“JIKA orang lain bisa, saya juga bisa. Mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang.” Abdul Muis (1886 –1959).
SENGAJA saya kutip kalimat di atas sebagai motivasi kepada gererasi muda jangan menyerah sebelum bertempur. Kalimat itu sederhana tapi dalam dan bermakna untuk menggambarkan kembali semangat perjuangan pahlawan tempoe doeloe.
Ada banyak pahlawan tempo dulu yang patut diteladani dan meng-inspirasi. Satu di antaranya adalah Sahamin dari Kampung Baru Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau.
PADA masa penjajahan Jepang (1942-1945) di Indonesia, banyak pemuda Tanah Air yang membantu tentara Jepang dalam Perang Pasifik melawan Sekutu sebagai HEIHO. HEIHO adalah barisan prajurit pembantu tentara Jepang.
HEIHO beranggotakan para pemuda berusia antara 18-25 tahun. Mereka disertakan di Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang. Ada juga Kempeitai yang merupakan kepolisian.
Heiho juga termasuk salah satu organisasi militer yang dibentuk oleh Jepang selain Pembela Tanah Air (PETA) dan Giyuugun. Akan tetapi, pemuda-pemuda Indonesia yang bergabung dalam HEIHO tidak pernah diberi pangkat atau jabatan yang tinggi.
Salah seorang pemuda Sentajo yang masuk HEIHO adalah Sahamin. Dia masuk HEIHO pada 1943 saat usianya baru 17 tahun. Bersamanya juga ikut Bukhari S yang saat ini diusia senjanya tinggal di Dusun Loban, Desa Muaro Sentajo.
Ketika Jepang menyerah Jepang kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, Sahamin bergabung dengan tentara nasional Indonesia.Pengalaman selama 3,5 tahun menjadi anggota HEIHO menjadi bekal baginya ketika diajak bergabung dengan tentara Indonesia.
Bersama kawan-kawannya eks. HEIHO, Sahamin punya andil besar dalam mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Mereka ikut melucuti senjata tentara Jepang untuk mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Sahamin menjalani tugas militer di pelbagai tempat di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau. Mulai dari Tembilahan, Kuala Enok, Dabosingkep, Bengkalis hingga Tanjungpinang. Tak mengherankan jika dia pasih berbahasa Melayu ala Bengkalis dan Kepulauan Riau.
Ketika bertugas di Bengkalis dia pernah menjadi anak buah Kolonel TNI (Purn) Himron Saheman. Kelak sang komandan (Himron Saheman) dikenal sebagai seorang politikus. Pernah menjabat sebagai Bupati Bengkalis (1974 – 1979) dan Ketua DPRD Provinsi Riau. Terakhir menjabat ketua DPD LVRI Provinsi Riau.
Sedangkan selama bertugas di Tanjungpinang, Sahamin ikut menumpas sisa pasukan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). PRRI merupakan oposisi pemerintah daerah terhadap pemerintah Pusat yang melahirkan pemerintah tandingan pada 15 Februari 1958.
Gerakan ini didahului oleh keluarnya ultimatum Piagam Perjuangan untuk Menyelamatkan Negara dari Dewan Perjuangan yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Husein di Padang, Sumatera Barat.
Sahamin juga ikut mengamankan keputusan Kongres Rakyat Riau (KRR) I pada 31 Januari s.d 2 Februari 2056 di Pekanbaru. Kongres itu menyatakan bahwa Riau sah menjadi provinsi mandiri terhitung sejak 7 Agustus 1957 beribu kota Tanjungpinang.
Selanjutnya Sahamin juga ikut mengawal transisi perpindahan Ibukota Provinsi Riau dari Tanjungpinang ke Pekanbaru pada 20 Januari 1959 lewat Kepmendagri No. Desember 52/I/44-25. Dia hanya bisa melihat perpindahan ibu kota itu karena pada 1 Januari 1959 sudah pensiun dari dunia militer yang dicintainya itu. Dia jadi saksi saksi mata perpindahan itu.
