Menu

Mode Gelap
TJA Minta Maxim Stop Rekrutmen Driver Baru, Tunduk Terhadap Pergub Tarif Atas Bawah MTI Kepri: DPRD dan Dishub Sebaiknya Beri Pemahaman, Bukan Harapan Palsu kepada Driver Online Prakiraan Cuaca Kepri Rabu, 11 Februari 2026: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Telan Anggaran Rp233,48 Juta, DPRD Meranti Tinjau Pembangunan Duiker Simpang Puskemas Zona Integritas Diresmikan, Imigrasi Selatpanjang Bidik WBK dan WBBM Kades Batu Berapit Apresiasi Wartawan Anambas, Berkah Terima Bantuan Sembako HPN 2026

Ragam

Idrus Tintin (1937-2003): Seniman Multi Talenta Nasional dari Kuantan Singingi

badge-check


					Idrus Tintin Perbesar

Idrus Tintin

ORANG mungkin kenal sosok “seniman besar” daerah yang berkiprah di Jakarta. Sebut saja Asrul Sani asal Sumatra Barat, WS Rendra (Jawa Tengah), Soekarno M. Noor (Jakarta). Ada juga Teguh Karya (Banten), Putu Wijaya (Bali), Chairul Umam (Jawa Tengah), dan lainnya.

Kuantan Singingi juga punya seniman besar multi talenta seperti Idrus Tintin, Otong Lenon, Ana Tairas, Epi Martison, Fakhri, Udin, dan Abral Nyanyah. Ada Said Mustafa Husein alias Buyung Timadidjah dan Asrul Muhda yang sering mentas di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta era 1970-1980.

IDRUS TINTIN adalah budayawan, pemain teater, penyair, dan pelbagai julukan lain yang melekat pada diri penyair. Lahir di Rengat, Indragiri Hulu pada 10 November 1932. Ayahnya, Tintin berasal dari Lubuk Ambacang, Kecamatan Hulu Kuantan, Kuantan Singingi. Sementara ibunya, Tiamah dari Penyimahan dan menetap di Enok Dalam, Indragiri Hilir.

Ayahnya Tintin semula berprofesi sebagai nakhoda di Jawatan Pelayaran Indonesia. Kemudian dipindahtugaskan ke Laut Cina Selatan, Tarempa, Kepulauan Riau. Dengan berbagai pertimbangan, Tintin memboyong keluarganya ke Tarempa.

Pada 14 Desember 1941, pasukan Jepang membombardir Tarempa. Dalam peristiwa tersebut sekitar 300 orang masyarakat sipil menjadi korban, termasuk Tintin yang meninggal dunia pada tahun 1942.

Setelah kepergian ayahnya, Idrus bersama ibu dan ketiga saudaranya pindah ke Rengat. Di sana ia meneruskan pendidikan yang sempat terbengkalai akibat perang. Setamatnya dari SR, ia melanjutkan pendidikannya di Chugakko, namun tidak selesai.

Tahun 1941, Idrus dititipkan ibunya Tiama di asrama penampungan yatim piatu Dai Toa Kodomo Ryo milik Pemerintah Jepang. Di asrama inilah, ia mulai mengenal dunia drama dan memulai debutnya sebagai pemain teater setelah direkrut grup drama pimpinan Encik Raja Khatijah di Tanjungpinang.

Karena pasih berbahasa Jepang Idrus diterima bekerja di Sentral Telepon Pendudukan Jepang. Kemudian di tahun 1943, ia dipindahkan ke asrama Kubota dan bekerja di Biro Okabutai di Tanjungpinang selama lima bulan. Di tengah kesibukannya bekerja, Idrus masih meluangkan waktu menggeluti dunia teater. Ia terlibat dalam pertunjukan “Nongseng” drama pendek yang mengisahkan kehidupan petani dan nelayan yang hidup melarat.

