RiauKepri.com, PEKANBARU– Jarum Jam menunjukkan hampir pukul 01.00 WIB, dini hari. Namun, di Pasar Induk AKAP Pekanbaru, kehidupan justru sedang bergeliat. Truk-truk pengangkut sayur mayur keluar masuk tanpa jeda, para buruh angkut sibuk membopong karung dan peti, sementara pedagang menata dagangan mereka di atas lapak seadanya. Di tengah hiruk pikuk itu, sosok tak biasa tampak menyusuri lorong pasar, Gubernur Riau, Abdul Wahid.
Dengan pakaian santai dan langkah tenang, ia menyapa satu per satu pedagang. Ada yang terkejut, ada yang langsung membuka percakapan, curhat soal naiknya harga cabai, soal pasokan yang telat karena cuaca, dan tentang lelahnya menjaga lapak dari malam ke malam.
“Cabai naik, Pak. Panen terganggu, kiriman dari Bukittinggi juga telat dua hari,” ujar seorang pedagang sambil menimbang cabai merah segar. Gubernur mendengarkan sambil mencatat, sesekali mengangguk, sesekali bertanya.
Di sisi lain, pedagang bawang justru tersenyum. “Bawang sekarang turun, Alhamdulillah. Semoga stabil, Pak,” ucapnya.
Dari lapak kentang, seorang pedagang menunjukkan stok yang baru datang, barang segar, dikirim langsung dari dataran tinggi Sumatera Barat.
Suasana percakapan malam itu tak seperti protokoler pemerintahan. Lebih mirip obrolan warung kopi. Cair dan penuh empati.
Suara Rakyat Kecil
Bagi Abdul Wahid, kunjungan ini bukan sekadar mengecek harga bahan pokok. Ia ingin menyentuh denyut nadi sesungguhnya dari kehidupan ekonomi rakyat. Ia ingin mendengar langsung, tanpa perantara birokrasi tentang apa yang sebenarnya dialami para pedagang dan pekerja pasar.
“Ini bukan cuma soal harga cabai naik atau kentang turun. Ini soal bagaimana pasokan sampai, bagaimana kondisi pasar ini mendukung mereka, dan apa yang bisa kita benahi,” kata Wahid.
Pasar Induk AKAP memang selama ini menjadi andalan. Ia menjadi titik utama distribusi sayur, bawang, cabai, hingga kebutuhan pokok lainnya ke berbagai pasar tradisional di seluruh Riau. Namun, kondisi pasar ini juga kerap jadi sorotan. Jalan sempit, parkir yang tak memadai, dan infrastruktur yang jauh dari ideal menjadi keluhan utama. “Makanya kita rencana menata ulang atau relokasi,” kata Gubri.
Lokasi alternatif pun sudah disiapkan di Jalan Teropong, Soekarno Hatta, oleh Pemko Pekanbaru. Namun, relokasi bukan perkara mudah. Terlalu banyak yang bergantung pada denyut pasar ini.
Cerita Buruh dan Pedagang
Di sela-sela kunjungan, Gubernur juga menyapa para buruh pasar. Tangan mereka kotor, baju mereka basah keringat, namun senyum tak lepas dari wajah. “Terima kasih, Pak, sudah datang malam-malam begini. Jarang pejabat mau lihat langsung,” kata salah satu buruh angkut sambil menghela nafas setelah menurunkan karung sayuran.
Bagi mereka, kehadiran gubernur bukan soal politik atau pencitraan. Tapi soal pengakuan, bahwa kerja keras mereka dilihat dan didengar.
Andre, seorang pedagang cabai yang sudah 15 tahun berdagang di pasar ini, sempat mengutarakan harapannya. “Kalau mau dipindahkan, tolong tempat yang baru itu benar-benar layak, Pak. Jangan cuma pindah lokasi, tapi masalah lama ikut pindah. Lihat parkir, lalu lintas truk, dan kenyamanan kami. Itu penting,” katanya.
Harga Naik Turun
Dari segi harga, kondisi pasar semalam menunjukkan fluktuasi. Cabai merah naik dari Rp50.000 ke Rp65.000/kg. Cabai hijau naik jadi Rp35.000/kg. Tapi kabar baik datang dari komoditas bawang dan kentang. Harga bawang merah dan putih turun ke Rp32.000/kg, sementara kentang dari Rp12.000 kini Rp10.000/kg.
“Harga fluktuatif itu biasa,” ujar Kepala Pasar AKAP, Heri.
“Faktor cuaca, transportasi, dan pasokan dari luar Riau sangat berpengaruh. Tapi yang pasti, kami tetap jaga agar stok tetap aman,” sambung Heri.
Ia menyebutkan sebagian besar barang datang dari luar provinsi, termasuk dari Pulau Jawa. Oleh karena itu, distribusi menjadi kunci utama. “Kalau truk tertahan, harga langsung goyang,” jelasnya.
Gubernur Abdul Wahid menegaskan bahwa pihaknya terus menggelar pasar murah untuk menstabilkan harga dan menjaga daya beli masyarakat. Tapi solusi jangka panjang tetap pada penguatan distribusi dan pembenahan pasar induk.
“Transportasi jangan sampai terhambat. Pasokan harus lancar. Kalau distribusi kuat, harga akan stabil dan masyarakat tidak terbebani,” ucap Wahid.
Malam Menghangatkan
Di akhir kunjungan, suasana pasar masih tetap sibuk. Namun, ada perasaan berbeda malam itu. Pedagang merasa didengar, buruh merasa dihargai, dan pemerintah tidak sekadar hadir dalam wacana.
Pasar yang tak pernah tidur itu sejenak menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi, seorang pemimpin yang datang saat semua orang biasanya terlelap, dan memilih mendengar langsung di tengah bau sayur, peluh, dan suara roda troli pasar.
Karena dari pasar inilah, kehidupan masyarakat bermula dan dari tangan para pedagang kecil itulah, ketahanan pangan daerah dijaga. (Adv)








