Menu

Mode Gelap
Tumbuhkan Jiwa Patriotisme dan Cinta Tanah Air, Jajaran Polsek Kundur Kibarkan Bendera Merah Putih di Rumah Warga dan Pengendara Bermotor Ambulans untuk IKRAB Duri, Bukti Komitmen CSR BRK Syariah bagi Kesehatan dan Ekonomi Masyarakat Bupati Afni Hadiri Pelantikan IDI, TPP Dokter Siak Masih yang Tertinggi Bupati Asmar Perkuat Sinergi dengan Danposal Selatpanjang, Bahas Stabilitas Wilayah dan Pembangunan Meranti Belah Rumah Prakiraan Cuaca Kepri Ahad, 2 Agustus 2026: Tanjungpinang, Bintan dan Karimun Cerah, Natuna Berpotensi Hujan Ringan

Minda

Mengompang Perantau

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

DALAM adat Melayu, kalau ada anak kampung hendak merantau, biasanya bukan kompang yang berbunyi dulu, melainkan suara emak yang tersekat di kerongkong dan air mata yang jatuh ke lantai rumah. Kepergian seorang perantau bukan perkara kecil. Ia berangkat membawa harapan, membawa nama keluarga, membawa marwah kampung, bahkan kadang-kadang membawa utang warung yang belum sempat dibayar. Alamak!

Orang tua Melayu sejak dahulu selalu berpesan, “Pandai-pandailah membawa diri di negeri orang. Carilah kasih sayang manusia, jangan cari pasal. Hormati orang tua, sayangi yang muda, dan jangan lupa asal-usul.”

Pesan itu bukan sekadar petuah untuk didengar sambil lalu. Orang Melayu percaya, jika seseorang pandai menjaga budi pekerti, maka rezekinya akan dibukakan Allah melalui tangan manusia. Bila orang sudah kasih kepada kita, jangankan membantu pekerjaan atau memberi tempat berteduh, kadang-kadang anak gadisnya pun rela dipinang. Bukan karena harta, tetapi karena tahu perangai dan budinya baik.

Sebab itulah, apabila seorang perantau pulang dengan membawa keberhasilan, masyarakat kampung kami, Wak, menyambutnya dengan sukacita. Ada yang menabur beras kunyit, ada yang mengalunkan selawat, ada pula yang mengompang dengan penuh kebanggaan. Kompang itu bukan bunyi kulit kambing semata, tetapi bunyi penghormatan kepada anak kampung yang berhasil menjaga nama baik tanah kelahirannya.
Namun dalam budaya Melayu, kompang juga boleh menjadi bahasa sindiran, Wak.

Jangan sampai seorang perantau diantar pergi dengan kompang yang terlalu meriah. Orang kampung pun mulai bertanya-tanya: “Ini diantar merantau atau diarak karena sudah lama membuat pening kepala satu kampung?”

Kalau beras kunyit ditabur berlebihan, jangan-jangan itu bukan doa keberangkatan, melainkan tanda syukur masyarakat kerana akhirnya ada juga hari tanpa mendengar keluh-kesah akibat ulahnya. Orangtua tidak lagi dipanggil ke rumah tetangga untuk meminta maaf. Ketua RT tidak lagi menjadi juru damai setiap minggu. Dan warung kopi pun mendadak sepi dari laporan degilnya budak tu.

Begitulah halusnya orang Melayu menyampaikan sindiran. Tidak menjerit, tidak memaki, tetapi cukup dengan simbol dan isyarat. Sebab dalam adat Melayu, yang tajam bukan kerisnya, melainkan makna di balik perlakuannya.

Maka wahai anak-anak perantau, kalau suatu hari kalian diantar dengan doa dan tangisan, bersyukurlah. Itu tanda kalian dicintai. Tetapi kalau satu kampung mengompang dengan wajah terlalu gembira sampai ada yang menambah rebana dan marwas, eloklah bermuhasabah dahulu. Barangkali masyarakat bukan sedih melepas kepergianmu, melainkan sedang merayakan ketenangan yang akan mereka nikmati setelah engkau berangkat.

Itulah Melayu. Menegur tidak melukai, menyindir tidak mempermalukan, tetapi pesannya sampai terus ke dalam hati.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bupati Afni Hadiri Pelantikan IDI, TPP Dokter Siak Masih yang Tertinggi

2 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Belah Rumah

2 Agustus 2026 - 05:47 WIB

Sabut Batu

1 Agustus 2026 - 07:55 WIB

Peduli Warga Pesisir Rohil, Ditpolairud Polda Riau Salurkan Bantuan Beras dan Bibit Pohon Lewat Program JALUR

31 Juli 2026 - 21:25 WIB

Siswa SIP Angkatan 56 Beri Bantuan Bahan Pokok ke Panti Asuhan Darul Ilmi Pekanbaru

31 Juli 2026 - 13:32 WIB

Trending di Pekanbaru