SOSOK sederhana dan berintegritas tinggi. Seorang politikus yang santun. Ulama yang teduh dan menyejukkan. Seorang guru yang layak digugu, ditiru, dan tidak pernah menggurui.
Sosok berpostur tubuh tinggi dan langsing ini adalah termasuk tokoh masyarakat yang tak mau di-tokoh-kan. Sosok sederhana yang punya pandangan jauh ke depan.
Itulah sekilas tentang sosok Sudirman M. Kasi Rapin. Lebih akrab disapa Sudirman M. Kass. Dia adalah salah seorang politisi asal Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya d/h Kuantan Tengah yang berhasil meniti karier di dunia politik. Ia pernah menjadi Ketua DPRD Indragiri Hulu kurun waktu 1999 s.d 2002 menggantikan Letkol (Inf) Soegianto dari Fraksi TNI/ Polri yang mengundurkan diri.
Pengunduran diri Soegianto itu marupakan salah satu tuntutan mahasiswa Indragiri Hulu yang tergabung dalam Aliansi Reformasi Indragiri Hulu (ARI) kepada Bupati Indragiri Hulu Ruchiyat Saefuddin yang menerima ARI. Waktu itu Ruchiyat Saefuddin didampingi Ketua DPRD Soegianto dan Ketua Fraksi Karya Pembanguan Sudirman M. Kass.
Ada tiga tuntutan yang disampaikan ARI saat aksi demo di halaman DPRD Indragiri Hulu, akhir Mei 1998 yakni:
1. Berantas KKN dari Bumi Indragiri Hulu.
2. Turunkan Soegianto dari Ketua DPRD Indragiri Hulu
3. Dukung pemekaran Kuantan Singingi jadi kabupaten.
Aksi demo itu diikuti ratusan mahasiswa dan dikoordinir oleh Aras Mulyadi, Edi Ahmad RM, Elmustian Rahman, Seno H Putra, Urdianto Paboun, Maswito, Sumra Hardi, Mardianto Manan, dan lainnya.
Pada masa Pemerintahan Ored Baru, Sudirman sudah bergabung dengan Golkar. Dan, bersama tokoh Golkar lainnya dia behasil mengantarkan partai berlambang pohon beringin ini menang dalam Pemilu.
Golkar pula yang mengantarkannya sebagai “wakil rakyat” di DPRD Indragiri Hulu. Sebelum diangkat jadi Ketua DPRD, Sudirman menjabat sebagai Ketua Fraksi Karya PGolkar (1997 s.d 1999) DPRD Indragiri Hulu.
Dalam buku “Sejarah Pembentukan Kabupaten Kuantan Singingi” yang ditulis oleh Prof. H. Suwardi MS dkk. Sudirman termasuk salah seorang penggagas dan pengambil kebijakan pemekaran Kuantan Singingi dari Indragiri Hulu. Tokoh lainnya adalah Ruchiyat Saefuddin (Bupati), Anwar Abbas (Sekwilda), dan Moh. Ris Hasan (Asisten Pemerintahan)
Sedangkan dari DPRD Indragiri Hulu selain Sudirman M. Kass selaku Ketua ada Syariful Anwar sebagai Wakil Ketua. Sedangkan anggotanya adalah Sukarmis, Mansyur Furdi, Bustamam Ali, Hasan Basri, Nayarlis, Yanizur Thaher, Buslinar Ali, Mastur, Zainal Abidin, Darnis AM, Syamsuri, Siri Sayuti, Arifin Djais, Alfuadi, dan Thaib Usman.
Selaku Ketua DPRD Indragiri Hulu, Sudirman memimpin sidang paripurna usulan pemekaran Kabupaten Kuantan Singingi ke Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah.
Lalu pada 12 Oktober 1999 lewat UU Nomor 53 tahun 1999, Kabupaten Kuantan Singingi sah berdiri sendiri dan dimekarkan dari Kabupaten Indragiri Hulu sebagai kabupaten induk.
Pemekaran itu tidak serta merta terjadi, tetapi pondasi pembentukan Kabupaten Kuantan Singingi digagas, diletakkan, dan diperjuangkan oleh para tokoh pendiri, mahasiwa, dan elemen masyarakat Kuantan Singingi.
Kabupaten Kuantan Singingi dimekarkan jadi kabupaten bersamaan dengan delapan kabupaten/ kota lainnya di Riau yakni: Rokan Hulu, Rokan Hilir, Palalawan, Siak, Dumai, Karimun, Natuna, dan Kota Batam. Tiga daerah pemekaran: Karimun, Natuna, dan Batam kini menyusul Tanjungpinang, Lingga Anambas, bergabung dengan Provinsi Kepulauan Riau.
