Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Rabu, 24 Juni 2026: Tanjungpinang hingga Anambas Didominasi Cuaca Berawan Kasus Malaria di Tanjung Sebauk Capai Ratusan, TP PKK Kepri Dorong Warga Perkuat Pencegahan Berbasis Lingkungan Sekolah Rakyat Kepri Diprioritaskan di Dompak, Pemprov Targetkan Tiga Lokasi Mulai Dibangun Tahun 2026 Dapat Anugrah JMSI Award, Kapolda Riau: Saya Terima dengan Senang Hati Respons Cepat Aduan Masyarakat, Dua Penyalahguna Narkoba Diamankan di Jalan Lintas Duri–Dumai KM 12 Balai Makam Usai Kalah hingga Mahkamah Agung, Swandi Kembali Pagar Aset Pemkab Meranti, Satpol PP Siap Turun dan Bongkar

Riau

Pengamat Nilai Kematian 5 Anak Talang Mamak Akibat ISPA Adalah Kegagalan Sistem Pemerintah

badge-check


					Aspandiar, SH. (Foto: ist) Perbesar

Aspandiar, SH. (Foto: ist)

RiauKepri.com, PEKANBARU- Pengamat hukum Riau, Aspandiar SH, menilai peristiwa kematian lima anak Suku Talang Mamak akibat wabah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebagai gambaran kegagalan sistem pemerintah.

Aspandiar juga menyebutkan, keterbatasan akses kesehatan dan fasilitas sanitasi sebagai faktor krusial yang menyebabkan terlambatnya penanganan korban. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan ketidakhadiran pemerintah dalam musibah tersebut.

Aspandiar yang juga pengurus LAMR Provinsi itu mendorong agar peristiwa ini dibawa ke ranah hukum melalui gugatan class action. Gugatan tersebut, kata dia, tidak hanya menyoal absennya pemerintah saat warga membutuhkan bantuan, tetapi juga menuntut tanggung jawab atas konsekuensi dari ketidakhadiran tersebut.

“Langkah hukum penting dilakukan sebagai pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang,” ungkap Aspandiar.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, warga Suku Talang Mamak di Dusun Datai, Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, mengalami kejadian luar biasa setelah wabah ISPA melanda permukiman mereka. Lima anak dilaporkan meninggal dunia, dan informasi ini dibenarkan Kapolsek Batang Gansal, Iptu Agus Ferinaldi.

Kelima anak tersebut masing-masing adalah Ira, Riki, Itar, Andra, dan Dinda, yang meninggal pada rentang Oktober hingga awal November 2025. Warga lainnya, baik anak-anak maupun orang dewasa, saat ini masih mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek, mual, dan hilang selera makan.

Upaya penanganan dilakukan secara terpadu oleh kepolisian, petugas kesehatan, TNI, dan Kementerian Kesehatan. Langkah yang diambil meliputi pelayanan kesehatan door to door, pemberian obat, penyediaan oksigen, edukasi PHBS, inspeksi sanitasi, hingga pengambilan sampel swab dan dahak terhadap 21 warga. Kemenkes juga menyalurkan oksigen konsentrator dan makanan tambahan untuk ibu hamil serta ibu dengan bayi, sementara Kepala Dinas Kesehatan Inhu belum memberikan tanggapan terkait KLB tersebut. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dapat Anugrah JMSI Award, Kapolda Riau: Saya Terima dengan Senang Hati

23 Juni 2026 - 19:02 WIB

Bupati Afni Perjuangkan KITB Kembali Jadi PSN dan Revitalisasi Istana Siak

23 Juni 2026 - 10:00 WIB

Bedah Novel Rida K Liamsi Jadi Ruang Mahasiswa Mengenal Sejarah Melayu

22 Juni 2026 - 17:33 WIB

BRK Syariah Dukung Suksesnya Sensus Ekonomi 2026 untuk Perkuat Fondasi Perekonomian Riau

22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Anak Siak Terpilih Jadi Paskibraka Nasional, Ukir Sejarah Baru bagi Negeri Istana

22 Juni 2026 - 14:52 WIB

Trending di Pekanbaru