RiauKepri.com, PEKANBARU- Rabu pagi yang tampak biasa di Mapolda Riau tiba-tiba berubah menjadi momen yang tak akan dilupakan begitu saja oleh Kapolresta Pekanbaru, Kombes Jeki Rahmat Mustika. Apa pasal?
Begini ceritanya. Di sebuah ruangan seluas kira-kira 4×6 meter, empat operator sibuk memantau layar-layar berisi laporan dari jagat maya. Mereka adalah garda terdepan dalam program Riau Damai Anti Cyber Crime, disingkat RADAR, sebuah terobosan baru Polda Riau dalam merespons cepat laporan masyarakat, terutama di era digital.
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan pagi itu tengah melakukan pengecekan langsung ke ruang Command Center. Sambil berdiri di belakang operator, matanya tajam mengamati lalu lintas laporan media sosial dan berita daring yang masuk.
Tiba-tiba, muncul satu laporan, kemacetan panjang di Jalan Jenderal Sudirman, tepat di bawah fly over. Kapolda langsung meminta petugas mengecek CCTV. Di layar, tampak sebuah mobil minibus mogok di tengah jalan, membuat arus lalu lintas tersendat parah. Namun yang lebih mengganggu, tak terlihat satupun petugas lalu lintas di lokasi.
Seketika suasana ruang berubah. Kombes Jeki, yang sebelumnya tenang berdiri di pinggir ruangan, tampak gelisah. Ia melangkah maju, mendekati layar, sambil memegang ponsel erat-erat. Tangannya lincah mengetik, menelepon, mengirim pesan. Tapi tak ada respons cepat dari bawahannya. Lima menit berlalu. Delapan menit. Sepuluh menit.
Wajah Jeki menegang. Matanya tertunduk pada layar ponsel, menjadi kaku. Dia tau, di belakangnya berdiri Kapolda yang belum berkata apa-apa, tapi sorotan matanya cukup bicara, “Kenapa belum ada tindakan?”
Hening terasa menggantung. Hingga menit ke-15, barulah dua anggota polisi lalu lintas melintas di layar CCTV, mengendarai motor patroli. Mereka segera mengevakuasi mobil mogok itu dan mengurai kemacetan.
Arus kembali lancar. Wajah-wajah tegang di ruangan perlahan melunak. Satu per satu pejabat Polda tersenyum, bahkan bertepuk tangan. Kombes Jeki menoleh perlahan ke belakang, menatap Kapolda, lalu tersenyum kecil, lega berselimut malu dan khawatir.
Kapolda tak langsung menegur. Ia bicara tenang namun tegas kepada seluruh jajaran.
“Kita sudah buat terobosan kreatif, Program Radar. Ini bukan sekadar pemantauan, ini soal respons cepat, soal hadirnya negara di tengah masyarakat,” ujar Irjen Herry.
Program Radar, sambung Kapolda, bukan hanya alat, tapi cermin bagi polisi. Ia tak hanya memantau masyarakat, tapi juga membuat masyarakat memantau polisi, kapan mereka responsif, kapan mereka terlambat.
Radar, katanya, juga akan menjadi sarana edukasi tentang kejahatan digital, cara mencegahnya, hingga membangun kesadaran kolektif soal keamanan siber.
“Masyarakat juga bisa lapor lewat media sosial. Kritik dan masukan, baik positif maupun negatif, akan kami terima,” ucap Herry.
Hari itu, sebuah mobil mogok telah membuat satu kota macet, seorang Kapolresta panik, dan satu institusi belajar lagi soal kecepatan merespons. Dan di ruang 4×6 meter itu, tepuk tangan tak selalu datang karena keberhasilan. Kadang, ia hadir sebagai penanda, bahwa kecemasan telah berlalu dan pelajaran baru dimulai. (RK1)








