RiauKepri.com, PEKANBARU – Program Dana Indonesiaraya, yang sebelumnya dikenal luas sebagai Indonesiana, terus menjadi salah satu ruang penting bagi tumbuh dan berkembangnya ekosistem kebudayaan di Indonesia. Melalui berbagai kategori dukungan yang diberikan, program ini membuka kesempatan bagi komunitas, kelompok seni, dan pelaku budaya untuk menghadirkan karya-karya yang lebih dekat dengan masyarakat. Pada tahun 2026 ini untuk anggaran tahun 2025, Teater Matan menjadi salah satu penerima dukungan Dana Indonesiaraya pada kategori Pendayagunaan Ruang Publik dan dilaksanakan pada bulan Juni, Juli, dan Agustus 2026. Dukungan ini sekaligus menjadi jalan bagi kelompok teater yang berbasis di Pekanbaru tersebut untuk mewujudkan cita-cita yang telah lama mereka rawat, yakni membawa pertunjukan teater ke berbagai daerah di Provinsi Riau agar kesenian tidak hanya tumbuh di pusat kota, tetapi juga hidup dan berkembang di tengah masyarakat kabupaten dan kota.
Perjalanan itu akan menyusuri tiga kabupaten yang memiliki sejarah dan kebudayaan Melayu yang kuat, yakni Kabupaten Kepulauan Meranti, Kabupaten Bengkalis, dan Kabupaten Rokan Hilir. Tiga wilayah yang selama ini menjadi bagian penting dari denyut kebudayaan Melayu di pesisir timur Sumatra. Di tempat-tempat inilah Teater Matan akan menggelar pertunjukan, menghadirkan panggung yang tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga ruang pertemuan antara seni, tradisi, dan masyarakat.
Bagi Teater Matan, pementasan teater tidak seharusnya hanya berputar di ruang-ruang pertunjukan yang ada di Pekanbaru. Seni, sebagaimana air sungai yang mengalir ke hilir, harus menjangkau masyarakat yang lebih luas. Sebab teater lahir dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Seni teater akan menemukan makna yang lebih dalam ketika dipertemukan kembali dengan publik yang menjadi sumber inspirasinya.
Dalam perjalanan kebudayaan yang akan dilakukan ini, Teater Matan memilih membawa sebuah pementasan teater bangsawan berjudul “Baginda Sultan”, karya Hang Kafrawi. Pilihan terhadap teater bangsawan bukan tanpa alasan. Di tengah derasnya arus budaya populer dan perubahan zaman yang begitu cepat, teater bangsawan menjadi salah satu bentuk kesenian tradisi yang perlu terus dihidupkan dan diperkenalkan kepada generasi masa kini.
Teater bangsawan memiliki tempat yang istimewa dalam khazanah seni pertunjukan Melayu. Di dalamnya terdapat perpaduan antara lakon, musik, tari, humor, petuah, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari masa ke masa. Melalui bentuk pertunjukan ini, masyarakat tidak hanya menyaksikan sebuah cerita, tetapi juga melihat cermin kebudayaan yang pernah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan nenek moyang mereka.
Naskah “Baginda Sultan” sendiri mengangkat kisah yang berhubungan dengan kepemimpinan, pemerintahan, serta dinamika yang terjadi di lingkungan istana. Tema-tema semacam ini merupakan ciri yang kuat dalam tradisi bangsawan. Melalui kisah kerajaan, penonton diajak memahami nilai-nilai keadilan, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan pengabdian kepada negeri. Nilai-nilai yang sesungguhnya tetap relevan hingga hari ini.
Di tengah masyarakat modern yang sering kali disibukkan oleh berbagai persoalan sehari-hari, teater bangsawan hadir sebagai pengingat bahwa negeri ini dibangun oleh sejarah panjang dan kebudayaan yang kaya. Setiap dialog, kostum, musik, dan adegan yang ditampilkan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Dari panggung yang sederhana, tumbuh kesadaran bahwa mencintai negeri tidak hanya dilakukan melalui kata-kata, tetapi juga melalui upaya memahami akar budayanya.
Pergelaran yang akan dilakukan Teater Matan juga menjadi bentuk nyata pendayagunaan ruang publik sebagai ruang kebudayaan. Lapangan, halaman gedung, atau ruang terbuka yang menjadi lokasi pementasan akan berubah menjadi tempat berkumpulnya masyarakat. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga para tokoh masyarakat akan duduk bersama menyaksikan pertunjukan yang sama. Dalam suasana seperti itulah seni menjalankan salah satu fungsinya yang paling penting: mempertemukan manusia dengan manusia lainnya.
Melalui perjalanan ke Kepulauan Meranti, Bengkalis, dan Rokan Hilir, Teater Matan tidak hanya membawa sebuah pertunjukan. Mereka membawa semangat untuk merawat ingatan budaya, memperkenalkan kembali tradisi teater bangsawan, sekaligus mengajak masyarakat mencintai negeri ini lebih dalam. Sebab di balik kisah para sultan dan kerajaan yang dipentaskan di atas panggung, sesungguhnya tersimpan pesan bahwa sebuah bangsa akan tetap tegak apabila ia mengenal, menjaga, dan menghargai kebudayaannya sendiri. (RK2)