SEBELUM terjun ke dunia politik Sudirman adalah pegawai Departemen Agama Kabupaten Indragiri Hulu. Dia juga seorang ulama yang tergabung dalam berbagai aktivitas dakwah dan kegiatan sosial lainnya.
Kemudian Sudirman menikah dengan Nursidah binti H. Muhammad Nur kelahiran Sentajo 31 Desember 1954. Dari pernikahan itu pasangan ini punya enam orang anak yang nama semua anaknya diawali dengan Suska Nur. Punya makna yakni Suska merupakan singkatan dari Sudirman Kasi.
Sedangan Nur secara arti hakiki berarti cahaya yang bisa dilihat dan dirasakan oleh panca indra. Sedangkan secara majazi, Nur adalah sesuatu yang menjelaskan/menghilangkan kegelapan atau sesuatu yang sifatnya gelap atau tidak jelas.
Nama anak Sudirman dengan Nursidah adalah Yakni Suska Nur Siyanto, Suska Nur Heriyanto, Suska Nur Afriadi, Suska Nur Febriantoni, Suska Nur Yuni Artati, dan Suska Nur Afni Febrina. Sedangkan nama cucu-cucunya semuanya diakhiri dengan kalimat Suska.
Kini anak-anaknya sudah berhasil mentas sesuai dengan bidang masing-masing. Sedangkan cucunya sedang beranjak dewasa dan tengah menjalani pendidikan.
Sudirman lahir di Sentajo pada 23 Januari 1947. Terlahir sebagai anak ke dua dari lima bersaudara pasangan M. Kasi Rafin dan Samiah. Saudara Sudirman yang lain di antaranya adalah Sunarti, Sukasmi, Sujasman, dan Sudiarlisti.
Ayah Sudirman, M.Kasi Rapin adalah seorang ulama dan pensiun PNS. Terakhir bertugas sebagai Sekretaris Dewan di Sekretariat DPRD Kabupaten Indragiri Hulu. Selain dengan orang tua Sudirman, M. Kasi Rafin menikah dengan Supridah. Dari pernikahan kedua inilah M. Kasi Rafin punya lima orang anak yakni Supri Andayani, Surmaini, Susanti, Supriadi, dan Sulfi Anggraini.
SUDIRMAN meninggal dunia di Rengat pada 26 September 2022. Sebagai penghormatan dari keturunan raja-raja Kerajaan Indragiri, dia di makamkan di kompleks pemakaman raja-raja Indragiri di Mesjid Raya Rengat yang terletak di Jalan Hang Lekir, Kampung Besar Kota, Kecamatan Rengat.
Di kompleks pemakaman mesjid yang dikenal dengan nama Mesjid Raya Ar Rahman itu terdapat tiga makam utama. Yakni makam Sultan Mahmud Syah, Sultan Isa, dan Sultan Ibrahim. Mesjid Raya ini adalah saksi bisu kejayaan Kerajaan Indragiri di masa lampau.
Di kompleks Mesjid Raya Rengat itu juga di makamkam istri tercintanya Nursidah yang meninggal dunia pada 28 Maret 2015 di Pekanbaru dan di kebumikan pada 29 Maret 2015 di Rengat.
SUSKA Nur Febriantoni salah seorang anak Sudirman mengenang abahnya adalah sosoak yang baik. “Saya pernah mendengar masyarakat Rengat pernah berkata tentang sosok abahnya. Mereka bilang Abah sejak abahnya meninggal dunia tidak ada lagi tempat mereka bertanya, mengadu, mencari solusi, dan mengajar mengaji,” ujar alumni Fakultas Teknik Universitas Riau ini.
Bahkan kata Anton, ada yang bilang jika Abahnya memberikan pengajian jemaah banyak yang datang. Abahnya juga memberi penyadaran ke banyak orang.
“Kalau kami ketemu orang yang kami tidak kenal mereka sering mengatakan kalau tidak karena orang tuamu kami sekarang tidak akan seperti ini. Orang tuamu memang baik,” kenang Anton sapaan akrab pegawai Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi ini.
“Sampai sekarang kata Anton kalau mereka menyebut nama Abah di Rengat orang sangat melayani kami. Semua itu karena sifat Abah yang suka menolong orang,” tambah Anton.
Selamat jalan sang pejuang pemekaran Kabupaten Kuantan Singingi. Orang boleh saja melupakan, namun kami mencatat ketukan palumu mengantarkan Kuantan Singingi sah jadi kabupaten.
Penulis Naskah: Sahabat Jang Itam







