RiauKepri.com, BATAM – Perbuatan pengoplasan beras meresahkan masyarakat, tak terkecuali di Batam. Negara diminta memberi perhatian khusus dalam masalah ini, apalagi beras merupakan makanan pokok.
“Alamak… kapan lagi aman pangan ini, ada terus penyelewengannya,” ujar Ketua RW 13 Sungai Panas, Batam, Rapotan Harahap, mengomentari postingan informasi beras oplosan dalam bentuk meme yang dibagikan ke grup WA.
Sejumlah warga Batam lainnya, di antaranya Sudino, Sofiyan, Baharuddin, dan Elly Rahmani beraksi senada terhadap kasus pengoplosan beras yang diungkap Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman. “Waduh, tapi untung saya tak pernah beli merek yang berisi beras oplosan tersebut,” kata Elly Rahmani, ibu rumah tangga yang juga PNS ini.
Meskipun begitu, mereka tak yakin apakah benar-benar terbebas dari membeli atau mengosumsi beras oplosan. Soalnya, yang disiarkan baru beberapa merek saja, sedang yang melakukan pelanggaran, termasuk oplosan, sebanyak 212 merek.
Yang jelas, beras oplosan tidak hanya merugikan secara ekonomi, tapi juga bisa mengancam kesehatan jangka pendek dan panjang, terutama jika mengandung bahan kimia atau sintetis.
Tapi negara memang tak tinggal diam. Setelah ditemukan Mentan, direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri bergerak cepat. Empat produsen beras terkait kasus dugaan pelanggaran mutu dan takaran diperiksa, yakni Wilmar Group, PT Food Station Tjipinang Jaya, PT Belitang Panen Raya, dan PT Sentosa Utama Lestari (Japfa Group).
Sebanyak empat perusahaan itu mengelola sejumlah merek beras ternama di Indonesia, misalnya merek beras dari Wilmar Group yakni, Sania, Sovia dan Fortune. Lalu, merek beras produksi dari PT Food Station Tjipinang Jaya, FS Japonica, FS Setra Ramos, FS Beras Sego Pulen, FS Sentra Wangi, Alfamart Sentra Pulen, hingga Indomaret Beras Pulen Wangi.
Berikutnya, merek beras dari PT Belitang Panen Raya, yakni untuk kualitas premium ada Raja Ultima, Raja Platinum, RajaKita, sementara kualitas ekonomis ada merek RAJA. Sementara, beras dari Japfa Group yaitu merek Ayana.
Amran mengatakan, hendaknya momen ini menjadi kesempatan emas untuk memberantas produsen yang tidak mengikuti ketentuan mengingat stok beras Indonesia yang melimpah. Ia juga meminta produsen beras untuk mengikuti standar kualitas dan mutu beras yang dijualnya.
“Jadi kami minta sekali lagi, kami minta semua yang merasa tidak sesuai standar, tolong diperbaiki. Karena itu Satgas Pangan akan bekerja sampai ke daerah,” jelasnya.
Bahaya Beras Oplasan
1. Terpapar Bahan Kimia Berbahaya.
● Beberapa beras oplosan dicampur pemutih (klorin atau formalin) bisa menyebabkan kerusakan hati, ginjal, dan sistem pernapasan.
● Pewangi buatan/pengawet berisiko menimbulkan alergi, gangguan hormonal, bahkan kanker dalam jangka panjang.
2. Risiko Makan Beras Sintetis (Plastik)
● Meskipun jarang dan belum terbukti luas di Indonesia, beras plastik (berbahan resin sintetis) bisa menumpuk dalam tubuh (tidak tercerna) menyebabkan gangguan pencernaan, keracunan, dan masalah metabolisme
3. Gangguan Sistem Pencernaan
● Beras tua atau beras basi yang dicampur ulang bisa menyebabkan diare, mual dan muntah, serta kembung.
● Beras kotor atau tercampur bahan asing bisa memicu infeksi usus
4. Menurunkan Nilai Gizi
● Beras oplosan biasanya mengandung lebih sedikit karbohidrat kompleks, serat, vitamin B kompleks, sehingga tidak memberi energi optimal, terutama bagi anak dan lansia.
5. Efek Jangka Panjang
● Konsumsi terus-menerus beras oplosan bisa memicu akumulasi racun dalam tubuh, gangguan fungsi organ vital, dan risiko kanker, terutama jika ada campuran bahan kimia. (RK6)
Editor: Dana Asmara