Di penghujung tahun 1944, Idrus hijrah ke Tembilahan untuk melanjutkan pendidikannya di Sekolah Muhammadiyah. Lagi-lagi pendidikan itu tak berhasil diselesaikannya. Setahun berikutnya (1945), ia kembali ke Rengat untuk meneruskan pendidikan SMP sambil melanjutkan hobinya bermain teater.
Idrus beberapa kali tampil dalam pementasan bersama grup Seniman Muda Indonesia (SEMI) asuhan Agus, Moeis, dan Hasbullah.

Meski sibuk berkesenian, ia tetap memperhatikan pendidikannya. Selain di sekolah formal, Idrus juga mengikuti kursus di sore hari untuk program ekstranei hingga lulus. Terakhir, pria yang akrab disapa Derus oleh keluarga dan kawan-kawannya ini menempuh pendidikan di SMA sore di Tanjungpinang.

SAAT masih berumur 16 tahun, tepatnya Februari 1949, Idrus bergabung menjadi anggota TNI. Setahun kemudian 1950, ia ditugaskan sebagai Staf Q Brigade DD Angkatan Darat di Tanjungpinang. Namun profesi itu tak lama digelutinya karena kecintaannya pada dunia seni khususnya teater tampaknya sulit dilepaskan begitu saja. Pada 1952, ia mendirikan sebuah sanggar sandiwara bernama Gurinda di Tarempa.

Dua tahun berikutnya (1954), Idrus mengawali kariernya sebagai pegawai negeri. Ia memulai dari juru tulis hingga berhasil meraih posisi sebagai Kepala Kantor Sosial Kewedanan Pulau Tujuh.

Sayang, baru tiga tahun berdinas, Idrus merasakan kesulitan membagi waktu antara aktivitasnya di dunia seni dengan pekerjaannya sebagai pegawai negeri. Ia akhirnya mengundurkan diri dan pindah ke Tanjungpinang.

Di Tanjungpinang tahun 1958, Idrus membentuk kelompok teater non formal bersama Hanafi Harun. Kala itu ia tampil memainkan naskah buatannya sendiri, yakni “Buih dan Kasih Sayang Orang Lain, Bunga Rumah Makan, serta Awal dan Mira.”

Naskah lain yang pernah ditulis Idrus adalah “Pasien.” Naskah itu pernah dimainkan pada 1959 dalam sebuah pertunjukan drama spektakuler di halaman RRI Tanjungpinang.

Dalam drama yang dibesut sutradara asal Tanjungpinang Galeb Husein, Idrus bertindak sebagai asisten sutradara sekaligus pemeran utama. Ia beradu akting dengan sejumlah aktor pendukung seperti Edi Nur dan Ita Harahap.

Drama tersebut di samping menuai banyak pujian, juga sempat diprotes lantaran dianggap tak biasa. Sejak kesuksesan drama “Pasien” , ia dan kelompok teaternya selalu diundang untuk mengisi acara yang diadakan pemerintah daerah setempat.

TAK cukup puas mendulang sukses di tanah kelahirannya, pada tahun 1959, Idrus merantau ke Pulau Jawa guna menimba ilmu dan memperluas wawasan seputar dunia seni peran teater modern. Saat itulah, ia bergaul dengan seniman teater ternama ibu kota seperti Asrul Sani, WS Rendra, Soekarno M. Noor, Teguh Karya, Putu Wijaya, Chairul Umam, dan lainnya.

Sosok Idrus dinilai berhasil mendobrak dominasi sandiwara tradisional/klasik yang terkesan eksklusif (menutup diri) terhadap unsur-unsur baru. Berbeda dengan teater modern atau kontemporer yang penuh kreasi. Inovasi tersebut belakangan banyak memberikan pengaruh pada para seniman Riau dan sekitarnya.

Sejak itu pula, untuk mempertajam kemampuannya, Idrus getol mengikuti berbagai forum diskusi. Terutama yang membicarakan tentang seni peran dan penyutradaraan. Ia juga menambah wawasannya dengan belajar teater non formal dengan harapan bisa masuk Akademi Seni Drama dan Film Indonesia.

Di masa perantauannya, Idrus juga bertemu dan berlatih sebuah pementasan teater dengan judul “Kereta Kencana” di tempat Motinggo Busye – seorang sastrawan, sutradara, dan pelukis Indonesia kelahiran Kupang Kota, Bandar Lampung.