Di kesatuan tentara, Sahamin seangkatan dengan Razali dari Koto Sentajo, Abdul Rahman dari Teratak Air Hitam dan Jamin dari Benai.
Sebagai penghargaan atas dedikasi, loyalitas dan pengabdian Sahamin menerima piagam penghargaan dari DPP LVRI. Dia dianggap berjasa dalam menyumbangkan dharma bhakti bagi perkembangan dan kepengurusan LVRI.
Piagam penghargaan Nomor: Skep-32/MBLV/IX/06/2009 tentang Tanda Penghargaan LVRI yang ditandantangani Ketua Umum DPP LVRI Letnan Jendral TNI (Purn) Rais Abin tertanggal 30 Desember 2011. Piagam itu diterimanya saat masih menjabat Ketua DPC LVRI Kabupaten Kuantan Singingi.
Sederetan piagam penghargaan lain juga diterima Sahamin dari negara. Dan, semuanya kini disimpan rapi oleh anaknya di kediamannya di Desa Kampung Baru Sentajo.
SAHAMIN lahir di Sentajo pada 1926 sebagai anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Madduhun dan Sidak pada 1926. Saudara yang lain adalah: Ali Usman, Halimah, dan Saman. Dia pensiun pada pada 1 Januari 1959 di Tanjungpinang dengan pangkat terakhir Sersan Dua.
Setelah pensiun Sahamin memilih pulang ke kampung memulai hidup baru sebagai pensiunan. Dia bergabung dengan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Indragiri Hulu. Di Kabupaten Kuantan Singingi, dia tercatat sebagai Ketua DPC LVRI sejak 2011 s.d 2022.
Sebagai Ketua DPC LVRI Sahamin melakukan koordinasi dengan DPD LVRI Riau di Pekanbaru memperjuangkan nasib anggota LVRI di Kuantan Singingi. Sebab, masih banyak pejuang yang tidak lulus screening (penyaringan) sehingga tidak menerima gaji.
Selain itu, Sahamin bersama anggotanya juga mengusulkan Pendirian Taman Makam Pahlawan (TMP) di Kuantan Singingi. Keinginan itu baru terealisasi ketika Bupapti Kuantan Singingi dijabat oleh Suhardiman Amby di penghujung masa jabatan pertamanya tahun 2004.
SAHAMIN menikah dengan Siti Nurbaya pada 1950. Pasangan ini punya tujuh anak. Yakni Suhasmi lahir pada 1955, Maprina (1959) Harmonise (1960), Yulinda (1964), Indra Yunan (1966), Yusron (1972), dan Nurhisam (1978).
Sahamin meninggal dunia pada 22 April 2022. Di kebumikan di Desa Kampung Baru Sentajo. Di mata anaknya Harmonise Sahamin adalah sosok orang tua yang enerjik, penuh disiplin, tegas, dan berkharisma.
Semasa hidup Sahamin termasuk sosok yang aktif di tengah masyarakat. Dia pernah menjadi Ketua Persatuan Sepakbola Sentajo, penasehat Masdiah sebagai Kepala Desa Kampung Baru Sentajo, dan lainnya.
Di luar itu, aktivitasnya lainnya adalah bertani. Dia membuat kebun jeruk di Jalan Panjang, Koto Sentajo, kebun salak pondoh di Kampung Baru Sentajo, dan memelihara bebek.
Masyarakat Sentajo mengenal Sahamin juga sebagai spesialisasi okulasi dan cangkok rambutan. Cangkokan itu dipasarkan di Sentajo, Benai, Telukkuantan dan sekitarnya.
Sahamin memang telah pergi selama-lamanya. Namun dedikasi dan sumbangsih untuk negeri ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Kepada Yang Maha Kuasa kita meminta semoga arwahnya dilindungi dari azab neraka.
Naskah: Sahabat Jang Itam: 20082025








