalkan Birokrasi Prakiraan Cuaca Kepri Selasa, 4 Agustus 2026: Tanjungpinang hingga Batam Didominasi Berawan, Natuna dan Anambas Berpotensi Diguyur Hujan

Minda

Mewarisi Kartini: Jalan Perempuan Muslim dari Kegelapan ke Terang

badge-check

Mewarisi Kartini: Jalan Perempuan Muslim dari Kegelapan ke Terang Perbesar

Oleh: Andryan Rahmana Riswandi

SETIAP peringatan Hari Kartini, kita mengenang sosok perempuan hebat yang tidak hanya menjadi simbol emansipasi, tetapi juga pelopor kesadaran akan pentingnya pendidikan dan kebebasan berpikir bagi perempuan. Kartini tidak memberontak dengan senjata, tetapi dengan pena dan gagasan. Ia membuka jalan dari kegelapan menuju terang, dari ketertinggalan menuju kemajuan. Dalam konteks ini, ungkapan legendarisnya “Habis gelap, terbitlah terang” bukan sekadar kalimat puitis, melainkan gambaran nyata dari perjuangannya.

Menariknya, semangat yang dibawa Kartini memiliki keselarasan mendalam dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 257, Allah SWT berfirman:
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya…”

Ayat ini menegaskan bahwa keimanan membawa manusia keluar dari berbagai bentuk kegelapan: kebodohan, ketidakadilan, penindasan, dan kejumudan. Cahaya yang dimaksud bukan sekadar terang secara fisik, melainkan juga cahaya ilmu, keadilan, dan kesadaran spiritual. Inilah yang diperjuangkan Kartini mengangkat derajat perempuan melalui pendidikan agar mereka mampu berpikir, memilih, dan berperan aktif dalam kehidupan.

Kartini bukanlah sosok yang menentang nilai agama. Justru, dalam banyak suratnya, ia mengungkapkan ketertarikan mendalam terhadap Islam, bahkan sempat menyampaikan keinginan untuk bisa membaca Al-Qur’an dengan pemahaman yang lebih baik. Ia melihat bahwa Islam sejatinya menjunjung tinggi perempuan, sebagaimana tergambar dalam banyak ayat Al-Qur’an dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Perjuangan Kartini hendaknya kita lanjutkan bukan sekadar sebagai simbol seremoni tahunan, melainkan sebagai inspirasi nyata untuk membangun masyarakat yang berkeadaban, inklusif, dan tercerahkan. Terutama bagi generasi muda Muslimah, nilai-nilai yang diwariskan Kartini dan petunjuk ilahi dari Al-Qur’an seharusnya menjadi bahan bakar untuk terus bergerak, belajar, dan memberi manfaat bagi sesama.

Saatnya kita pahami bahwa cahaya dalam ayat “minadzulumati ilan-nur” bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah panggilan zaman, untuk setiap jiwa yang ingin bangkit dari gelapnya ketertinggalan menuju terang peradaban.

Tentang Penulis:
Andryan Rahmana Riswandi adalah seorang anak muda dari Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, pemerhati isu sosial keislaman, dan aktif dalam kegiatan sosial keislaman dan literasi. Ia percaya bahwa Islam dan pendidikan adalah dua kunci utama dalam membangun peradaban yang berkeadilan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Belah Rumah

2 Agustus 2026 - 05:47 WIB

Sabut Batu

1 Agustus 2026 - 07:55 WIB

Seharusnya Seluruh Jalan Menuju Allah

31 Juli 2026 - 07:52 WIB

Peran Indonesia dalam Komunitas ASEAN 

30 Juli 2026 - 15:19 WIB

Laos Menuju ASEAN Tahun 2045

27 Juli 2026 - 13:18 WIB

Trending di Minda