Menu

Mode Gelap
Laos Menuju ASEAN Tahun 2045 BRK Syariah Bengkalis Dukung Semangat Kebersamaan pada Senam Bersama Hari Jadi ke-514 Kabupaten Bengkalis Kunjungan Kerja Seskoau ke LAMR Bahas Ketahanan Energi Nasional Berbasis Nilai-Nilai Kejuangan Polres Bengkalis Ungkap Kasus Dugaan Peredaran Sabu di Bengkalis, Satu Orang Diamankan Polsek Pinggir Gagalkan Peredaran Sabu, Pengedar Diamankan dengan Barang Bukti 1,96 Gram Dua Pengedar Sabu Ditangkap di Bengkalis, Polres Tegaskan Komitmen Dukung Program P4GN

Minda

Surat Terbuka untuk Gubernur Kepri: Sebelum Sinar Harapan Memudar, sebelum Hanya Gelap yang Tersisa

badge-check

Surat Terbuka untuk Gubernur Kepri: Sebelum Sinar Harapan Memudar, sebelum Hanya Gelap yang Tersisa Perbesar

Dear Pak Gub,

Lupakan semua keluh dan sambat saya perihal kerja-kerja kebudayaan di Kepulauan Riau, tepatnya di Tanjungpinang. Lupakan pula tuntutan pembangunan taman budaya dan gedung kesenian yang memadai. Abaikan saja semuanya. Sungguh saya akan baik-baik saja.

Tapi untuk yang satu ini, tolong sempatkan waktu untuk mendengar, sesaat untuk mencerna, dan saya akan sangat bersyukur jika pada akhirnya ada sesuatu yang dapat Pak Gub lakukan.

Ini perihal kesehatan mental, Pak Gub. Saya cemas, kawan-kawan saya cemas, dan ada baiknya Pak Gub mulai punya kecemasan yang sama.

Pada Kamis 31 Juli lalu di Tanjungpinang, seorang siswi berusia 16 tahun memilih menutup episode hidupnya. Tiba-tiba dan tanpa aba-aba. Guru dan teman-teman di sekolah mengenang siswi itu sebagai pribadi yang baik dan tekun. Bahkan, ia termasuk murid berprestasi yang hampir tuntas menghafalkan 30 juz Alquran. Ia calon hafizah, Pak Gub!

Pak Gub sudah baca berita itu, bukan?

Seminggu kemudian, pada 7 Agustus 2025 dan masih di Tanjungpinang, seorang mahasiswa 26 tahun pun memilih menempuh jalan yang sama. Mundur ke 2 Juli 2025, seorang lansia 67 tahun pun memutuskan pergi dengan kehendaknya. Lebih ke belakang, pada 24 Februari 2025, anggota Damkar berusia 27 tahun juga mengembuskan napas terakhir dengan cara serupa.

Itu baru kasus yang terjadi sepanjang 2025 di Tanjungpinang, di kota tempat rumah Pak Gub berdiri—masih tetangga, hanya berjarak injakan sedikit gas dari Batu Tujuh.

Daftar di atas, kalau Pak Gub mau, bisa dengan tabah saya susun lebih panjang melalui serangkaian kasus serupa di Batam, Karimun, dan Bintan. Itu niscaya akan memakan waktu, sementara kegentingan bercampur kengerian sudah menjalar sampai ke ujung siku.

Pak Gub yang baik,

hingga surat ini rampung diketik, saya belum mendengar satu pun respons Anda atas fenomena yang terjadi. Dalam hemat saya, sebagai orang nomor satu di provinsi, Pak Gub tidak perlu menunggu wartawan menodongkan alat perekam untuk membuat pernyataan, untuk menentukan sikap, untuk mengatur strategi, untuk menekan hal tragis semacam itu terulang lagi.

Minimal bersuaralah, Pak Gub. Apapun itu. Bantu yakinkan mereka bahwa selalu ada harapan menanti esok hari. Bantu tenangkan mereka bahwa Anda sedang mengupayakan provinsi Kepri menjadi rumah ramah untuk bertumbuh di masa mendatang. Bantu kuatkan mereka dengan program penyuluhan dan layanan pendampingan tanpa penghakiman. Bantu kesankan mereka bahwa setiap hidup adalah berharga dan bermakna. Bantu mereka sebelum sinar harapan mengabur dan memudar dan hanya gelap yang tersisa di mata.

Pak Gub yang hebat,

konon tugas paling berat seorang pemimpin bukan tentang menambah pendapatan daerah, membangun jembatan layang, dan bukan pula meningkatkan kunjungan wisatawan. Tugas paling berat yang diemban di pundak seorang pemimpin adalah menginspirasi, menyalakan api optimisme bahwa siapa saja berhak mewujudkan cita-cita, memastikan nyala harapan tentang hari esok yang lebih baik bisa dirasakan merata di mana-mana.

Pada situasi genting semacam ini, kemampuan itulah yang sekarang sedang saya dan teman-teman dan masyarakat Kepri damba. Kami tidak berlebihan jika menuntut itu dari Pak Gub, kan?

Sekali lagi, Pak Gub, mumpung masih ada waktu. Penghakiman paling kejam sekaligus yang paling tidak tertanggungkan oleh manusia adalah penyesalan karena melewatkan kesempatan, karena menyepelekan waktu.

Saya tidak mau Pak Gub menanggung itu.

Lekas. Bergegas. Kami sebagai warga biasa melakukan hal-hal yang kami bisa; Pak Gub sebagai orang nomor satu merumuskan sesuatu yang benar-benar jitu.

Semoga Pak Gub sehat selalu.

Terima kasih,

Fatih Muftih / @mekanikata

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Laos Menuju ASEAN Tahun 2045

27 Juli 2026 - 13:18 WIB

Sayang Bini

26 Juli 2026 - 09:55 WIB

Kelemahan Melayu

25 Juli 2026 - 06:32 WIB

From Nothing Become Everything, Inilah Singapura

24 Juli 2026 - 21:00 WIB

Vietnam dalam Pusaran Konflik di ASEAN

22 Juli 2026 - 12:00 WIB

Trending di Minda