Menu

Mode Gelap
PWI dan UMRAH Dorong Mahasiswa Gemar Menulis Hingga Buka Peluang Bisnis Bupati Asmar Teken Kerja Sama Program Desa Bebas Api, Perkuat Sinergi Cegah Karhutla di Kepulauan Meranti KPK OTT Bupati Kuansing? Warga Menanti Kepastian di Tengah Pengamanan Ketat Ibu dan Anak di Pekanbaru Mengaku Jadi Korban Intimidasi dan Teror Digital, Minta Perlindungan Mutasi Polri: Kombes Zahwani Pandra Arsyad Dipercaya Perkuat Lemdiklat, Fokus Cetak SDM Polri Profesional Harganas Ke-33, Pemprov Kepri Dorong Peran Aktif Ayah Bangun Generasi Tangguh

Minda

Bekerja Cerdas Kunci Transformasi Sistem Kerja ASN

badge-check


					Bekerja Cerdas Kunci Transformasi Sistem Kerja ASN Perbesar

Dr. H. Biryanto (Widyaiswara BPSDM Provinsi Riau)

 

Pelaksanaan sistem kerja Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Konsep ini pertama kali muncul pada tahun 1973, yang diperkenalkan oleh Jack Nilles, fisikawan di University of Southern California dengan istilah telecommuting atau telework yaitu bekerja jarak jauh sebagai upaya untuk efisiensi penggunaan energi. Temuan Nilles menunjukkan bahwa mengurangi perjalanan harian pegawai ke kantor yang diganti dengan telekomunikasi mampu menghemat bahan bakar secara signifikan, dan perusahaan pun dapat menghemat biaya operasional kantor menjadi lebih efisien.

Adanya mobilitas pekerja yang tinggi, seperti perjalanan menggunakan kendaraan bermotor dari rumah ke kantor, dianggap memperburuk krisis energi khususnya minyak. Akibatnya, Nilles mengusulkan pandangan baru, dengan memindahkan tugas kerja ke lokasi pekerja, tanpa harus bergantung dengan kehadiran fisik pekerja di kantor. Terobosan ini dinilai cukup efektif untuk mengurangi konsumsi bahan bakar, namun belum optimal untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil kerja, mengingat pada saat itu teknologi komunikasi belum berkembang seperti sekarang.

Beberapa puluh tahun setelahnya, metode bekerja WFH muncul dan populer lagi ketika seluruh dunia menghadapi pandemi Covid-19 di tahun 2020. Pada waktu itu, Indonesia adalah salah satu negara yang menerapkan kebijakan bekerja dari rumah bagi pegawai pemerintahan, sehingga jika kebijakan tersebut diterapkan lagi saat ini, itu tidak akan terasa asing, karena kita telah memiliki pengalaman sebelumnya.

Mengkaji dampak WFH, sudah banyak hasil analisis dan riset terdahulu yang meneliti tentang efektivitasnya terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Meskipun terdapat efek baik dan buruk dari pelaksanaan WFH, yang pasti saat ini pihak pemerintah memiliki pandangan dan keyakinan bahwa WFH menjadi salah satu langkah strategis dan solutif untuk mengurangi konsumsi energi, serta mendorong perubahan budaya kerja dan percepatan dalam proses transformasi pengelolaan pemerintahan. Hal ini bertujuan untuk mencapai pelaksanaan tugas kedinasan yang lebih efisien dan efektif.

Esensi dari pelaksanaan tugas WFH adalah mengoptimalkan hasil kerja sambil mempertahankan fleksibilitas. Sistem kerja WFH sebenarnya merupakan tantangan bagi ASN untuk meningkatkan kinerjanya dengan cara yang lebih baik melalui kerja yang lebih fleksibel. Situasi ini memaksa ASN untuk terus-menerus meningkatkan kemampuan diri mereka, agar bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan dan tantangan yang ada di dunia kerja. Sehubungan dengan hal ini, penerapan konsep bekerja cerdas menjadi langkah krusial yang perlu dilakukan oleh ASN agar tujuan pelaksanaan kerja WFH dapat tercapai secara maksimal.

