Tentangmu (Sialnya)
Kita adalah pecahan kaca
yang dilempar dari jendela sejarah
jatuh di lantai tanpa sempat dipungut
Aku melihat wajahku di pecahanmu
retak, menyala
seakan cermin hanya tahu cara mengingat luka
Suatu ketika
aku pun berharap
Serpihan ini berhenti
melukai tangan yang mencoba
menggenggamnya
Pekanbaru 2019-2025
Tulip
Mungkin, kita hanya kesalahan ketik
yang dibiarkan begitu saja
tapi anehnya
kesalahan itu terlihat paling jujur
Pekanbaru 2019-2025
Retakan Senyum
Senyumanmu
bukan hanya garis melengkung di tepian bibir
tapi retakan kecil di hati yang membeku
Aku menatapnya
seperti menatap peta yang tak pernah usai
ada jalan buntu, ada lorong gelap
ada tikungan yang hanya berujung pada diriku sendiri
Barangkali, cinta selalu berwajah ganda
ia memberi hangat
tetapi juga menusuk ke tulang paling dalam
Seperti senyumanmu yang membebaskan
sekaligus mengurung dalam sel yang tumbuh dari keheningan
Kau tak pernah tahu
dari retakan kecil itu tumbuh sebuah jurang
yang memisahkan aku dari diriku sendiri
Pekanbaru 2019-2025
Mencintaimu Seperti Maut
Aku mencintaimu bukan karena aku ingin memilikimu
tapi karena aku takut tanpa dirimu
aku hanyalah kesunyian
yang tak pernah bisa kutertawakan
Mungkin, setiap cinta sebenarnya hanya kontrak rahasia
antara harapan dan ketakutan
aku memberimu senyum
dengan syarat jangan pergi terlalu cepat
Pekanbaru 2019-2025
Sepatah Perih II
Di ceruk sunyi aku mengutuk
menimbang gunung di atas timbangan
sementara langit meneteskan abu
ke dalam gelas kosong di tanganku
Hatiku terus mencari wajahMu, di balik jubah malam yang lusuh
namun ia menjelma kabut
menghilang sebelum sempat kugenggam
Dalam ribuan sujudku
yang datang hanyalah rindu
seperti perahu kertas
yang hanyut di sungai tak bertuan
lalu, ditelan diam yang lebih purba dari doa
Pekanbaru 2025
30 Nanti
Kursi di ruang tamu menatapku lebih lama
daripada orang-orang yang pernah kucintai
Di atasnya bayangan duduk, menimbang hidupku seperti hakim yang mabuk
Aku ingin keluar
tapi pintu hanya membuka ke pintu lain
dan di ujungnya ada aku juga
menunggu dengan wajah yang lebih tua
Pekanbaru 2025
Sebiru Mungkin
Pada sebuah petang yang jauh
kau belah dadaku lalu memakan jantungku
begitupun aku padamu
Kemudian seperti eloknya hari perayaan
kita berdua bercakap-cakap sampai di haribahan tuhan pula
Kini kutempatkan diri pada nafas separuh mengucap, tentang jejak memudar dan jabat tangan sebentar
Lantas, mengapa kepergian selalu meninggalkan jejak ?
Sedang daun-daun tetap berguguran dan terurai
Gedung-gedung tua di kotamu selalu dipugar ulang
Begitupun kota kembang tak sepenuhnya bimbang
Akhirnya akan tiba pada suatu ketika
Pada hari yang telah kita duga
Sebagai pertanda dirimu telah menjelma dalam buku-buku yang belum selesai dibaca
Pekanbaru – Bandung 2023-2024
Di Bawah Teduh Matamu
(September gelap 2025)
Barangkali, kita tak mesti percaya pada pertemuan
Aku mencarimu pada seorang pemuda yang dilindas oleh keberingasan
demi sepenggal harapan
Kemudian kuraba jariku
hanya mampu, bertahan pada sepuluh hari tersisa
Kau tetap sembunyi di balik bayangan gergasi besar leviathan
Di bawah teduh matamu
Kami cemas, gemetar, dan putus asa
Segelas Kopi, Hati yang Tenang
Bahagia
tidak lebih dari segelas kopi
yang perlahan dingin
di atas meja kayu tua
Asap rokok tipis
melayang seperti ingatan
yang ingin pergi
namun selalu kembali
mengetuk batin
Di luar
waktu berlari seperti kuda liar
orang-orang mengejar sesuatu
yang bahkan tak sempat mereka namai
Kebahagiaan menjadi iklan
Sekilas menyala, lalu kian menyerpih
Pekanbaru 2025
megat.k.t adalah penyair muda Riau







