Menu

Mode Gelap
Polsek Siak Kecil Ungkap Kasus Sabu, Empat Paket Narkotika Diamankan dari Seorang Pria Polres Bengkalis Melalui Polsek Rupat Cek Perkembangan Tanaman Jagung, Siap Panen Juni 2026 36 Siswa Raih Kesempatan Masuk Kelas Beasiswa PT TIMAH, Tes Kesehatan Sebagai Penentu Aklamasi, Dr M Taufikurrahman Kembali Dipercaya Jadi Ketua PD IKA UNRI Meranti Peredaran Narkoba di Desa Bumbung Digagalkan, Polisi Amankan Pelaku dan Barang Bukti ASEAN Menuju Usia 59 Tahun

Riau

Teriakan Tertahan di Balik Dinding, Warga Tanjung Palas Protes Usai Kebakaran Kilang Pertamina Dumai

badge-check


					Protes warga Tanjung Palas dan mediasi dengan pihak Pertamina Dumai. Perbesar

Protes warga Tanjung Palas dan mediasi dengan pihak Pertamina Dumai.

RiauKepri.com, DUMAI- Ternyata. Malam itu, langit Tanjung Palas tidak hanya dipenuhi asap hitam pekat dari kilang Pertamina RU II Dumai tapi juga ada suara yang lebih dalam dari ledakan, jeritan ketakutan warga, tangis anak-anak yang berhamburan keluar rumah, dan isak panik seorang ibu yang mengguncang tubuh anaknya yang mendadak pingsan karena sesak napas.

Syahdan. Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, Rabu (1/10/2025), ketika kilang minyak milik PT. Kilang Pertamina Internasional (KPI) kembali terbakar. Bukan kali pertama. Tapi bagi warga RT 02, ini adalah mimpi buruk yang selalu kembali tanpa jeda.

Ketakutan Berulang

“Anak saya muntah-muntah setelah ledakan. Kami pikir ini akhir dunia,” tutur Nuraini (39), seorang ibu rumah tangga yang tinggal hanya 200 meter dari pagar kilang. Matanya sembab, suaranya bergetar. “Ini bukan kali pertama. Tapi setiap kali terjadi, rasanya kami semakin tak dianggap.”

Ledakan tersebut mengguncang jendela rumah-rumah di sekitar. Warga panik. Banyak yang mengungsi ke masjid atau lapangan terbuka karena takut akan ledakan susulan. Beberapa warga, termasuk lansia dan anak-anak, harus mendapatkan perawatan karena pingsan dan gangguan pernapasan.

Protes dan Mediasi

Keesokan harinya, Kamis (2/10/2025), lebih dari 200 warga, sebagian besar dari RT 02 Kelurahan Tanjung Palas, memadati balai pertemuan. Mereka bukan sekadar marah, mereka lelah.

Wakil Wali Kota Dumai Sugiyarto, Kapolres Dumai AKBP Angga F. Herlambang, anggota DPRD, camat, lurah, hingga General Manager Pertamina RU II Dumai, Iwan Kurniawan, hadir dalam pertemuan itu. Suasana tegang, tapi warga tetap menyampaikan suara mereka dengan jelas.

“Kami bukan hanya ingin permintaan maaf. Kami ingin jaminan keselamatan hidup kami,” ungkap Ketua RT 02, Budi Santoso.

“Kami selama ini tinggal di area yang ternyata di luar Buffer Zone. Artinya, jika ada kejadian seperti ini, kami dianggap tidak terdampak. Tapi lihat sendiri, kami di sini yang pertama kena dampaknya,” sambung Budi.

Suara di Balik Pagar Kilang

General Manager Iwan Kurniawan berdiri, menunduk sejenak sebelum angkat bicara. “Kami minta maaf sebesar-besarnya. Ini menjadi pukulan telak bagi kami. Kami gagal menjaga keselamatan dan kenyamanan warga,” ucapnya.

Dia berjanji akan mengevaluasi total sistem keselamatan, memperluas Buffer Zone, dan memperbaiki komunikasi antara perusahaan dengan masyarakat. Tak hanya itu, Pertamina juga berkomitmen memberi dukungan psikologis dan medis kepada korban yang masih trauma dan menjalani perawatan.

Tapi janji, bagi warga RT 02, bukanlah hal baru. Mereka sudah mendengarnya sejak insiden tahun 2023, namun semua janji kelabu asap hanya senang diucap.

Antara Asap dan Harapan

Salah satu warga, Marlina (47), menyimpan foto rumahnya yang retak akibat ledakan dua tahun lalu. “Kami tidak minta uang. Kami cuma minta aman. Kami ingin hidup tenang, bukan di bawah bayang-bayang asap dan sirine,” katanya lirih.

Kini, Pemerintah Kota Dumai menjanjikan akan memperjuangkan aspirasi warga hingga ke KPI pusat di Jakarta. Sebuah tim khusus akan dibentuk warga dan difasilitasi oleh Pemkot untuk menindaklanjuti hasil mediasi. Namun bagi warga seperti Nuraini dan Marlina, harapan itu masih terbungkus awan hitam. Mereka ingin melihat aksi, bukan hanya dokumen.

Menunggu Janji

Mediasi selesai pukul 10.40 WIB. Namun di hati warga Tanjung Palas, api kekhawatiran belum padam. Mereka telah lama hidup berdampingan dengan risiko. Kini, mereka menuntut lebih dari sekadar permintaan maaf dan pernyataan resmi. Yang mereka inginkan sederhana, hidup layak, udara bersih, dan malam tanpa ledakan, tanpa asap, tanpa rasa takut. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bersulang Geleng

31 Mei 2026 - 09:59 WIB

Pembisik Negeri

30 Mei 2026 - 08:11 WIB

Ganja Kakus

30 Mei 2026 - 07:29 WIB

Dunia Seni Riau Berduka, Dua Senimannya Meninggal Dunia

28 Mei 2026 - 21:07 WIB

Bupati Afni Serahkan Sapi Kurban Presiden, Disambut Antusias Warga Maredan Barat

27 Mei 2026 - 13:57 WIB

Trending di Riau