KUANTAN bagaikan surga
nan menghasilkan segala.
Ke sungai berbuah pasir
Ke rimba berbuah kayu.
Itulah isi pidato Samad Thaha saat Mubes Masyarakat Kuantan Singingi pada 9-10 Juni 1999 di Balai Adat Taluk Kuantan.
Pidato itu disampaikan Samad Thaha dengan tenang di depan Gubernur Riau Saleh Djasit dan Bupati Indragiri Hulu, Ruchiyat Saefuddin.
Kontan saja pidato politik tersebut disambut riuh rendah undangan dan tokoh masyarakat yang hadir pada Mubes tersebut. Pidato “perlawanan” itu ibarat “membangkit batang terendam” dan mengingatkan kembali perjuangan “tempoe doeloe”.
Duo tokoh masyararakat Riau yang sengaja datang dari Jakarta Maswadi Raoef dan Alfitra Salamm juga menyambut hangat pidato Samad Thaha tersebut. “Pak Samad adalah politisi santun tapi kalimat yang keluar dari mulutnya sangat bermakna,” ujar Maswadi Raoef dan diamini oleh Alfitra Salamm.
Sementara Saleh Djasit dan Ruchiyat Saefuddin tampak tersenyum simpul. “Pidato Pak Samad Thaha sangat dalam maknanya. Bahasanya sederhana tapi isinya sangat menyentuh kita semua,” ujar Saleh Djasit tersenyum.
Ruchiyat Saefuddin menyebut Samad Thaha adalah birokrat dan politisi senior yang berhasil jadi Ketua Dewan Pengarah Mubes dibantu Hasan Nusi JS selaku Ketua Pelaksana. “Duet kedua tokoh ini patut diacungkan jempol. Mereka berhasil melaksanakan amanat rakyat Kuantan Singingi,” tambah Ruchiyat Saefuddin.
Nama Kandidat
SAAT Mubes dilaksanakan berkembang pembicaraan serius tapi santai. Yakni siapakah yang bakal menjadi Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Kuantan Singingi. Bermunculan sejumlah nama yang akan menjadi orang nomor satu di daerah hasil pemekaran Indragiri Hulu tersebut.
Sebut saja Muhammad Ris Hasan (Asisten Pemerintahan di kantor Bupati Indragiri Hulu asal Kuantan Mudik. Raja Erisman (Kepala Biro Pembangunan Daerah di kantor Gubernur Riau) asal Kuantan Tengah, Rusjdi S. Abrus (Kepala Dinas Pariwisata Riau) asal Kuantan Hilir, dan Akmal JS (Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Pekanbaru) asal Kuantan Tengah.
Dua nama: Muhammad Ris Hasan dan Raja Erisman merupakan alumni APDN. Sedangkan dua nama lainnya Rusjdi S. Abrus dan Akmal JS adalah alumni Universitas Riau. Keempat figur muda tersebut dinilai potensial, energik, dan mengenal wilayah Kuantan Singingi secara utuh.
Saat ini dari empat nama tersebut, tiga di antaranya sudah meninggal dunia. Hanya Raja Erisman asal Kecamatan Kuantan Tengah yang masih hidup. Terkahir sebelum pensiun ia menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Indragiri Hulu.
Sementara birokrat senior asal Kuantan Singingi samar-samar juga ikut dibicarakan. Yakni dua nama birokrat Riau yang bertugas di Pekanbaru yakni Achmad Sjafei (Kepala Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau) dan Rustam Effendi (Kepala Kantor Wilayah Dapartemen Sosial Provinsi Riau).
Dua nama lainnya yakni “duo” Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) yakni Anwar Abbas (Indragiri Hulu) asal Kuantan Mudik dan Djafri Kacak (Indragiri Hilir) asal Kuantan Hilir.
“Mungkin karena factor usia dan dinilai “ketuaan” dam mau “pensiun”, nama mereka jarang disebut sebagai kandidat Pjs. Bupati Kuantan Singingi. Bukan berarti mereka tak mampu, tapi kelihatan mereka tak ambius untuk itu. Ambisi tu ada, tapi bukan ambisius.
Dari empat birokrat senior itu hanya Rustam Effendi masih hidup. Pria asal Cerenti itu kini tinggal di Pekanbaru. Setelah pensiun ia menghabiskan masa pengabdiannya di Dewan Harian Daerah Kejuangan 45 Provinsi Riau.
Politik Bermain
PASCA Mubes, kepentingan “politik” tampaknya mulai bermain di daerah calon pemekaran di Riau. Sejumlah pengamat politik mulai memberikan analisisnya di media cetak terbitan lokal.
Wartawan asal Kuantan Singingi di Pekanbaru yang rajin menulis analisis itu di antaranya adalah Urdianto (Pekanbaru Pos dan Mingguan Utusan), Reflizar dan Bastian (Media Riau), Abu Bakar Sidiq dan Mai Irianta (Riau Pos) serta Indrasal (GeNTA).
Ikatan Pemuda Mahasiswa Kuantan Singingi (IPMAKUSI) yang baru berdiri pada 31 Mei 1999 memilih “netral” alias tidak “terprovokasi” dengan wartawan yang waktu itu getol memberitakan kandidat Pjs. Bupati.
“Nama-nama yang muncul itu layak dan pantas jadi Pjs. Bupati Kuantan Singingi. Karena hanya ada satu yang akan ditunjuk, kami berharap yang ditunjuk itu mampu menjalankan amanah,” ujar Ketua IPMAKUSI, Apriadi.
