Bidan desa adalah tenaga kesehatan yang bertugas memberikan pelayanan kebidanan di tingkat desa. Mereka berperan penting dalam meningkatkan kesehatan ibu, anak, dan masyarakat secara umum di lingkungan pedesaan.
Selain itu Bidan desa juga berfungsi sebagai fasilitator dalam program kesehatan di desa. Termasuk dalam menggerakkan dan membina peran serta masyarakat.
Salah satu bidan desa, tepatnya di Desa Muaro Sentajo, Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau adalah Rasa. Kami cucu-cucunya memanggilnya Ino atau nenek sebutan lain dalam bahasa Indonesia. Lengkapnya INO RASA.
Masyarakat Kenegerian Sentajo yang hidup 1930-1990-an pasti mengenal sosok Ino kami. Semasa hidup Ino adalah seorang dukun atau bidan desa yang namanya cukup dikenal masyarakat karena kedalaman ilmu. Namanya juga dikenang di luar Sentajo seperti Kopah, Teratak Air Hitam, Benai bahkan sampai ke Pekanbaru dan Malaysia.
Jasa Ino sebagai bidan desa banyak dipakai orang. Terutama ibu-ibu yang mau melakukan persalinan atau melahirkan. Sudah ratusan bahkan bisa jadi ribuan bayi sudah ditanganinya sewaktu lahir baik di kenegerian Sentajo maupun di luar Sentajo.
Sebagai bidan desa, Ino paham betul seluk beluk menangani orang melahirkan. Termasuk menyunat balita perempuan yang sudah cukup umur untuk di sunat. Kedua bidang ini adalah spesialisasi yang dijalaninya secara tulus.
Bahkan ketika bidan desa produk lulusan dari sekolah perawat dan kebidanan sudah ada, orang tetap saja mempercayai Ino ketika mau melakukan persalinan. Namun Ino orang yang tau diri dan mau berbagi dengan bidan-bidan muda yang mulai masuk desa tahun 1980-an.
Satu hal yang aneh tapi nyata dari Ino adalah indra keenamnya yang kuat. Ketika orang mau meminta jasanya, Ino sudah siap dengan segala perlengkapannya. Inilah yang kadang membuat orang termasuk kami cucu-cucunya terheran-heran.
Baru mau dijemput, tapi Ino sudah siap. Istilah kerennya di Sentajo adalah “jopuik tabao”. Kata orang Ino punya “okuan” atau “orang dalam” yang membantu Ino dalam dunia perdukunan. Entah itu benar atau tidak kita serahkan kepada masing-masing.
Kami cucu-cucunya yang kini berusia di atas 50 tahun sering menemani Ino tidur di rumahnya di Dusun Tanah Genting, Muaro. Kami sedikit banyak tau kebiasaan Ino dalam membaca tanda-tanda zaman. (Tak perlu diungkapkan melalui tulisan ini cukup kami anak dan cucunya yang tau).
Ino dikenang sebagai sosok bidan yang punya banyak kelebihan. Postur tubuhnya memang kecil, tapi nalurinya sangat besar. Tak hanya disegani, Ino juga disayangi masyarakat Sentajo dan sekitarnya karena kepintaran, keberanian, dan nyalinya yang kuat.
Sebagai bidan desa bersama rekannya Oja, Iman, dan Simbang dari Muaro, Kanduang (Koto), Jompu (Kampung Baru), Aminah dan Sulai (Pulang Komang) mereka belajar menulis dan membaca hurup aksara latin ke bidan Marlis di Rumah Sakit Telukkuantan.
Dengan bangga Ino memakai baju putih dan peralatan setiap pergi ke Puskesmas Telukkuantan. Ino tak pernah berhenti belajar sampai usia tuanya.
Kami tau semua itu karena Ino minta bantuan kami mengajari apa yang didapatnya dari Bidan Marlis. Tentu dengan senang hati kami mengajarinya.
Ino juga dijuluki juru runding di Suku Paliang Ujung Tanjung. Di rumah godang atau di persukuan pendapat Ino selalu diminta. Ino sangat berani dalam menyampaikan kebenaran. Tak pernah takut dan gentar beragumentasi dengan lawan debatnya, kendati itu lawannya itu lelaki bernyali tinggi.