Bekerja cerdas saat WFH pada tulisan ini dimaksudkan bekerja dengan cepat, efektif, responsif, daya cipta, akuntabel, dan sinergis. Kecepatan kerja berhubungan dengan kemampuan ASN dalam memaksimalkan penggunaan teknologi digital untuk menyelesaikan berbagai tugas. Penerapan teknologi digital ini dapat mempercepat proses penyelesaian pekerjaan dengan hasil yang berkualitas. Sistem kerja WFH juga berkaitan dengan penghematan waktu, karena ASN tidak perlu menghabiskan waktunya untuk pergi ke kantor, sehingga waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan baik untuk mulai bekerja lebih awal dan menyelesaikan tugas lebih cepat.

Robbins dan Judge (2022), menyebutkan bahwa bekerja dengan cepat dipengaruhi oleh empat faktor kunci, yaitu kemampuan individu, motivasi diri, lingkungan yang kondusif, dan kepemimpinan yang efektif. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu dipahami bahwa faktor individu pegawai bukanlah satu-satunya yang menentukan kecepatan dalam menyelesaikan tugas kerja, melainkan ada faktor eksternal yaitu lingkungan kerja dan peran pemimpin sebagai pengendali utama dalam sebuah instansi.

Strategi untuk melakukan pekerjaan dengan cepat selama WFH bisa diterapkan oleh ASN sebagai individu dengan menyusun peta kerja. Metode ini membantu ASN dalam menyusun langkah-langkah proses kerja yang terstruktur, sehingga nantinya bisa ditemukan cara kerja yang lebih sederhana dan cepat untuk dilaksanakan. Alternatif strategi lainnya adalah dengan menetapkan prioritas dalam pelaksanaan tugas, yang memungkinkan ASN untuk bekerja dengan lebih efisien dan mengurangi kemungkinan terjadinya penumpukan tugas.

Bekerja cerdas yang kedua adalah bekerja secara efektif. Meskipun ASN tidak hadir secara fisik di kantor, namun tetap bisa bekerja efektif dalam menyelesaikan pekerjaannya. Hal ini memungkinkan bila tugas dimaksud tidak mengharuskan tatap muka secara langsung dengan publik. Melalui pemanfaatan teknologi media komunikasi yang canggih saat ini, digitalisasi menjadi pilihan utama dalam meningkatkan pelayanan publik. Sebagai langkah awal untuk dapat bekerja efektif, adalah dengan memahami tujuan kerja yang akan dicapai, sehingga dapat bekerja dengan terarah dan terukur.

Konsep deep work yang dikembangkan oleh Newport (2021), dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa bekerja secara efektif merupakan hal yang sangat penting untuk menghasilkan output kerja yang optimal di era digital. Menurut Newport, kemampuan seseorang untuk bekerja secara mendalam tanpa distraksi merupakan keterampilan yang penting di era modern. Seseorang yang mampu mempertahankan fokusnya akan menghasilkan kinerja yang berkualitas, dibandingkan dengan mereka yang sering terdistraksi akibat penggunaan media komunikasi yang tidak terkendali.

Efektivitas bekerja secara WFH akan tercapai jika ASN bisa mempertahankan konsentrasi dan dedikasinya, mengingat adanya tantangan yang berbeda saat bekerja di luar lingkungan kantor. Keterampilan dalam mengelola diri sendiri adalah aspek penting lainnya untuk mencapai kerja yang produktif. Tanpa kemampuan manajemen diri yang baik, ASN akan menghadapi kesulitan dalam mempertahankan semangat dan mengatur emosi, terutama saat menghadapi tekanan dan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan.

Bekerja dengan cerdas yang berikutnya adalah bekerja dengan responsif. Meskipun ASN melaksanakan tugas dari rumah, itu tidak berarti menjadi lambat dalam merespon tugas kerja. Tidak ada alasan untuk memberikan tanggapan yang lambat, karena saat ini teknologi komunikasi sudah sedemikian maju untuk mendukung kerja ASN dalam memberikan respon cepat ketika menghadapi tugas-tugas penting dan mendesak. Salah satu cara teknis untuk bekerja secara responsif dapat diterapkan dengan mengelola pemberitahuan secara efektif di ponsel, sehingga bisa cepat mengetahui saat ada panggilan atau pesan resmi yang perlu untuk segera diselesaikan.

