Menu

Mode Gelap
Sambut Ramadhan 1447 H, PKK dan Kader Posyandu Isi Tausiyah dan Salurkan Paket Sembako Dua Pria Nekat Garap Hutan Lindung TWA Sungai Dumai Jadi Kebun Sawit Polsek Rangsang Bantu Korban Kebakaran Rumah Hanya Tiga Perusahaan Resmi Tambang Pasir di Bintan, Selain Itu Illegal Jemput Bola ke Pulau-Pulau, Imigrasi Selatpanjang Luncurkan Program Limau 1500 Paket Habis Terjual dalam Pasar Murah AMT di Meranti

Minda

Menjadi Pemimpin Bukan Menunggu Waktu, Tapi Menjemput Tanggung Jawab

badge-check


					Belajar Demokrasi yang berkeadilan di SDIT Cendekia Karimun Perbesar

Belajar Demokrasi yang berkeadilan di SDIT Cendekia Karimun

Oleh Andryan Rahmana Riswandi

 

Demokrasi bukan hanya sistem pemerintahan ia adalah cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Ia hidup bukan hanya di gedung parlemen, tetapi juga di ruang kelas, di lingkungan rumah, hingga di organisasi anak muda. Maka, mengajarkan demokrasi sedari dini bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Sebagai seseorang yang pernah menjabat sebagai Ketua OSIS saat SMP, Wakil Presiden Badan Eksekutif Siswa Terpadu (BEST) saat SMA, dan bahkan dipercaya menjadi Ketua Umum Organisasi Generasi Emas Indonesia yang kala itu saya pimpin saat masih SMA, namun mengoordinasikan sekitar 30 orang yang mayoritas mahasiswa saya merasakan langsung bahwa demokrasi bukan sekadar teori di buku, melainkan praktik nyata yang menumbuhkan tanggung jawab, empati, serta keberanian menyuarakan kebaikan.

Mengapa demokrasi harus diajarkan sejak dini? Karena masa depan bangsa ditentukan oleh karakter warganya. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan demokratis akan terbiasa berdialog, menghargai perbedaan, menyampaikan pendapat tanpa memaksa, serta menerima kekalahan dengan lapang dada. Mereka bukan hanya menjadi pemimpin masa depan, tetapi juga penjaga nilai-nilai kebangsaan hari ini.

Fun fact, saat saya memimpin Generasi Emas Indonesia, saya melihat sendiri bagaimana demokrasi memperkuat tim: keputusan diambil bersama, konflik diselesaikan lewat musyawarah, dan perbedaan dijadikan kekuatan. Itulah esensi demokrasi bukan saling mengalahkan, tapi saling menguatkan.

Namun hari ini, kita dihadapkan pada tantangan besar: kemunduran demokrasi. Banyak yang melupakan substansi demokrasi dan lebih sibuk dengan tampilan luar. Demokrasi kita tidak boleh hanya sekadar prosedural memilih lima tahun sekali tetapi harus substantif, hidup di tengah masyarakat.

Sebagai generasi muda, kita harus menjaga kualitas demokrasi di manapun kita berada. Di organisasi, di sekolah, di kampus, bahkan di dunia maya. Jangan biarkan demokrasi hanya menjadi slogan. Kita harus menjadi teladan dalam bersikap adil, terbuka, dan menjunjung tinggi suara rakyat sekecil apa pun suara itu.

Untuk adik-adik yang masih duduk di bangku sekolah: jangan takut untuk berpendapat. Jadilah aktif dalam organisasi, ajukan ide, dan belajar menerima perbedaan. Demokrasi itu seperti otot harus dilatih sejak dini agar kuat saat dewasa nanti.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Pak Anies Baswedan, “Jika kita ingin melihat masa depan suatu bangsa, lihatlah ruang kelas hari ini.” Maka, jika kita ingin melihat demokrasi yang sehat di masa depan, kita harus menanamkannya hari ini di ruang kelas, di rumah, dan di hati anak-anak Indonesia.

Mari kita jaga demokrasi, mulai dari diri sendiri, dan kita rawat bersama seperti merawat pohon yang kelak akan menaungi negeri.

Hidup demokrasi, hidup generasi muda!

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Improved Oil Recovery (IOR): Peluang Nyata bagi BUMD Riau di Tengah Menurunnya Produksi Minyak

9 Februari 2026 - 20:05 WIB

Kenduri Wartawan

8 Februari 2026 - 11:13 WIB

Gading

7 Februari 2026 - 06:20 WIB

Pers Card Number One: Jalan Panjang Kesetiaan Cak Iban

5 Februari 2026 - 09:24 WIB

Pentingnya Menormalisasi Harga Beli Kelapa Masyarakat Petani Indragiri Hilir

3 Februari 2026 - 09:51 WIB

Trending di Minda