Menu

Mode Gelap
Perjuangan Hamizan, Balita Siak dengan Kelainan Jantung, Dapat Dukungan Pemkab dan Yayasan Jantung Indonesia Dua Agenda Krusial SIWO di HPN 2026: SIWO Award 2025 dan Penentuan Porwanas 2027 Prakiraan Cuaca Kepri Jumat, 16 Januari 2026 – Umumnya Berawan dengan Potensi Hujan Lokal Imigrasi Pekanbaru Tegaskan Komitmen Peningkatan Kinerja dan Pelayanan Keimigrasian Dusun Tua Rimba Cempedak Belum Berlistrik, Bupati Siak Janji Perjuangkan Penerangan Audiensi ke LAMR, KSPSI Riau Ingin Jaga Citra Organisasi dan Marwah Melayu

Minda

“Puncak”

badge-check


					Ilustrasi (net). Perbesar

Ilustrasi (net).

PEMIMPIN sejati itu bukan yang paling selese duduk di kursi empuk, pendingin ruangan buat mata mengantuk, dan bukan pula kopi panas datang sebelum diminta. Itu bukan puncak kepemimpinan, itu puncak kenyamanan: macam ulo natu. Pemimpin itu kerjanya bukan memaki amun, marah tak tentu aghah, lambat siket pelayanan habis kena sumpah seghanah. Semua isi kebun binatang disebutnya, kecuali biawak!?

Jadi pemimpin itu sebenarnya hidup di tengah tekanan. Aturannya banyak, pasalnya berlambak, macam pagar kawat. Salah melangkah sedikit, anak panah hukum bisa melesat. Tapi lucunya, ada pemimpin yang cuma hafal dua pasal sakti. Pasal satu: pemimpin tak pernah salah. Pasal dua: kalau pemimpin salah, rujuk kembali ke pasal satu. Selesai perkara, rakyat tinggal geleng kepala sambil terngangak.

Sejak dulu sudah ada contoh kepemimpinan yang tak perlu banyak alasan. Umar bin Khattab, khalifah besar, tak canggung keliling kota Madinah di malam hari. Bukan mau patroli gaya-gayaan, tak bawa pentongan, bukan mencari sinyal karena lelet, tapi memastikan rakyatnya tak kebulou hanyot, kelaparan. Ketika dengar anak menangis karena lapar, beliau tak menyuruh ajudan, tak buat rapat dulu baru kasi bantuan. Umar angkat sendiri gandum, masak sendiri. Kekuasaan turun pangkat jadi kemanusiaan, Wak!

Kalau kisah Timur Tengah terasa jauh, tanah Melayu, Riau, punya teladan sendiri. Sultan Syarif Kasim II. Sultan yang sebenar-benarnya sultan, bukan sultan panggung, bukan sultan pondok paten. Beliau menyerahkan kedaulatan dan 13 juta gulden demi Republik Indonesia yang baru lahir. Tak ada drama, tak ada syarat, yang ada hanya rasa tanggung jawab pada tanah air.

Ironisnya, di akhir hayat, Sultan Syarif Kasim II hidup dalam kekurangan. Terasing di Kundur, hidup sederhana, bahkan teramat miskin. Sampai ada orang yang memandang sebelah mata, tak percaya itu bekas sultan. Tapi begitulah, mahkota sejati memang tak selalu berkilau, kadang tersembunyi di balik kesederhanaan.

Hari ini, puncak kepemimpinan bukan di baliho besar atau podium tinggi. Puncaknya saat pemimpin sanggup merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Masuk kampung, mengucah lecah, baju kotor, berkubang, dan itu bukan aib, itu tanda kerja. Aturan boleh kaku, tapi empati jangan ikut beku apalagi berdebu.

Pemimpin yang hanya hadir saat acara resmi, itu biasa. Yang luar biasa, hadir tanpa seremoni. Datang tanpa protokol: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Bukan datang membawa janji panjang, tapi telinga yang mau mendengar. Kadang, pemimpin datang masyarakat jadi berutang, 10 ayam dan seekor kambing tumbang, siapa yang membayar, wak?

Pertanyaannya kini sederhana tapi mengusik, apalagi saat ini keuangan lagi defisit dan tahun 2026 bisa saja membuat rakyat semakin menjerit: adakah pemimpin di Riau yang rela mengucah lecah, masuk hutan, dengan risiko berseghempuk dengan harimau atau gajah ngamuk? Bukan demi konten, bukan demi pencitraan, tapi demi memastikan rakyatnya tak sendiri di pinggir negeri.

Kalau ada pemimpin seperti itu, itulah puncak. Bukan puncak kekuasaan, tapi puncak keberanian dan keikhlasan. Di situlah kepemimpinan Melayu berdiri tegak, rendah hati, dekat dengan rakyat, dan kuat karena dipercaya.

Oleh: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Imigrasi Pekanbaru Tegaskan Komitmen Peningkatan Kinerja dan Pelayanan Keimigrasian

16 Januari 2026 - 06:12 WIB

Audiensi ke LAMR, KSPSI Riau Ingin Jaga Citra Organisasi dan Marwah Melayu

15 Januari 2026 - 18:43 WIB

‎Di Panggil Presiden Prabowo, Rektor Unilak Prof Junaidi hadir Bersama 1200 Rektor di Istana Presiden

15 Januari 2026 - 17:52 WIB

LAMR Terima Kunjungan Mahasiswa University Malaya, Perkuat Edukasi Budaya Melayu Serumpun

15 Januari 2026 - 07:10 WIB

Kejari Pelalawan Bongkar Mafia Pupuk, 15 Tersangka, 6 ASN Terjerat, Negara Jebol Rp 34 M

14 Januari 2026 - 14:53 WIB

Trending di Pekanbaru