WAK, kalau ada masa lapang, jangan asik nak melancong ke luar negeri saja. Sekali-sekali datanglah ke wilayah Riau pesisir, ke pulau-pulau kecil yang letaknya di ujung peta, yang kalau dicari di Google kadang-kadang pun malu hendak muncul.
Datanglah ke kampung kami. Biar tahu bagaimana rasanya jadi rakyat yang tinggal di beranda depan Indonesia, tapi kadang terasa seperti duduk di dapur belakang.
Di sini ada jalan tol, wak. Bukan jalan tol yang bayar pakai e-money itu. Ini jalan “tolak pinggang dan tahan pontot.” Jalannya bergelombang macam ombak Selat Malaka. Kalau naik sepeda motor, rasanya bukan berkendaraan, tapi sedang ikut lomba berkuda sempena hari jadi kampung.
Orang tua-tua Melayu dulu berpesan, “kalau berjalan pandang ke depan.” Tapi di kampung kami, kalau tidak pandang ke bawah, alamat masuk lubang. Kalau terlalu lama pandang ke depan, motor bisa hilang dari badan.
Tanah kami pula subur bukan main. Pinang ditanam tumbuh. Kelapa ditanam tumbuh. Sawit ditanam tumbuh. Bahkan besi pun tumbuh. Tak percaya?
Cobalah lihat jalan semenisasi yang sudah uzur itu. Besi-besi penyangga sudah keluar dari perut semen macam pucuk rebung selepas hujan. Bedanya, rebung boleh dibuat gulai, kalau besi yang tumbuh ini boleh membuat orang masuk rumah sakit.
Di pulau-pulau kami, hukum ekonomi pun kadang-kadang malu hendak mengaku sebagai ilmu. Gula dari luar negeri lebih murah daripada gula dari negeri sendiri. Selisihnya sampai ribuan rupiah. Warnanya lebih putih, bungkusnya lebih cantik, kadang rasanya pun lebih manis.
Maka jangan heran kalau orang kampung lebih kenal merek barang dari seberang dibanding barang dari ibu kota. Bukan sebab kami tidak cinta Indonesia, tapi dompet kami lebih tipis daripada kulit bawang.
Soal minyak pula, kenaikan harga BBM sering kali tidak terlalu menggetarkan hati masyarakat pesisir. Kami sudah lama kebal.
Pemerintah naikkan seribu rupiah, kami senyum. Naikkan dua ribu rupiah, kami masih senyum. Sebab dari dulu harga minyak di pulau kami memang sudah macam harga minyak wangi.
Di sini beli bensin bukan pakai liter, tapi pakai kati alias botol. Jangan tanya satu kaki itu berapa liter. Itu ilmu ukur yang hanya dipahami oleh masyarakat pulau dan penjual minyak tepi pelantar.
Yang lebih menakutkan bukan mahalnya BBM tapi susah mencarinya susah. Kadang motor ada, pengendaranya ada, duitnya ada, tapi minyaknya entah berlayar ke mana. Orang Melayu diajar hidup menurut adat. “Biar susah di rantau orang, jangan hilang marwah di negeri sendiri.”
Masalahnya wak, kami kadang-kadang susah di negeri sendiri, sementara marwah pun terasa sedang diuji setiap hari.
Sembako mahal. Minyak langka. Jalan rusak. Transportasi terbatas. Kalau barang dari luar masuk, orang dituduh macam-macam. Kalau tidak masuk, dapur tak berasap. Masyarakat jadi serba salah, macam ketam mengajar anak berjalan lurus. Heee…
Maka kalau ada yang berkata masyarakat pesisir lebih dekat dengan negeri seberang, jangan cepat menuding kami tidak nasionalis. Kami lahir tetap menyebut Indonesia. Kami sekolah menyanyikan Indonesia Raya. Kami mengibarkan Merah Putih di tepi laut yang berhadapan langsung dengan negara lain.
Cuma kadang-kadang kami bertanya dalam hati: “Kalau kami ini benar anak negeri, bilalah agaknya negeri hendak datang menjenguk anaknya yang tinggal di ujung kampung?”
Sebab orang tua Melayu ada berpesan: “Kasih sayang itu bukan pada kata-kata, tetapi pada jejak langkah yang datang menziarahi.” Jangan sampai masyarakat perbatasan terus diminta menjaga beranda rumah, sementara tuan rumah sendiri jarang sekali keluar melihat keadaan berandanya.
Kami tetap cinta Indonesia, wak. Cuma cinta pun perlu dibalas. Kalau tidak, nanti yang tumbuh di pesisir bukan lagi pinang dan kelapa, melainkan rasa kecewa yang akarnya lebih kuat daripada besi yang tumbuh dari jalan rusak itu.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







