RiauKepri.com, KUANSING– Di sebuah ruang keluarga sederhana di Kuantan Singingi, Riau, tiga orang emak-emak duduk bersila, mata mereka terpaku pada layar televisi yang menyiarkan siaran langsung Festival Pacu Jalur dari Tepian Narosa. Jarak dari arena mungkin puluhan kilometer, tapi semangat mereka tak pernah absen.
Emak-emak yang duduk paling depan tampak gelisah. Tangannya bergerak-gerak, seolah hendak mengarahkan tim jalurnya yang sedang berpacu. “Ke kiri… ke kiri!” gumamnya pelan, tapi penuh harap. Namun suara itu tentu tak sampai ke sungai. Ketika jalur kesayangannya kalah di pancang ke-6, tubuhnya limbung ke depan. Ia rebah seperti hendak bersujud. Bukan karena sembah, tapi kecewa.
Di belakangnya, seorang emak-emak lain hanya diam membungkus tubuh dengan sedih. Air mata tak lagi bisa ia tahan. Ia mencoba menyeka dengan tangan, tapi derasnya tak tertampung. Handuk kecil di genggaman pun basah oleh tangis. Jalur yang mereka dukung kalah, dan luka itu nyata. Bukan hanya soal kalah atau menang, ini tentang harga diri, tentang anak yang tak berhasil pulang dengan kemenangan.
Video emak-emak itu viral di media sosial setelah diposting akun @aktor_tamp4an. Reaksi netizen beragam, tapi satu benang merah yang mengalir dalam komentar, pacu jalur bukan sekadar lomba. Ia adalah darah, napas, dan kehidupan bagi masyarakat Kuansing.
Hubungan masyarakat Kuansing dengan jalur seperti orangtua dengan anak. Sehingga jalur bukan sekadar perahu panjang. Ia lahir dari gotong royong, dipahat dengan kasih sayang, dan dilatih seperti membesarkan anak sendiri. Jalur dijaga, dirawat, dibimbing hingga sampai ke tujuan bersama. Ketika jalur kalah, maka sedihlah seluruh keluarga.
Tahun ini, Festival Pacu Jalur bukan hanya milik warga Kuansing. Tradisi yang sudah berumur satu abad lebih ini menjelma menjadi atraksi budaya kelas dunia. Di layar digital, tampil Rayyan Arkhan Dikha, penari muda yang memperkenalkan tarian togak luan dalam format aura farming, menyedot perhatian hingga ke manca negara. Dikha kini ditahbiskan sebagai Duta Pariwisata Riau.
Dan di akhir penampilan Melly Mike, rapper asal Amerika Serikat, di penutupan Festival pada Ahad malam, (24/8/2025), di Taman Jalur Teluk Kuantan, Gubernur Riau Abdul Wahid bersama Bupati Kuansing H. Suhardiman Amby dan jajaran pejabat daerah, menganugerahkan Mike gelar kehormatan sebagai Duta Pacu Jalur Dunia.
Di atas panggung, Mike tak sanggup menyembunyikan haru. “Sejak saya tiba, kalian membuat saya merasa sangat diterima,” tuturnya dengan suara bergetar.
“Saya tidak merasa sebagai orang asing di sini. Kehangatan kalian sungguh menyentuh,” ungkap Mike.
Mike menambahkan, bahwa kehadirannya di Kuansing bukan hanya perjalanan budaya, tetapi pengalaman batin yang akan terus ia simpan. “Saya tidak merasakan apapun selain cinta di sini. Anda semua seperti keluarga,” katanya disela penampilan.
Kecintaan itu bukan basa-basi. Mike menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat Kuansing memperlakukan pacu jalur. Bukan hanya pesta, bukan hanya kompetisi, tapi simbol kebersamaan, warisan, dan martabat.
Setelah lima hari Pacu Jalur di tepian narosa digelar, kini emak-emak yang tadi menangis sudah mulai tersenyum lagi. Jalur mereka kalah, tapi budaya mereka menang. Jalur bukan sekadar kayu panjang di atas air sungai Kuantan. Ia adalah anak, dan anak itu kini telah dikenal dunia. (RK1)