Dari ibu kota, pengembaraannya berlanjut ke Solo (Jawa Tengah). Di sana ia menimba ilmu teater pada S. Tossani. Ia sempat tampil bermain teater di Surabaya (Jawa Timur) tepat di hari ulang tahunnya.

Setelah sekitar setahun hidup di perantauan pada 1960, Idrus kembali ke Rengat. Ia mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting seorang perempuan dari Indragiri bernama Masani. Setelah menikah, kegiatannya sebagai seniman teater terus berlanjut.

Bahkan Idrus membentuk sebuah kelompok teater di kampung halamannya. Setiap ada perayaan hari-hari besar, ia hampir tak pernah absen menunjukkan kebolehannya berakting di panggung teater bersama sejumlah rekan sesama seniman lainnya seperti Taufik Effendi Aria, Bakri, dan Rusdi Abduh di Rengat, Tanjungpinang, dan Tembilahan.

Semua itu dijalani Idrus hingga 1965. Sepanjang periode itu, ia banyak mencatat prestasi. Di antaranya aktor terbaik pada Festival Drama di Pekanbaru yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Riau tahun 1964. Selanjutnya pada 1966, ia memulai debutnya sebagai sutradara sekaligus pemimpin pertunjukan teater modern berjudul “Tanda Silang” di Gedung Trikora Pekanbaru. Ia tampil bersama M. Rasul, Taufik Effendi Aria, Mami Soebrantas, dan RP Marpaung.

Empat tahun berselang, Idrus Tintin hijrah ke Jakarta dan bekerja di Travel Nusantara Air Center serta menjadi pengasuh rubrik budaya di Majalah Indonesia Movie. Ia juga membentuk Grup Movies Teater di Gedung Kesenian Jakarta bersama Alex Zulkarnain.

Awal 1970-an, Idrus meninggalkan semua pekerjaannya di ibu kota dan kembali ke Rengat. Kemudian pindah lagi ke Pekanbaru dan bekerja di perusahaan penimbunan pasir.

Tepat di perayaan HUT Kemerdekaan RI pada 1974, Idrus kembali ke dunia teater. Ia menyutradarai pertunjukan teater kolosal dengan judul “Harimau Tingkis” di Balai Dang Merdu, Pekanbaru.

Pertunjukan tersebut di bawah koordinator Bujang Mat Syamsusddin @BM Syam dengan para pemain antara lain Faruq AIwi, Patopoi Menteng, Akhyar, dan Yusuf Dang. Masih di tahun yang sama bersama Armawi KH, ia mendirikan sanggar teater di Riau dengan nama “Teater Bahana”.

Setelah memutuskan keluar dari perusahaan penimbunan pasir, Idrus bekerja sebagai pegawai honor Bagian Humas Setda Riau sekaligus menjadi pengasuh majalah Gema Riau. Kemudian di tahun 1975, Idrus menjadi guru honorer di SMA 2, Pekanbaru, selama 17 tahun.

Selain giat di panggung, Idrus selalu mengikuti pertemuan ilmiah baik sebagai pembicara, peserta maupun mengadakan pertunjukan teater monolog. Demikian halnya di dunia tulis menulis, kemampuannya sebagai penyair tak disangsikan lagi. Ia dianggap sebagai penulis yang mampu menjadikan hal-hal tragedik menjadi komedik.

Selain naskah teater, Idrus menuangkan imajinasinya dalam bentuk sajak dan puisi yang terangkum dalam berbagai buku yakni Luput, Burung Waktu, Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan, dan Jelajah Cakrawala.

BANYAK tokoh kesenian berpendapat bahwa Idrus lebih menonjol dengan keaktorannya dalam dunia teater dibanding kiprahnya sebagai penyair. Ia dinilai berhasil mendobrak dominasi sandiwara tradisional/klasik yang terkesan eksklusif (menutup diri) terhadap unsur-unsur baru yang lebih modern.

