RiauKepri.com, Pekanbaru – Mahasiswa Program Studi Bisnis Digital, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Lancang Kuning (Unilak) mengembangkan berbagai platform digital bertema kebudayaan Melayu Riau sebagai luaran Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Budaya Melayu, Selasa (30/6/2026). Inovasi tersebut menjadi upaya mengintegrasikan pelestarian budaya dengan perkembangan teknologi digital yang akrab dengan generasi muda.
Dosen pengampu mata kuliah Budaya Melayu, Alvi Puspita, S.Pd., M.A., mengatakan bahwa bentuk penugasan tersebut dirancang agar selaras dengan bidang keilmuan mahasiswa Program Studi Bisnis Digital. Menurutnya, pembelajaran budaya tidak lagi cukup disampaikan melalui metode konvensional, tetapi perlu dikemas dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Belajar Budaya Melayu tidak harus membosankan. Justru melalui platform digital, nilai-nilai budaya dapat dikemas secara menarik sehingga lebih mudah diterima dan diapresiasi oleh generasi sekarang,” ujarnya usai pelaksanaan presentasi akhir mahasiswa.
Dosen yang juga merupakan homebase di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Unilak tersebut menambahkan, selama satu semester perkuliahan, mahasiswa didorong untuk tidak hanya mempelajari budaya Melayu secara teoretis di dalam kelas. Mereka juga diajak memahami, mengolah, dan menghadirkan kembali khazanah budaya dalam bentuk produk digital yang memiliki nilai edukatif sekaligus potensial dipublikasikan kepada masyarakat luas.
Koordinator Mata Kuliah Umum (MKU) Budaya Melayu Universitas Lancang Kuning, Deni Afriadi, S.Pd., M.Sn., yang turut mendampingi serta menjadi penilai karya mahasiswa, mengapresiasi kreativitas para mahasiswa dalam menghilirkan materi perkuliahan menjadi platform digital.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar pelestarian budaya di Indonesia bukan terletak pada minimnya kekayaan budaya, melainkan pada lemahnya kemampuan mengemas dan memasarkan kekayaan tersebut kepada publik melalui media digital.
“Kita harus menyadari bahwa salah satu kelemahan kita adalah belum optimal dalam memasarkan khazanah budaya menjadi konten yang menarik. Di banyak negara, orang rela datang hanya untuk merasakan pakaian tradisional, mencicipi makanan khas, atau mengunjungi bangunan bersejarah. Ketertarikan itu dibangun melalui promosi digital yang kuat. Sementara Indonesia, termasuk budaya Melayu, memiliki kekayaan yang luar biasa, tetapi belum banyak dipublikasikan secara kreatif di ruang digital,” katanya.
Melalui tugas akhir ini, mahasiswa menghasilkan berbagai konsep platform digital yang mengangkat beragam aspek budaya Melayu, mulai dari kuliner, busana tradisional, aksara bahasa dan sastra, perobatan tradisional, hingga game dan filter-filter Instagram berunsur budaya Melayu. Karya-karya tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pemenuhan tugas akademik, tetapi juga mampu menjadi media promosi budaya Melayu yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.
Salah seorang mahasiswa peserta mata kuliah Budaya Melayu Ivan Juliano Wowor mengatakan bahwa penugasan ini memberikan pengalaman baru dalam memadukan kompetensi bisnis digital dengan pelestarian budaya Melayu.
“Keseluruhan proses UAS pada hari ini membuat saya lebih memahami kekayaan budaya Melayu. Saya bangga dan senang bisa berkontribusi lewat teknologi, mendalami berbagai ide dan proses diskusi yang menciptakan prespektif yang lebih luas. Saya percaya ini bisa melestarikan dan memperkenalkan budaya Melayu ke generasi muda,” ungkapnya. (RK2)







