RiauKepri, BINTAN – Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI) mulai melakukan penilaian tahap akhir untuk ajang Wonderful Indonesia Award (WIA) 2025 kategori Most Inspiring Tourism Leader (MITL), Kamis (27/11). Tahun ini, kompetisi antar-kepala daerah dinilai semakin ketat karena Kemenpar menekankan aspek ketahanan pariwisata berkelanjutan sebagai indikator utama.
Dari total 27 daerah yang bersaing sejak Oktober lalu, hanya sembilan kepala daerah yang berhasil lolos ke babak final. Mereka terdiri dari tiga gubernur, tiga wali kota, dan tiga bupati. Untuk kategori kabupaten, tiga daerah yang menonjol adalah Bintan (Kepri), Banyuwangi (Jatim), dan Bengkalis (Riau)—masing-masing dinilai memiliki strategi pengembangan pariwisata yang tidak hanya inovatif, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dinamika lingkungan dan kebutuhan lokal.
Sorotan Baru: Ketahanan Pariwisata dan Kolaborasi
Sekretaris Kemenpar RI, Bayu Aji, menegaskan bahwa kurasi tahun ini lebih tajam dibanding tahun sebelumnya. Fokus utama penilaian bukan lagi sekadar jumlah kunjungan wisata, melainkan kekuatan sistem pariwisata daerah dalam menciptakan keberlanjutan jangka panjang.
“Seleksi berlangsung lebih dari sebulan, menilai bagaimana setiap daerah merancang perencanaan wisata yang bukan hanya kuat, tetapi juga mampu bertahan di tengah perubahan,” ujar Bayu.
Kemenpar menilai dua indikator kunci:
-
Wonderful Collaboration Innovation, yaitu kemampuan daerah membangun ekosistem pariwisata yang melibatkan pemerintah, pelaku industri, akademisi, komunitas, dan media.
-
Wonderful Contribution Innovation, yang mengukur kontribusi nyata terhadap lingkungan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
Bintan Tekankan Desa Wisata dan Event Berbasis Komunitas
Dalam pemaparan daring kepada tim kurator, Bupati Bintan Roby Kurniawan bersama Sekda Bintan Ronny Kartika menekankan bahwa Bintan sedang memantapkan strategi jangka panjang 5 hingga 20 tahun di sektor pariwisata. Salah satu pijakan utamanya adalah pengembangan desa wisata yang tertuang dalam Perbup Nomor 158/II/2023.
Roby menyebut konsep One Village One Event menjadi motor penggerak baru, karena setiap desa dituntut melahirkan agenda wisata sendiri agar aktivitas pariwisata tidak hanya bertumpu pada pusat kota.
“Kami ingin event di Bintan tidak hanya bertaraf internasional, tetapi juga bertumbuh dari desa. Itu yang memperkuat identitas pariwisata kami,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa Bintan memprioritaskan keberlanjutan penyelenggaraan event internasional yang selama ini menjadi tulang punggung Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata.
Penghargaan Jadi Barometer Kepemimpinan Daerah
Puncak penganugerahan WIA 2025 akan digelar pada 5 Desember 2025 di Balairung Susilo Sudarman, Kemenpar RI. Ajang ini dipandang sebagai barometer kepemimpinan daerah dalam membangun sektor pariwisata yang adaptif dan berkelanjutan—sebuah tantangan yang semakin relevan di tengah perubahan tren wisata global. (RK9)