Berbeda dengan teater modern atau kontemporer yang penuh kreasi. Inovasi tersebut belakangan banyak memberikan pengaruh pada seniman Riau dan sekitarnya. Tak heran, meski kerap berganti-ganti pekerjaan, kawan-kawannya selalu mengidentikkan kehidupan adalah teater.

Di usia 71 tahun, tepatnya pada 14 Juli 2003, seniman teater dan penyair ini meninggal dunia akibat penyakit stroke. Ia meninggalkan 7 orang anak dan dua orang istri: Mahani dan Masani. Jasadnya dikebumikan di pemakaman raja-raja Rengat di Mesjid Raya Rengat Indragiri Hulu.

MESKI telah tiada, rekam jejak Idrus di dunia seni terus mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Pada 8 November 2011, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma kepadanya.

Penghargaan tertinggi di bidang seni dan budaya itu diserahkan langsung kepada ahli waris Idrus yang diwakili putrinya, Multi Tintin di Istana Negara, Jakarta.

“Kami semua bersyukur atas anugerah ini. Terima kasih pada pemerintah yang memberikan perhatian atas perjuangan orang tua kami. Mudah-mudahan anugerah ini bisa dilanjutkan para generasi muda,” ujar Multi Tintin usai menerima penghargaan seperti dikutip dari situs riaupos.co.id.

Sebelumnya di tahun 1996, jerih payah dan jasa-jasa Idrus bagi budaya dan kesenian sudah mendapat pengakuan dari Yayasan Sagang milik Riau Pos Group yang memberikannya Anugrah Sagang, sebuah penghargaan/award dunia Melayu yang diberikan kepada sosok atau tokoh yang berdedikasi terhadap kehidupan berkesenian, karya yang dinilai unggul, berkualitas, dan monumental, serta pemikiran yang mampu menggerakkan dinamika budaya Melayu dalam ranah tertentu. Kemudian pada 2001, Dewan Kesenian Riau menobatkan Idrus sebagai Seniman Pemangku Negeri (SPN) kategori Seni Teater.

Nama besar Idrus juga diabadikan sebagai nama gedung Anjung Seni Idrus Tintin di Pekanbaru. Ini adalah bukti bahwa seniman yang berdarah Kuantan Singingi ini adalah sosok seniman besar di bumi Riau berdarah Kuantan Singingi.

DI MATA orang-orang yang pernah mengenalnya, Idrus dinilai sosok seniman yang total mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk berkarya di bidang seni terutama teater sehingga ia dianggap pantas mendapat penghargaan tersebut.

Seperti yang diungkapkan budayawan Riau. Dr (HC) Tenas Effendy. ”Secara umum Idrus menjadi contoh bagi seniman dan budayawan lain di Riau dari segi kegigihannya dalam berkarya. Ia memang sahabat dan seniman yang luar biasa. Hingga penghargaan ini memang patut diraihnya,” ucap Tenas.

Sementara itu wartawan senior Makmur Hendrik menyebut Idrus adalah guru, senior, dan sahabat. “Saya dan alm Edi Ruslan Pe Amanriza sering berteater bersama Pak Idrus di Pekanbaru,” ujarnya.

Di mata seniman Epi Martison dari Kuantan Singingi, Idrus adalah pembaharu seni teater Melayu khususnya di Riau. Dalam berkarya, ia sanggup menjadikan hal-hal yang tragedik menjadi komedik. Sejumlah naskah drama, sajak, dan puisi yang terangkum dalam berbagai judul buku menjadi bukti kepiawaiannya dalam merangkai kata demi kata.

Sementara seniman Tanjungpinang, Heru Untung Laksono melihat Idrus adalah aktor panggung yang hebat dan guru yang galak demi kemajuan murid-muridnya. Ia juga juru mudi yang piawai mengendalikan Dewan Kesenian Riau diawal berdirinya.

“Almarhum adalah teman dan sahabat diskusi yang menyenangkan karena candaannya,” ujar Heru – sapaan akrab seniman yang mengaku kenal dekat sosok Idrus ini.

Penulis Naskah Sahabat Jang Itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bisnis