Itulah mungkin yang menyebabkan Ino disegani di tengah-tengah masyarakat Sentajo. Semasa hidup tokoh masyarakat dan ulama di Kenegerian Sentajo selalu meminta pendapat Ino dalam mengambil setiap keputusan.
Jadi tidak mengherankan jika Ino bersahabat baik dengan ulama dan pemuka masyarakat Sentajo pada masanya. Sebut saja Yahikam Datuk Penghulu Malin, Ongku Lomah Mudahi, Ongku Kali Mahmud, dan lainnya.
Ini disampaikan Taswin Yacub anak dari Ya’cub atau cucu Yahikam. “Ino Rasa dan Ino Tirama sering ke rumah kami sembari curhat soal anak Ino Tirama, Syamsuddin yang merantau kepada bapak kami Ya’cub,” ujar Taswin.
Menurut Taswin, Ino Rasa sebagaimana Ino Tirama dan Ino Timahjoti adalah sosok yang mandiri. Suami mereka meninggal dunia ketika anak-anak mereka masih muda. “Jadilah mereka sosok mandiri yang membesarkan anak-anaknya dengan segala suka dukanya,” kenang Taswin Ya’cub.
INO adalah anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Pokiah Nandin dan Mariam. Saudara sekandung Ino ada empat orang. Tertua Buasin merantau dan meninggal di Malaysia. Setelah itu Siti Rama dan Timahjoti.
Dari empat orang kakak beradik hanya Ino seorang yang berprofesi sebagai dukun. Konon itu keturunan dari pamannya Jimalasin yang disegani karena keilmuannya yang sangat tinggi. Jimalasin dikenal sebagai dukun sakti dan guru silat Pandekar Bertuah di Sentajo dan Malaysia.
Ibunda Ino, Maryam satu-satunya di keluarganya yang perempuan. Saudara yang lain adalah H. Musa, H. Harun, H. Malasin, dan Ongku Putiah. Dan, ibunda Ini (Maryam) adalah orang yang disegani karena keberaniandan sikapnya yang bijak. Dan, itu yang menurun kepada Ino yang membuatnya disegani dan disayangi oleh masyarakat.
Ino menikah dengan dengan H. Karin. Dari pernikahan itu ino punya empat anak: Nurhayati, Lela Asna, Jawahir, dan Mursal. Tiga anak Ino kini masih hidup. Satu (Jawahir) meninggal dunia ketika masih kecil. Jadilah Ino single parent dalam membesarkan anak-anak seorang diri hingga mereka bekeluarga.
Anak tertua Ino: Nurhayati nikah dengan Jamaluddin. Dari pernikahan itu lahir 11 orang anak. Namun empat orang meninggal dunia di usia muda. Yang masih hidup adalah Erdiswan lahir pada 1959, Maswito (1970), Bastian (1973), Aswandi (1976), Nurlianti (1979), Irma Suryani (1982), dan Elpinawati (1984).
Kemudian anak keduanya: Lela Asnah nikah dengan Gurdi. Dari pernikahan itu lahir: Asnaliati lahir 1964, Suwirman (1968), Heri Candra (1972), Yusliana (1975), Gusnalaila (1977), Martinis (1980), Melawati (1983), dan Sopiah (1985). Kemudian anak bungsu Ino, Mursal nikah dengan Nurmaini Umar. Anaknya adalah Mery Artha, Elpadesi Anggraini, dan Herfina Dewi.
KETIKA Ino meninggal dunia 1996 saya masih di Pekanbaru. Ino meninggal dalam usia 85 tahun di rumah anaknya yang saya panggil Ociak Lela lengkap Lela Asna di Muaro Sentajo.
Sebuah penyesalan dalam hidup saya tidak bisa melepas secara langsung kepergian Ino. Saya hanya bisa menziarahi makam Ino beberapa hari setelah kepergiannya.
KENDATI Ino sudah pergi untuk selama-lamanya namun kami cucunya tidak akan melupkan sosok Ino. Sosok yang kami kagumi karena jiwa sosialnya yang tinggi.
Sosok berani dalam meneggakan amar ma’ruf nahi mungkar.
Sosok pantang menyerah, mandiri, dan tabah.
Sosok penuh wibawa dan penyayang kepada cucunya.
Itulah Ino. Sosok yang selalu kami rindukan.
Naskah: Sahabat Jang Itam: 21082025








