Menu

Mode Gelap
Dua Warga Meranti Ditangkap, Kapolsek Tebingtebing Jelaskan Kronologisnya  Diblender dan Direbus, Barang Bukti Narkotika, Dimusnahkan Lanal Karimun Mengenali Negara Kamboja dalam ASEAN Wujudkan Misi Ekologi, Pemkab Siak Gandeng Pemerintah Swiss, UNDP dan Mitra Pembangunan Peringati HUT Bhayangkara Ke 80, Polsek Kundur Gelar Nonton Bareng Dan Cek Kesehatan Gratis Pemkab Siak Gandeng Ngo Perkuat Kapasitas Hukum Penghulu Kampung Hadapi Konflik Agraria Dan Lingkungan Hidup

Minda

Mengenali Negara Kamboja dalam ASEAN

badge-check


					Mengenali Negara Kamboja dalam ASEAN Perbesar

Oleh
Hasrul Sani Siregar, MA
Alumni Hubungan Antara bangsa, IKMAS, UKM, Bangi, Selangor Malaysia/
Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau

 

Dalam bahasa Khmer, negara Kamboja disebut sebagai Kampuchea atau secara lengkapnya Preah Reach Anachak Kampuchea untuk kerajaan Kamboja. Dalam bahasa inggris Kamboja juga disebut dengan Cambodia. Negara Kamboja menjadi bagian dari kelompok negara-negara ASEAN yang dikenal sebagai negara kerajaan. Kamboja selama ini dikenal sebagai negara yang baru berkembang setelah mengalami keterpurukan tidak saja politik, namun juga ekonomi sebagai akibat perang saudara dan invasi Vietnam ke negara tersebut pada 7 Januari 1979 dengan dalih mengusir Khmer Merah. Pada tanggal tersebut pula, Phnom Penh, ibu kota Kamboja, jatuh ke tangan Vietnam. Lebih kurang 100.000 tentara Vietnam memasuki Kamboja dengan tujuan memerangi Khmer Merah (Khmer Rouge). Akibat perang saudara dan invasi Vietnam tersebut, Kamboja mengalami kemerosotan, tidak saja politik dan ekonomi dan juga infrastruktur. Lebih kurang 1 juta orang rakyat Kamboja meninggal dunia akibat tindakan dari Khmer Merah tersebut.

Pembantaian rakyat Kamboja oleh Khmer Merah tersebut telah mengundang campur tangan Vietnam ke negara tersebut. Vietnam berdalih, Pemerintahan Demokratik Kamboja yang dikuasai oleh Khmer Merah telah melanggar kedaulatan Vietnam dengan memasuki wilayahnya. Walau bagaimanapun, tindakan militer Vietnam di Kamboja tersebut tidak dapat dibenarkan oleh dunia internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).. Tidak saja PBB, ASEAN sebagai organisasi kerjasama di Asia Tenggara juga menyesalkan invasi Vietnam ke Kamboja tersebut. Tindakan militer Vietnam tersebut tidak dapat dibenarkan secara hukum, walaupun dalam rangka memerangi rezim Khmer Merah di Kamboja.

Sebagai negara dalam kelompok negara-negara Indocina, Kamboja memiliki sejarah yang panjang dalam konflik di dalam negeri. Selain Kamboja, Laos dan Vietnam juga tergabung dalam kelompok negara-negara Indocina yang merupakan bekas jajahan dan koloni Prancis. Kamboja selama ini dikenal sebagai negara yang baru berkembang setelah mengalami keterpurukan tidak saja politik, namun juga ekonomi sebagai akibat perang saudara dan invasi Vietnam ke negara tersebut.

Kamboja (Cambodia) secara resmi bergabung dengan ASEAN pada 16 Desember 1998, telah mengalami perkembangan yang cukup pesat baik ekonomi, politik maupun kemajuan dalam hal penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan iklim demokrasi di negara tersebut. Lebih kurang 28 tahun sudah Kamboja menyertai keanggotaannya dalam komunitas ASEAN. Pada tahun 2012, Kamboja sebagai ketua ASEAN telah membawa perubahan dan terus menerus mengupayakan tindakan nyata yang secara bersama-sama berupaya membangun kepercayaan, suasana damai, menciptakan kestabilan di kawasan ASEAN serta mendorong kerjasama yang bermanfaat bagi seluruh pihak yang berkepentingan khususnya bagi sesama negara-negara anggota ASEAN lainnya.

Peran Kamboja sebagai Ketua ASEAN yaitu menyelesaikan masalah konflik di Laut Cina Selatan dan masalah etnis Rohingya di Myanmar. Dalam konflik perbatasan dengan Thailand, Kamboja  telah melakukan kesepakatan damai dengan Thailand dalam menjaga kestabilan politik regional ASEAN. Kedua Perdana Menteri, Anutin Charnvirakul dari Thailand dan Hun Manet dari Kamboja telah menandatangani perjanjian perdamaian dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Kualalumpur Malaysia pada 26 hingga 28 Oktober 2025. Perjanjian damai tersebut mengakhiri konflik oleh kedua negara. Konflik di perbatasan kedua negara yaitu di Provinsi Ubon Ratchathani di Thailand bagian timur dan di Provinsi Preah Vihear, Kamboja.

Konflik tersebut telah menimbulkan korban jiwa sedikitnya 48 orang meninggal dunia dan menyebabkan sekitar 300.000 orang mengungsi di perbatasan kedua negara. Ada beberapa butir kesepakatan antara kedua negara yaitu dalam konferensi pers Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul mengatakan bahwa kedua belah pihak akan menarik semua persenjataan berat di wilayah perbatasan dan memastikan keselamatan rakyat di perbatasan dan sebaliknya pula, Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet juga menegaskan bahwa kesepakatan damai antara Thailand dan Kamboja akan menciptakan blok-blok bangunan untuk perdamaian abadi, namun yang lebih penting adalah kesepakatan damai tersebut akan memulai proses perekatan jalinan antara Thailand dan Kamboja yang bertetangga tersebut. Oleh sebab itu, penyelesaian konflik perbatasan oleh kedua negara semakin memperkuat kestabilitas ASEAN khususnya dalam penyelesaian di internal ASEAN.

Seri ketiga menuju ASEAN Community Vision 2045.

 

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Orang Pesisir

20 Juni 2026 - 08:14 WIB

Mengenal LPG dan LNG

18 Juni 2026 - 10:02 WIB

Saat Wisatawan Hanya Jadi Angka di Tanjungpinang

18 Juni 2026 - 08:17 WIB

Satu Tahun Pemerintahan Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul

15 Juni 2026 - 13:15 WIB

Mengompang Perantau

14 Juni 2026 - 13:37 WIB

Trending di Minda