IA sudah menjadi polisi sejak zaman Pendudukan Jepang hingga Indonesia merdeka.
Ia polisi yang yang ikut dalam perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi Kemerdekaan RI.
Ia polisi yang layak diteladani karena berjuang tanpa pamrih. Polisi yang layak digugu, ditiru, dan tidak pernah menggurui.
Lalu siapakah polisi itu? Ia adalah Mohd. Syafe’i. Lahir di Sentajo pada 1923. Di akhir hayat hidupnya, dia bermukim di Desa Kampung Baru Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau.
Ia terlahir sebagai anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Moka dan Le’ah. Ia punya saudaranya kandung Abdoel Moettasin, Maniurai, Jaria, dan Rahiman.
Sebelum bertugas menjadi polisi pada zaman Pendudukan Jepang (1942-1945), Syafe’i menjalani pendidikan di Sekolah Gubernement Kelas V berijazah di Sentajo. Kemudian lanjut ke Sekolah Polisi Jepang/Junju di Pekanbaru selama tiga Bulan tamat 1944.
Pada 1 Juli 1944 Syafei diangkat menjadi Yunsa pada Kantor Polisi Wilayah Bagansiapi-api. Kemudian, saat Indonesia merdeka, Yunsa berganti nama jadi polisi. Pangkatnya pun berubah jadi Agen Polisi Kelas II. Dia Dipekerjakan/ ditugaskan di Kantor Polisi Wilayah Bagansiapi-api.
Dan, ketika terjadi insiden di Bagansiapi-api pada 16 Agustus 1945, Syafe’i dipindahkan “sementara waktu” ke Kantor Polisi Wilayah Pekanbaru.
Kemudian pada 28 Desember 1945, Syafei dipindahkan lagi ke Kantor Polisi Wilayah Tembilahan dengan Pangkat Agen Polisi Kelas II.
Pada Agresi Belanda II tahun 1949, Syafei aktif melakukan perang gerilya melawan Belanda di wilayah Kuala Enok. Kemudian setelah agresi berakhir, pada 1951 dia mengikuti Pendidikan Kepolisian di Padang selama empat bulan. Tamat berijazah tahun 1950/1951.
Usai pendidikan, karier Syafe’i terus naik. Dari agen Polisi Kelas I pada 1 Juni 1955 pangkatnya naik lagi Komandan Polisi. Dan, pada 18 Juni 1957 pangkatnya naik lagi jadi Agen Polisi Kepala.
Syafe’i pensiun pada 1975 dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu) di Kantor Polisi Taluk Kuantan.
Total pengabdian Syafe’i sebagai polisi selama 31 tahun dengan rincian: 30 selama Indonesia merdeka + 1 tahun masa Pendudukan Jepang . Dia dinas di berbagai daerah di Riau. Mulai dari Bagansiapi-api, Pekanbaru, Tembilahan, Kuala Enok, Rengat, dan Taluk Kuantan.
Selama bertugas di kepolisian, Syafe’i menerima berbagai penghargaan dan tanda kehormatan. Di antaranya Satya Lencana Pancakarsa pada 10 Oktober 1972. Ini adalah penghargaan atas kesetiaan dan kebijaksanaan dalam melakukan tugas kepolisian negara dalam jangka waktu lima tahun terus menerus.
Kemudian pada 27 Maret 1973 Syafe’i menerima Bintang Bhayangkara Narya dari Presiden RI Suharto. Penghargaan ini diberikan atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam kesetiaannya terhadap Negara dan bangsa Indonesia. Khususnya untuk kemajuan dan pembangunan Kepolisian RI.
Jualan
SETELAH pensiun Syafe’i bekerja sebagai petani di kampung halamannya Kampung Baru Sentajo. Untuk menopang pendapatan suaminya dati gaji pensiun, istrinya Rosnah “terpaksa” jualan.
“Ibu jualan apa saja untuk menopang gaji pensiunan Bapak. Gaji Bapak tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,’ ujar anaknya Upik Rozita.
Menurut Upik, delapan anak bapak dengan ibu: Syabarudin, Apriadi, Khairanis, Indra Jaya, Rostian, Hamsirman, Upik Rozita, dan Nurita membutuhkan biaya sekolah.
“Ibu ekstra keras mencari tambahan penghasilan,. Sementara Bapak sibuk membuka kebun sembari menanam karet,” tambah alumni Universitas Riau, Pekanbaru ini.
Kenangan
SYAFE’I meninggal dunia pada 6 Desember 1992 dan dikebumikan di Desa Kampung Baru Sentajo. Kepergiannya tentu menimbulkan duka mendalam bagi anak-anaknya yang waktu itu tengah menata hidup untuk masa depan.
Anak ketiganya Khairanis yang akrab disapa Nenen menyebut semasa hidup Bapaknya punya disiplin yang sangat tinggi. “Mungkin karena Bapak seorang angkatan jadi hal tersebut sampai terbawa dalam mendidik anak-anaknya. Bapak juga orang tua yang sangat bertanggung jawab,” ujar pensiunan Guru SMP 1 Sentajo Raya, Kuantan Singingi ini.
Kendati Bapaknya sangat disiplin namun kata Nenen, Bapaknya sangat penyayang kepada keluarganya. “Alhamdulillah berkat didikan Bapak kami bisa seperti sekarang ini,” tambanya.
Syafe’i memang telah tiada. Namun jasa dan perjuangan tetap dikenang. Selamat jalan pahlawanku.
Penulis: sahabat Jang Itam 19-09-2025







