Menu

Mode Gelap
Eks DPRD Tanjungpinang Minta Perlindungan Usai Diancam Digerebek Dini Hari di Bathin Solapan, Pria Inisial S Simpan Belasan Paket Sabu di Kotak Tisu dan Antangin Tradisi Menulis Buku : Sempena Hari Buku Se Dunia DPP PKB Uji Langsung Kandidat Ketua DPC Pelalawan, Tiga Nama Lolos Tahap Penentu LKAM Luhak Tambusai Penuhi Undangan LAMR Dipimpin Tommy Kurniawan, Muscab PKB Pelalawan Tegaskan Arah Kepemimpinan ke Depan  

Minda

Tradisi Menulis Buku : Sempena Hari Buku Se Dunia

badge-check


					Hasrul Sani Siregar, S.IP, MA Perbesar

Hasrul Sani Siregar, S.IP, MA

Hasrul Sani Siregar, S.IP, MA

Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau

Penulis Buku : Opini Lepas Masalah Politik Internasional dan Pembangunan Daerah

 

23 April setiap tahunnya diperingati sebagai hari buku se dunia. Buku tentu menjadi bacaan yang berisi segala ilmu yang ada di dalamnya. Tradisi menulis yang kemudian menjadi buku sebenarnya telah lama di warisi oleh tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan. Sebutlah seperti Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta, Tan Malaka dan juga Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Tokoh tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia tersebut telah mewarisi tradisi dalam hal menulis sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia. Dan hasil karyanya dapat di baca hingga saat ini oleh beberapa generasi.

Kebiasaan menulis telah menjadi tradisi dalam perjuangan khususnya bagi perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Tokoh seperti Buya HAMKA yang dalam aktivitas kesehariannya selalu menulis, menulis dan menulis. Kualitas tulisan Buya HAMKA tidak diragukan lagi. Tokoh pejuang kemerdekaan dan penulis tersebut juga dikenal sebagai ulama besar dari Muhammadiyah. Buya HAMKA tidak saja dikenal sebagai tokoh politik, Ulama besar, Filsuf dan Sastrawan namun juga seorang penulis yang memiliki kualitas penulisannya yang cukup hebat. Kualitas kehebatan Buya HAMKA dalam hal tradisi menulis tersebut adalah lahirnya mahakarya yaitu Tafsir Al-Azhar. Beliau menyelesaikannya di penjara lebih kurang 2 tahun 4 bulan. Beberapa hasil karya beliau seperti tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Tasawuf Modern, Di bawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke Deli, Pandangan Hidup Muslim dan beberapa karya beliau lainnya.

Dalam Film perjuangan Buya HAMKA yang sudah tayang di beberapa bioskop di Indonesia hingga juga di Malaysia dapat diamanati dan dipelajari bahwa tradisi menulis merupakan salah satu kekuatan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dalam perjuangan Buya HAMKA tersebut dapat diambil pelajaran bahwa tradisi menulis telah menjadi kekuatan oleh tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Banyak lagi tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia yang tradisi menulis menjadi kekuatannya seperti Tan Malaka.

Tradisi dan kebiasaan menulis merupakan suatu keniscayaan dalam hal peningkatan kompetensi dan dalam upaya membangun generasi yang cerdas akan ilmu pengetahuan. Di banyak negara, tradisi menulis telah menjadi terobosan di lembaga-lembaga yang berhubungan dengan peningkatan sumber daya manusia. Hasil penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal dan majalah akan menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan untuk di rumuskan dan seterusnya di aplikasikan. Penulis berkeyakinan, tradisi dalam hal menulis akan meningkatkan kemampuan berpikir kritis untuk berupaya memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada selama ini.

Ketersediaan insfrastruktur yang memadai juga menjadi hal yang penting dalam upaya meningkatkan tradisi menulis tersebut. Ketersediaan infrastruktur berupa internet dan perangkat yang mendukungnya seperti ruangan dan ketersediaan buku-buku merupakan faktor yang juga penting dalam upaya peningkatan tradisi menulis tersebut. Tingkat pembangunan suatu bangsa yang di dalamnya peningkatan pengetahunan literasinya sangat berkaitan pula dengan dukungan pemerintah dalam mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan dorongan akan pengetahuan menulis tersebut. Oleh sebab itu, mulailah dengan tradisi menulis yang telah dilakukan oleh para tokoh perjuangan Indonesia, agar rentetan sejarah tidak akan hilang dan dilanjutkan dengan generasi selanjutnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perjalanan Otonomi Daerah

21 April 2026 - 11:19 WIB

Bisakah Pendidikan Mengubah Masyarakat?

20 April 2026 - 11:12 WIB

Wilayah Perbatasan Indonesia

19 April 2026 - 14:14 WIB

Akhir dari Pemekaran Daerah?

18 April 2026 - 13:10 WIB

Panipahan

18 April 2026 - 10:32 WIB

Trending di Minda