Menu

Mode Gelap
Hubungan Malaysia dan Filipina: Isu Sabah Kisah Herlina, Elvita dan Sinta: Perjalanan Menjadi Mualaf dan Harapan Baru dari Bantuan UPZ BRK Syariah BMKG: Sejumlah Wilayah Kepri Berpotensi Diguyur Hujan pada Kamis, 14 Mei 2026 Wartawan Tinggalkan Lokasi Kunker Kapolda Kepri di Anambas Karena Sulit Ambil Dokumentasi Polsek Mandau Ungkap Kasus Diduga Peny Peny Sabu di Bathin Solapan, Satu Pria Diamankan Zuliaifanda Bayi Penderita Jantung Bocor, Dapat Bantuan PT TIMAH Untuk Pengobatan

Minda

Aladin Melayu

badge-check


					Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

WAK, hidup orang Melayu ini kadang penuh cerita dan itu semua menjadi teladan, tapi tak sedikit pula hanya jadi bahan ketawa di warung kopi. Sekali ini saya nak bercerita soal Aladin Melayu sebagai penangkal orientalisme.

Kisah Aladin Melayu ini, kalau diselami betul-betul, bukan sekadar dongeng, tapi sindiran halus buat kita yang kadang lupa diri yang tak mau dicap pemalas dan joluh.

Ceritanya bermula dari jin yang konon punya kuasa besar, siap memberi dengan aturan tiga permintaan. Tapi naasnya, sang tuan Aladin budak Melayu Telukbelitung itu, justru tak mau minta satupun permintaan. Di situlah orang kampung mulai heran, bahkan ada yang panas hati, ada juga mengempas badan, sangking dak geramnya, Wak.

Bagi setengah orang, peluang macam itu ibarat durian runtuh. Belum jatuh pun nghage sudah nunggu di bawah. Tapi Aladin Melayu ini lain, Wak. Dia tahu batas. Dia paham betul, bukan semua yang bisa diminta itu patut diminta.

Di sinilah ajaran adat Melayu mulai nampak. Orang beradat itu bukan diukur dari banyaknya yang dia ambil, tapi dari banyaknya yang dia tahan. Menahan diri itu lebih susah dari meminta.

Sebaliknya, ada pula watak seperti orang lobe, jenis yang cepat nampak peluang, tapi lambat berfikir akibatnya. Dalam kepalanya cuma satu, kalau bisa dapat mudah, buat apa bersusah payah.

Ini lah penyakit yang dari dulu sudah ditegur orang tua-tua kita. Melayu tak diajar jadi pemalas. Tapi kalau terlalu lama berharap pada “jin”, akhirnya jadi lemah.

Kalau adat dan budaya tersemat di hati dan diri berteduh di bawah rindangnya ajaran agama, jin jadi bingung dengan Aladin. Dia sudah siap mengabdi, tapi tak ada yang mahu menyuruh. Ibarat orang siap jadi pembantu, tapi tuannya tak mau jadi tuan.

Dari situ, kita nampak satu hal penting, kuasa tanpa marwah itu kosong. Aladin tak mau jadi “tuan” kalau harus bergantung pada makhluk lain. Dia lebih rela hidup susah, tapi berdiri di kaki sendiri.

Tapi, bila cerita tentang jin ini sampai ke telinga orang kampung, mulailah ramai yang berangan. Ada yang terfikir, “kalau bukan Aladin, biar aku saja yang ambil kesempatan.”

Nah, di sinilah muncul perangai lama, menumpang tuah orang lain. Padahal dalam adat Melayu, menumpang tuah itu bukan salah, tapi kalau sampai hilang marwah, itu sudah jadi aib. Orang beradat tahu mana batas, mana malu.

Sementara Aladin, diam-diam dia mengajar satu perkara besar, marwah itu tak boleh digadai, walau dengan emas segunung. Orang Melayu hidup bukan sekadar untuk senang, tapi untuk terhormat. Dan orang kampung akhirnya sedar, harapan pada jin itu cuma angan-angan. Yang nyata tetap usaha sendiri. Rezeki tak turun dari langit tanpa keringat.

Dari situ juga kita faham, kenapa orang Melayu dulu bisa berdiri tegak. Bukan karena mereka tak punya godaan, tapi karena mereka tahu menolak yang tak patut.

Akhirnya, Wak, cerita ini bukan soal jin atau pelite. Ini soal manusia, soal kita. Mau jadi Aladin yang tahu diri, atau jadi sultan asam urat yang pandai mengaku tapi tak mampu membuktikan.

Kalau hendak tinggi, tinggilah budi. Kalau hendak besar, besarlah jiwa. Sebab dalam adat Melayu, yang paling mulia bukanlah yang banyak meminta, tapi yang paling tahu menjaga marwahnya.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hubungan Malaysia dan Filipina: Isu Sabah

14 Mei 2026 - 00:30 WIB

Kisah Herlina, Elvita dan Sinta: Perjalanan Menjadi Mualaf dan Harapan Baru dari Bantuan UPZ BRK Syariah

14 Mei 2026 - 00:27 WIB

KWT Gamar Sejahtera Diduga Jual Pupuk Jatah dan Manipulasi Data

13 Mei 2026 - 18:44 WIB

UPZ BRK Syariah Salurkan Bantuan untuk Mualaf di Pekanbaru, Wujud Kepedulian Zakat Pegawai bagi Umat

13 Mei 2026 - 16:27 WIB

Bekerja Cerdas Kunci Transformasi Sistem Kerja ASN

13 Mei 2026 - 14:52 WIB

Trending di Minda