MENJELANG sepekan Hari Raya Idul Adha tahun 2026 atau 1447 Hijriyah ini, masyarakat kota dapat ujian yang bukan alang kepalang. Baru saja nasi panas terhidang, sambal belacan sudah menggoda urat lidah, eeh… listrik padam. Tujuh jam pula tu. Habis tu nyala lagi sekejap, padam lagi macam cinta anak bujang kampung: datang sekejab lepas tu lesap tak berkabar.
Orang kota pun mulai belajar ilmu kesabaran tahap tinggi. Ada yang duduk depan kipas sambil mengipas diri pakai map raport anak. Ada pula yang membuka kulkas tiap lima menit, padahal isinya tinggal timun sama es batu. Yang paling berat ujian tentu emak-emak. Mesin cuci baru berputar separuh, tiba-tiba berhenti. Baju dalam mesin jadi terendam, baunya naik macam dendam lama tak selesai.
Maka dalam keadaan begini, orang tua-tua Melayu memang sudah lama mengajar: kalau hidup banyak cobaan, perbanyak zikir dan elus dada. Jangan pula langsung mengamuk macam nak menyerang gardu listrik pakai parang koting. Sebab orang Melayu itu adatnya sejuk. Marah pun masih sempat cakap: “Tak apalah, mungkin kabelnya lagi bertapa.”
Eeh, teringat pula Wak, orang sekampung mendengar pidato pemimpin tentang dolar. Katanya dolar naik tak memberi pengaruh sebab masyarakat kampung tak pakai dolar. Betul juga. Tapi yang lebih pas sebenarnya begini, Wak, masyarakat kampung dari dulu memang tak begitu bergantung pada listrik. Jadi kalau listrik padam, orang kampung cuma senyum sambil menambah minyak pelita.
Di kampung itu gelap bukan musibah, tapi kawan lama. Dari kecil sudah biasa makan sambil ditemani lampu teplok. Nyamuk ramai macam kenduri, tapi orang kampung tetap bisa tidur nyenyak. Anak-anak pula main petak umpet dalam gelap sambil ketawa berderai. Kadang yang dicari tak jumpa sampai subuh, rupanya dia sudah balik duluan ikut emaknya.
Orang kota beda sedikit. Baru listrik padam dua jam, sudah berjalan keliling rumah macam kehilangan arah hidup. WiFi mati, sinyal hilang, televisi gelap. Anak-anak mulai bertanya pada ayahnya: “Yah… ini kiamat kecil ya?”
Ayahnya diam. Sebab sebenarnya dia pun takut kuota habis. Padahal orang Melayu lama sudah berpesan dalam tunjuk ajarnya, hidup jangan terlalu bergantung pada dunia yang sementara. Termasuklah bergantung pada colokan listrik. Sebab sekali “jeglek”, hilang semua kegagahan.
Rice cooker dingin, AC tak berembus, bahkan cas ponsel tinggal dua persen pun sudah terasa seperti ajal makin dekat.
Dalam keadaan beginilah teringat Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Orang tua Melayu bukan sekadar pandai berpantun sambil minum kopi, tapi mereka sudah lama menulis soal amanah pemimpin dan nasib rakyat.
Katanya: “Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjalan yang membawa rugi.”
Maknanya luas. Jangan sampai langkah pemimpin membawa rakyat masuk lorong gelap, sedangkan lampu jalannya pun tak hidup.
Lalu ada pula pesan: “Raja mufakat dengan menteri, Seperti kebun berpagarkan duri.”
Artinya pemimpin dengan orang bawah mesti sepakat menjaga negeri. Jangan rakyat disuruh hemat listrik, sementara lampu kantor terang benderang macam lapangan bola.
Dan orang Melayu itu, walau suka bercanda, tetap menyimpan sindiran halus dalam ketawanya. Sebab adat Melayu mengajar, menegur jangan sampai menjatuhkan marwah. Maka rakyat pun tak marah-marah benar. Paling banter mereka bilang, “Tak apa listrik padam, yang penting jangan akal pemimpin ikut padam.”
Begitulah Melayu. Dalam gelap masih sempat bergurau. Dalam susah masih pandai bersilat lidah. Sebab orang Melayu percaya, hidup ini sementara. Kalau lampu padam, pelita masih boleh dinyalakan. Tapi kalau rasa malu dan amanah sudah padam dalam diri pemimpin, satu negeri bisa gelap lebih lama dari tujuh jam.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







