WAK, orang sekarang ini kadang-kadang payah nak dicakap. Dari kecil diajar “kalau bergaduh di luar, jangan bawa-bawa orang rumah,” tapi sudah besar, baru kena sikit masalah satu kampung diajak musyawarah, padahal yang ribut cuma dua orang, bukan satu negeri.
Dulu, ayah kita bukan main tegas. Balik rumah dengan baju koyak, bukannya dibelai, malah ditanya, “apa pula perangai dikau hari ini?” Kalau jawabnya kita yang mulai, alamat tambah satu bab lagi di rumah: tak ade cerite kena lampen. Ini bukan karena tak sayang, tapi karena sayang itu tak selalu lembut, kadang dia datang dalam bentuk rotan yang berbisik pelan di betis.
Orang tua kita faham betol soal adat, anak yang dibela membabi buta, esok jadi orang yang tak tahu malu. Maka bila anak bergaduh, bukan dibela, tapi didudukkan. Ditanya, diperiksa. Kalau salah, disuruh minta maaf. Kalau benar, tetap diajar merendah. Sebab dalam adat Melayu, menang itu bukan soal menjatuhkan lawan, tapi menjaga marwah diri.
Bak kata orang tua-tua, “tangan mencincang, bahu memikul.” Maknanya, kalau kita yang mulai, kita pula yang menanggung. Bukan lari lepas tu ajak kawan, apalagi bawa nama suku segala. Itu bukan berani, itu cuma ramai-ramai menutup takut.
Lucunya sekarang, ada yang kalau berselisih sedikit, terus mengaku wakil kelompok. Padahal semalam masih makan sendiri di warung, hari ini sudah jadi juru bicara umat. Ini kalau orangtua dulu hidup lagi, mungkin sudah disuruh duduk bersila di tengah rumah, ditanya satu-satu: “ini masalah kau, atau masalah dunia?”
Dalam petuah Melayu ada disebut, “sayangkan anak tangan-tangankan.” Jangan cepat salah faham, ini bukan ajaran keras tanpa hati, tapi ajaran supaya anak tahu batas. Kalau semua dituruti, semua dibela, maka anak bukan jadi kuat, malah jadi manja, sedikit-sedikit cari bala bantuan.
Dalam ilmu orang sekarang, katanya psikologi massa, orang yang tak berani sendirian, dia akan cari keramaian. Biar nampak gagah, padahal dalam hati bergetar macam daun kena angin petang. Sebab itu dia bawa-bawa nama kelompok, suku, atau entah apa lagi, supaya rasa dirinya besar, walau masalahnya kecil.
Padahal di tanah Melayu pesisir, dari dulu sudah jelas, urusan pribadi, selesaikan pribadi. Kalau salah, akui. Kalau benar, berdiri. Tak perlu panggil satu rombongan macam kenduri. Kita ini diajar bukan untuk jadi kuat karena ramai, tapi kuat karena tahu diri.
Orangtua dulu sampai cakap, “lebih baik mati daripada tak selesai urusan sendiri.” Bukan mati betul, Wak, itu bahasa dalam. Maksudnya, harga diri itu jangan digadai. Jangan pula sedikit-sedikit mengadu, sedikit-sedikit menyeret orang lain masuk gelanggang.
Jadi kalau hari ini masih ada yang suka membawa masalah kecil jadi besar, mungkin dia lupa satu hal, adat Melayu tak pernah mengajarkan kita jadi riuh dan kecuh. Yang dia ajarkan adalah jadi teguh, walau berdiri sendirian, asal benar di sisi adab dan marwah.
Kalau tak mampu juga berdiri sendiri, eloklah pulang dulu. Duduk dengan orangtua, kalau masih ada. Kalau tidak, duduk depan cermin. Tanya pelan-pelan: “ini aku mencari penyelesaian, atau mencari penonton?”
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