Tidak sedikitpun Apriadi terpancing oleh provokasi ketika ditanya wartawan siapa di antara nama yang muncul itu layak jadi orang “nomor satu” di Kuantan Singingi kala itu. “IPMAKUSI adalah organisasi independen. Kami hanya berpihak kepada kebenaran. Jangan adu domba kami,” ujar Apriadi tegas.
Jika Apriadi masih hidup, mungkin dia akan ketawa melihat ada organisasi mahasiswa asal Kuantan Singingi saat ini. Baru berdiri sudah mengkritisi pemerintah dengan segala permintaan yang tidak masuk akal. Attitud-nya dan cara pandang pengurus IPMAKUSI tempo dulu mungkin beda jauh dengan organiasi mahasiswa masa kini.
Dulu mereka berjuang ikhlas. Tanpa SK mereka ikut membantu dalam memperjuangkan pemekaran Kuantan Singingi. “Sekarang…..?” Tepuk dada tanya selera. Lihat dan baca sendiri di media.
Penunjukkan Pjs
MENJELANG pelantikkan Pjs. Bupati/ Wali Kota di daerah hasil pemekaran di Riau “tensi” politik meninggi. Termasuk di Kuantan Singingi. Media betul-betul “menggoreng” berita itu.
Dua alumni APDN asal Kuantan Singingi yang disebut-sebut pantas jadi Pjs. Bupati Kuantan Singingi adalah Kepala Biro Pembangunan Daerah Kantor Gubernur Riau Raja Erisman dan Asisten Pemerintahan di kantor Bupati Indragiri Hulu, Muhammad Ris Hasan.
Raja Erisman sebelum pindah ke Pekanbaru di masa Ruchiyat Saaefuddin jadi bupati Indragiri Hulu pernah jadi Ketua Bappeda. Pria kelahiran Taluk Kuantan, Kecamatan Kuantan Tengah ini merupakan Ketua Beppeda termuda di antara Ketua Bappeda di kabupaten/kota se- Provinisi Riau kala itu. Waktu dilantik usianya baru 35 tahun.
Semasa Ruchiyat banyak orang putra terbaik asal Kuantan Singingi jadi pejabat di Indragiri Hulu. Selain Raja Erisman ada Anwar Abbas (Sekwilda), Mahdili (Kadis PU), Helfian Hamid (Kadis Peternakan), Mohammad Ris Hasan (Asisten Pemerintahan). Ada pula Ermedi, Zainal Abidin, Suhendri, Hardi Nasri, Liusman Saleh, dan lainnya.
Sementara Muhammad Ris Hasan pernah jadi camat. Dia dikenal dengan “tangan besi” nya ketika jadi camat Kuantan. Pria kelahiran Kecamatan Kuantan Mudik adalah camat yang pernah memarahi seorang pengusaha terkaya di Taluk Kuantan karena persoalan sepele.
Ris Hasan “menempeleng” sang pengusaha karena membuang sampah sembarangan. Peristiwa itu masih dikenang oleh sebagian masyarakat Taluk Kuantan hingga kini. Terutama yang berumur di antara 60 tahun ke atas.
Pengusaha sukses yang dimarahi Mohammad Ris Hasan sekarang itu masih hidup. Dulu dia terkenal dengan kebun karetnya yang tersebar di mana-mana. Sekarang karet sudah digantinya dengan sawit. Tak elok namanya ditulis. Takut pula mengungkit masa lalu sang pengusaha yang kini usahanya diteruskan anak anaknya.
Nama lain Akmal JS dan Rusjdi S. Abrus. Kendati dua nama ini tak pernah bertugas di Indragiri Hulu. Namun sudah malang melintang di pemerintahan di ibukota Provinsi Riau.
Persaingan alumni APDN dan non APDN terlihat sekali. Tidak hanya di Kuantan Singingi juga di kabupaten/kota yang akan dimekarkan. Sebut saja di Rokan Hulu, Rokan Hilir, Pelalawan, Rokan Hilir, Siak, Natuna, Karimun, Batam, Dumai, dan Karimun.
Konon Gubernur Riau Saleh Djasit bingung – bukan karena Riau bukan kekurangan SDM tapi sebaliknya kebanyakan SDM. “SDM kita banyak – sementara yang ditunjuk hanya satu orang,” kelakar Saleh Djasit kepada wartawan.
Di media kala itu diberitakan Saleh Djasit mengirimkan tiga nama di masing masing daerah pemekaran kepada Presiden RI, BJ. Habibie untuk diangkat jadi Pjs. Bupati atau Wali Kota.
Beredar di media tiga nama dari Kuantan Singingi yang layak menduduki jabatan tersebut. Nama tersebut adalah Raja Erisman, Mohammad Ris Hasan, dan Rusjdi S. Abrus. Versi lain juga disebut nama: Akmal JS, Raja Erisman, dan Rusjdi S. Abrus.
Alumni APDN Tumbang.
REALITASNYA memang seperti itu. Alumni APDN banyak mengisi jabatan Pjs. bupati/ wali kota hasil pemekaran di Riau. Sebut saja Ahmad (Rokan hulu), Arwin AS (Siak), Najib Soesiladarma (Batam), M. Sani (Karimun), dan Andi Rivai Siregar (Natuna).
Di Kuantan Singingi justru alumni Universitas Riau yang diangkat Presiden RI, BJ Habibie jadi Pjs. Bupati. Dia adalah Rusjdi S Abrus. Bersama Pjs. bupati dan wali kota hasil pemekaran mereka dilantik sama pada 12 Oktober 1999 di Departemen Dalam Negeri, Jakarta.
Lalu siapa Sekretaris Daerah Kuantan Singingi yang mendampingi Rusjdi. Ini menarik untuk disimak. (Bersambung)