Bekerja dengan responsif selanjutnya dapat diterapkan ketika ASN mampu mengelola data dan pengarsipan digital dengan rapi, sehingga bila data tersebut diperlukan maka dapat ditemukan dengan mudah dan dibagikan dengan cepat. Bekerja responsif ini sangat krusial bagi setiap ASN ketika melaksanakan tugasnya sebagai pelayan publik. Berkenaan dengan hal tersebut maka kunci bekerja responsif dimulai dari adanya kesadaran diri untuk melaksanakan tugas kerja dengan kualitas terbaik.

Adanya sistem kerja WFH juga menjadi tantangan bagi ASN untuk mengembangkan daya ciptanya dalam bekerja. Maksud daya cipta disini adalah kemampuan dalam melakukan kreativitas, baik itu ide, gagasan, cara kerja, maupun solusi untuk penyelesaian tugas kerja dengan cepat dan hasil yang bermutu.  Lebih taktis, pendapat klasik dari Drucker yang dikenal luas sebagai Bapak Manajemen Modern pada pertengahan tahun 80-an, menjelaskan bahwa bekerja secara inovatif merupakan tindakan aktif mencari peluang, memperbaiki proses, dan menciptakan solusi baru.

Kedepan, pegawai ASN diharapkan berani mencoba dan menemukan hal-hal baru yang mendukung kinerjanya, serta tidak terikat pada pola kerja lama dan kaku. Kemampuan berinovasi tersebut akan melatih ASN untuk bekerja lebih produktif sehingga mampu menghasilkan kinerja yang unggul. Bekerja secara inovatif ini nantinya diharapkan tidak sebatas pada ide dan gagasan saja, melainkan dapat diterapkan. Goffin dan Mitchell (2025) menyebutkan bahwa inovasi yang berhasil adalah yang dapat diterapkan dan memberi dampak yang nyata.

Berikutnya, bekerja akuntabel, yaitu bekerja dengan penuh tanggung jawab. Adanya kebijakan bekerja WFH ini menempatkan ASN sebagai individu yang cenderung dominan dalam mengendalikan ritme kerjanya sendiri. Kedisiplinan adalah kunci yang harus dipegang oleh ASN dalam melakukan pekerjaan secara akuntabel. Sistem kerja WFH ini, tidak lagi menempatkan kehadiran fisik di kantor sebagai aspek yang prioritas dalam hal kedisiplinan, melainkan pada komitmen penyelesaian tugas, ketepatan waktu penyelesaian target kerja, kepatuhan terhadap regulasi, dan tanggung jawab atas hasil kerja.

Strategi bekerja akuntabel diawali dengan memahami tujuan dan indikator kinerja, sehingga ASN bekerja dengan arah yang jelas. Selanjutnya melaksanakan tugas kerja dengan cermat dan berpegang pada aturan, sehingga dapat meminimalisir kesalahan yang mungkin terjadi. Pastikan ASN memiliki arsip tugas kerja secara digital, tertata, dan lengkap yang nantinya dapat digunakan sebagai eviden maupun keperluan evaluasi tugas kerja.

Bekerja cerdas yang terakhir adalah sinergis, yaitu kemampuan untuk bekerja sama, berkolaborasi, dan berkoordinasi secara produktif dengan rekan kerja dan semua pihak yang terkait dalam melaksanakan tugas kedinasan. Pelaksanaan tugas kerja secara WFH akan berhasil dengan optimal, bila ASN mampu membangun dan menjaga hubungan yang harmonis melalui penerapan komunikasi yang efektif. Kuncinya, ASN mesti mampu mengoptimalkan pemanfaatan teknologi media komunikasi dan berkomunikasi secara profesional.

Melalui bekerja cerdas, ASN tidak saja turut berkontribusi secara nyata dalam mensukseskan efisiensi penggunaan energi, tetapi juga menjadi upaya strategis untuk mewujudkan ASN unggul yang adaptif, produktif, inovatif, serta mampu memberikan pelayanan publik terbaik di era transformasi digital.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Kejujuran dan Ketulusan Dianggap Kebodohan

28 Juni 2026 - 06:52 WIB

Tunjuk Ajar Durian

28 Juni 2026 - 06:33 WIB

Politik Nonagama

27 Juni 2026 - 07:49 WIB

Mengenal Negara Timor Leste dulunya bernama Timor Timur 

24 Juni 2026 - 09:54 WIB

Green Polymer untuk Enhanced Oil Recovery (EOR): Peluang dan Tantangan bagi Industri Migas Indonesia

23 Juni 2026 - 12:38 WIB

Trending di Minda