DI Riau ini, Wak, yang paling laris bukan minyak sawit atau sagu lemak manis. Yang paling laris itu, ramalan kawan sekampung.
Kawan aku itu bukan dukun, bukan pula ahli nujum. Tapi tiap Ramadan mulutnya macam radio rusak, berbunyi, tapi tak jelas gelombangnya. Katanya akan ada peristiwa besar. Katanya akan ada gerakan bersejarah.
“Ape bende alah tu, Wak?” tanya aku.
Dia jawab dengan gaya paling Melayu:
“Bacalah tanda.”
Nah, di situlah kepala aku berasap macam dapur kayu basah. Alam Itu Buku, Tapi Kita Malas Membaca. Orang Melayu diajarkan, alam ini kitab terbentang.
Awan itu huruf. Angin itu kalimat.
Air pasang itu paragraf. Tapi sekarang, Wak, yang kita baca bukan lagi alam, kita baca status WhatsApp.
Dulu emak cakap:.Ayam berkokok tengah hari, tanda air nak pasang.
Ayam berkokok petang-petang, tanda ada orang buat hal tak senonoh.
Sekarang ayam berkokok, orang bilang: “Kontennya mana? Viral tak?”
Padahal tanda tetap tanda. Cuma mata kita yang sudah rabun oleh kepentingan.
Kawan aku itu mungkin tak salah. Lepas Pilkada, orang tersenyum manis macam kuih bangkit. Tapi dalam hati? Ada yang masih keras macam nasi jelantah.
Dalam adat Melayu ada pesan: Kalau hendak menebang pohon, tenguk dulu bayangnya. Maknanya, sebelum membuat keputusan besar, tengok dulu kesannya. Jangan sampai pohon tumbang, rumah sendiri yang tertimpa.
Peristiwa besar itu boleh jadi bukan gempa, bukan ribut, tapi kesadaran. Gerakan besar itu boleh jadi bukan demo, tapi rasa malu yang bangkit berjemaah.
Tapi kalau yang bangkit cuma ego dan perut yang lapar kuasa, itu bukan gerakan sejarah, itu cuma barisan orang tersinggung.
Dalam pesan adat Melayu juga menyebutkan, Mulut itu harimau, Wak. Kalau dilepas tanpa tali adat, habis kampung diterkamnya.
Kalau ada yang bercakap menyinggung tuan rumah sebagai pemilik tanah, itu bukan sekadar kata-kata. Itu api dalam sekam. Orang Melayu ini sabar, tapi sabar bukan berarti tak punya marwah.
Kalau marwah sudah disentuh, kalau tanah sudah diusik, kalau adat sudah diperlekeh,
yang bangkit itu bukan lagi demo biasa, itu namanya bangkit harga diri. Tapi ingat juga pesan datuk-datuk, Kalau hendak melawan, jangan sampai merobohkan rumah sendiri.
Ramadan itu bulan cermin. Segala niat nampak jelas. Kalau ada kabar baik datang, mungkin itu rezeki yang selama ini tertahan. Kalau ada gerakan besar datang, mungkin itu suara hati yang lama terpendam.
Tapi Wak, kadang peristiwa besar bukan yang mengguncang bumi. Peristiwa besar itu ketika orang mulai sadar
Bahwa kuasa itu amanah.
Bahwa tanah ini bukan warisan untuk diperebutkan, tapi titipan untuk dijaga.
Bahwa adat bukan hiasan seremoni, tapi pagar supaya kita tak jadi binatang berjas.
Jadi, Wak. Apa yang dimaksud kawan kita tu, kalau ayam sudah berkokok, jangan tunggu kokok kedua.
Tanda sudah banyak. Petanda sudah jelas.
Cuma kita saja yang pura-pura tak faham.
Macam orang nampak awan hitam, tapi tetap jemur kain.
Akhirnya kain basah, baru menyalahkan langit. Begitulah kita, Wak..Ramai pandai membaca tanda di langit, tapi lupa membaca tanda di hati sendiri.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







