Oleh Hang Kafrawi
Langit kampung mulai menghitam oleh gumpalan awan. Angin dari sungai naik pelan-pelan, membawa bau lumpur dan kenangan. Di atas bangku kayu tua, Atah Roy duduk bersandar, menatap jauh ke kaki lanit, seperti ingin membaca kembali masa lalu yang terbuang.
Sudah lama Atah Roy hidup di kampung ini. Berbagai peritiwa telah dilaluinya, menyaksikan pohon-pohon ditumbangkan, air sungai dikeringkan, dan budi pekerti ditinggalkan. Namun yang paling menyakitkan hati Atah Roy bukan perubahan alam, melainkan perubahan manusia, terutama seorang bernama Darus.
Dulu, Darus datang ke rumahnya dengan kepala tunduk dan mata penuh harap. Anak muda yang tak banyak cakap tapi pandai menyerap hikmah. Atah Roy menuntunnya: dari membaca kitab, mengolah kata, sampai menyusun gagasan untuk kampung.
Seiring berjalannya waktu, Darus berubah. Ia seakan tercabut dari akar. Hal ini terjadi ketika Darus menjawat Ketua Lembaga Kampung, ia seperti tak menoleh lagi ke belakang. Atah Roy tak pernah minta dibalas. Atah Roy tahu betul, dalam hidup ini, air yang diminum tak selalu ingat dari mana asalnya. Namun yang tak dapat ditahan Atah Roy adalah ketika Darus mulai memburukkan namanya kepada orang kampung. Setiap usulan Atah Roy dipatahkan. Setiap gagasan diserong seolah menyesatkan. Darus yang dulu memuji, kini menyindir. Darus yang dulu bersandar, kini mencaci bak musuh bebyutan.
Petang itu, selesai musyawarah kampung, warga mulai balik. Hanya tinggal Atah Roy dan Darus di pelantar balai. Atah Roy dengan santai mendekati Darus yang sedang sibuk mencoret-coret di atas kertas putih.
“Darus…” Semenjak bila engkau pandai mematahkan lidah orang yang dulu kau ikuti jejaknya?” kata Atah Roy, suaranya tenang seperti air surut, tapi matanya tajam.
“Atah, dunia sudah berubah. Sekarang bukan musim berpantun lagi. Orang tak perlu lagi mimpi-mimpi kampung yang tak laku dijual,” jawab Darus selambe sambil tetap menulis.
Atah Roy menunduk sejenak, lalu menjawab lambat-lambat.
“Kalau mimpi kampung ini tak laku, jangan pula engkau menganggap orang tidak punya gagasan cemerlang. Janganlah lupe di mane kite pernah berdiri,” ucap Atah Roy dengan suara berat.
“Janganlah Atah merasa diri penyelamat. Saya sekarang bukan Darus yang dulu lagi, Tah. Saya punya jabatan, tanggung jawab, dan jalur sendiri,” suara Darus terkesan sombong.
Atah Roy berdiri lurus. Sorot matanya tak beranjak dari wajah Darus. “Memang benar engkau bukan Darus yang dulu. Darus yang dulu menegakkan suara rakyat, Darus sekarang penjilat siape yang berkuase. Aku tak risau kalau engkau tak anggap aku ada, tapi yang tak bisa aku telan, engkau tabur fitnah atas nama harga diri sendiri. Engkau cabik marwah orang yang pernah membetul tegak engkau!” suara Atah Roy meninggi.
“Atah, Atah…, orang berubah, Tah. Atah harus pandai membace zaman, kalau tidak Atah akan tetap menjadi kain buruk!” suara Darus ikut meninggi.
Atah Roy menarik nafas panjang dan membalikkan badannya dari arah Darus. Dengan tatapan tajam memandang ke arah jalan, suara Atah Roy terdengar berat. “Aku memang tua, tapi tak buta arah.Dan perlu engkau ingat Darus, aku tak pernah ganti arah hanya karena jalan baru terlihat lebih licin. Engkau naik ke atas dengan tangga yang aku buatkan, namun kini engkau menendang tangga itu, sebab kau anggap tak berguna lagi. Tak mengapa, Darus. Aku tidak akan menarik tangga itu, biarlah tetap di situ. Suatu hari nanti, saat sayapmu luka, engkau akan mencarinya kembali.”
Darus terdiam. Matanya memerah, tapi mulutnya tak lagi bisa bercakap. Darus tahu, tak ada kata yang bisa melawan kebenaran yang diucapkan dengan marwah. Dan Darus tahu betul sifat Atah Roy bahwa marwah tak akan dapat ditukar dengan apapun juga. Marwah adalah nyawa bagi Atah Roy,
Atah Roy melangkah perlahan meninggalkan pelantar. Langkahnya ringan, tapi beban di dadanya terasa ringan. Sambil menatap langit yang semakin gelap, Atah Roy berbisik pada dirinya sendiri, “Kalau kite dibuang orang, jangan kite buang dia. Marwah bukan soal siape yang betul, tapi siapa tetap menjaga budi walau dilukai.”
Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak







