Oleh Hang Kafrawi
Menjelajah puisi adalah menjelajah kedalaman diri manusia itu sendiri. Puisi hadir atas penjelajahan penyair ke ruang-ruang esensial manusia. Ada kegelisahan, ada harapan, dan ada perlawanan untuk rasa yang terlukakan oleh kekuasaan.
Puisi, pada dasarnya, bukan hanya suara yang keluar menuju dunia, melainkan gema yang kembali ke dalam diri. Puisi bukan sekadar medium untuk menyuarakan persoalan sosial, melainkan juga jalan sunyi untuk mengenal diri sendiri. Dalam setiap bait yang dituliskan, penyair sesungguhnya sedang berhadapan dengan dirinya, dengan kegelisahan, keraguan, harapan, dan bahkan dengan bagian-bagian dirinya yang tidak selalu ia pahami sepenuhnya.
Sering kali puisi dipahami sebagai bentuk kritik sosial, sebagai suara perlawanan, atau sebagai cermin realitas. Semua itu benar, namun jika berhenti di sana, puisi menjadi dangkal. Sebab, sebelum ia menjadi suara bagi dunia luar, puisi terlebih dahulu adalah percakapan batin. puisi lahir dari kesadaran yang berusaha menyelami dirinya sendiri, mencari makna di balik pengalaman, bukan sekadar melaporkan peristiwa.
Di ruang inilah puisi menjadi berbeda dari bentuk bahasa yang lain. Puisi tidak tergesa-gesa menyimpulkan. Puisi justru memperlambat, mengendapkan, dan memaksa penyair untuk jujur pada dirinya sendiri. Kata-kata dalam puisi bukan sekadar dipilih, tetapi ditoreh, disaring dari pikiran dan perasaan yang paling dalam. Proses ini bukan kerja teknis semata, melainkan kerja eksistensial.
Seorang penyair, dalam hal ini, bukan hanya pengolah bahasa, tetapi juga penjelajah diri. Penyair menelusuri wilayah-wilayah batin yang sering kali tidak tersentuh oleh bahasa sehari-hari. Penyair mencari kata yang bukan hanya tepat secara makna, tetapi juga mampu menembus lapisan kesadaran pembaca. Kata yang tidak berhenti di telinga, tetapi sampai ke kalbu dan pikiran.
Puisi yang kuat bukanlah puisi yang sekadar lantang, melainkan yang jujur. Kejujuran inilah yang membuat puisi mampu menyentuh orang lain. Ketika penyair benar-benar berani menghadapi dirinya sendiri, pembaca akan menemukan cermin di dalamnya. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga ikut mengalami.
Dengan demikian, puisi tentang sosial pun sesungguhnya tetap berangkat dari diri. Kegelisahan terhadap dunia luar adalah pantulan dari kegelisahan batin. Kritik terhadap masyarakat adalah bentuk dari kesadaran diri yang tidak ingin tunduk pada ketidakbenaran. Maka, semakin dalam penyair mengenal dirinya, semakin kuat pula puisinya berbicara tentang dunia.
Berikut ini dikutip sepenuhnya puisi penyair Wiji Thukul yang memperlihat kegelisahan yang mendalam terhadap negara ini. Wiji Thukul mengenal diri bangsa ini dengan mengenal diri rakyat, mengenal permasalahan yang sangat mengkhawatirkan. Itulah dirinya, diri rakyat yang selalu dipermainkan penguasa.
PERINGATAN
Puisi Wiji Thukul
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
Solo, 1986
Jika puisi adalah jalan mengenal diri, maka pada titik tertentu ia juga akan berhadapan dengan dunia. Kesadaran diri yang jernih tidak mungkin diam ketika berjumpa dengan ketidakadilan. Di sinilah puisi tidak lagi sekadar menjadi ruang sunyi, tetapi berubah menjadi suara. Suara yang lahir bukan dari amarah yang liar, melainkan dari kesadaran yang telah matang.
Puisi “Peringatan” karya Wiji Thukul hadir dalam posisi itu. Puisi Wiji bukan sekadar kritik, tetapi hasil dari kesadaran yang tajam terhadap relasi antara rakyat dan kekuasaan. Dalam bait “jika rakyat pergi / ketika penguasa pidato / kita harus hati-hati / barangkali mereka putus asa”, terlihat bahwa penyair tidak hanya membaca peristiwa, tetapi juga membaca tanda-tanda batin kolektif. Rakyat yang diam bukan berarti setuju, tetapi bisa jadi sedang kehilangan harapan.
Di sinilah kekuatan puisi bekerja sebagai pembacaan yang lebih dalam dari sekadar fakta. Ketika rakyat “sembunyi dan berbisik-bisik”, penyair menangkap bahwa ada ketakutan yang diproduksi. Ketakutan itu tidak selalu tampak, tetapi hadir dalam cara orang berbicara, dalam cara mereka menyembunyikan pendapatnya. Puisi ini, dengan demikian, bukan hanya menyampaikan kritik, tetapi juga mengungkap kondisi psikologis masyarakat yang selalu dipermainkan.
Lebih jauh, puisi ini memperlihatkan bahwa diamnya rakyat justru merupakan tanda bahaya. Dalam bait “bila rakyat tidak berani mengeluh / itu artinya sudah gawat”, penyair menegaskan bahwa kebebasan berbicara adalah ukuran kesehatan sosial. Ketika kritik tidak lagi hadir, bukan berarti keadaan baik-baik saja, melainkan karena ruang untuk berbicara telah menyempit, bahkan diruntuhkan.
Puncak dari puisi ini terletak pada keberanian menyimpulkan situasi secara tegas. Ketika usul ditolak tanpa pertimbangan, kritik dibungkam, dan perbedaan dianggap ancaman, maka penyair tidak lagi berbicara dengan bahasa kiasan yang halus. Ia memilih kejelasan “maka hanya ada satu kata: lawan!” Seruan ini bukan sekadar ajakan emosional, tetapi konsekuensi logis dari pembacaan terhadap situasi yang tidak lagi memberi ruang bagi dialog.
Puisi “Peringatan” menunjukkan bahwa semangat dalam puisi bukan hanya tentang mengenal diri, tetapi juga tentang keberanian untuk berdiri. Penyair yang telah mengenal dirinya tidak akan berhenti pada kontemplasi, tetapi melangkah menuju sikap. Puisi menjadi jembatan antara kesadaran batin dan tindakan sosial.
Dengan demikian, puisi tidak kehilangan kedalamannya ketika berbicara tentang sosial. Justru sebaliknya, puisi menemukan bentuk paling utuhnya. Sebab, kesadaran diri yang sejati tidak mungkin terpisah dari kesadaran akan dunia. Dalam puisi seperti ini, kita melihat bahwa kata-kata tidak hanya menyentuh kalbu, tetapi juga menggugah keberanian berpikir.
Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak.







