Menu

Mode Gelap
Aklamasi, Dr M Taufikurrahman Kembali Dipercaya Jadi Ketua PD IKA UNRI Meranti Peredaran Narkoba di Desa Bumbung Digagalkan, Polisi Amankan Pelaku dan Barang Bukti ASEAN Menuju Usia 59 Tahun Spider Jujitsu Batam Raih Juara Umum III di Jakarta Jiu Jitsu Open 2026, Bawa Pulang 13 Medali Bersulang Geleng Bhabinkamtibmas Mentayan Tanam Cabe Bersama Masyarakat

Riau

Terkilan

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

WAK, kalau sudah cerita pasal terkilan ini, memang sampai ke anak tekak rasanya. Ibarat nasi sudah terhidang, lauk pun berkuah gulai lemak, tinggal duduk bersila, eeh alih-alih dulang ditarik orang. Tinggallah kita menjilat bibir, menahan liur yang hampir meleleh macam hujan rintik di atap rumbia.

Kisahnya bukan tak biasa dalam negeri kita yang kaya adat ini. Nama sudah diumumkan, kabar pun sudah berembus sampai ke kedai kopi ujung kampung. Orang kampung sudah bersiap hendak menyebut Pak Komut, Pak Dir, di depan nama, tapi takdir berkata lain. Badai datang bukan sekadar angin lalu, tapi macam ribut dari hulu, menggoyang tiang yang disangka sudah kokoh.

Puncanya, Wak, bukan soal nasib semata. Ini soal si kodong dapat cincin besar. Bila cincin sudah di tangan, dia pun terpange-pange, tak tahu jari mana hendak disarungkan. Akhirnya cincin itu dipakai di jari kaki, habis itu adatpun hilang arah.

Maka mulailah cerita “asal dekat, asal kenal, asal sedap mata memandang” semua dapat tempat. Tak kira pandai atau tidak, tak kira layak atau sekadar pandai mengangguk waktu rapat. Yang penting, duduk semeja, minum secawan, terus dapat kursi empuk. Ini bukan lagi adat bertimbang rasa, tapi sudah jadi adat timbang kawan.

Padahal orang tua-tua Melayu sudah lama berpesan, “Usah kerbau disuruh panjat pokok, alamat patah dahan, jatuhlah dia.” Maksudnya terang benderang, kerja mesti pada ahlinya. Kalau tidak, bukan saja kerja rusak, marwahpun ikut roboh.

Yang lebih lucu dan menyedihkan, Wak, yang terkilan ini sebenarnya masih selamat. Tak perlu beradu nasib dengan dinginnya lantai besi atau panasnya ruang sempit penuh nyamuk berdendang lagu malam. Sementara si kodong yang pandai membagi cincin tadi, sekarang tidur ditemani “orkestra nyamuk,” tiap malam konser tak henti-henti. Itulah adat alam: siapa menabur angin, dia menuai ribut dan kadang bonusnya gigitan nyamuk sekampung.

Adat Melayu ini sebenarnya halus, Wak. Dia tak suka menunjuk, tapi tajam dalam menyindir. Bila orang sudah tak mengapik adat dan agama, tak lagi tahu mana patut mana tidak, maka yang terjadi bukan sekadar salah langkah tapi salah jalan.

Sampailah ke rapat besar orang-orang berdasi itu, yang namanya panjang berjela, RUPS Luar Biasa. Di situ barulah tersadar, rupanya banyak yang tak kena. Nama-nama yang dulu dielu-elukan, kini disimpan kembali dalam laci. Katanya hendak diasesmen ulang, ditimbang semula, diukur bukan dengan tali persahabatan, tapi dengan benang kelayakan.

Jabatan yang disebut-sebut pun bukan kecil: Komisaris Utama, Komisaris Independen, Direktur Utama, sampai ke Direktur Dana dan Jasa. Semuanya posisi yang kalau salah isi, bukan sekadar kursi yang goyang, kapal pun bisa karam di tengah selat.

Maka jadilah kita ini, Wak, penonton di tepi gelanggang. Sambil mengunyah kacang rebus, kita lihat orang besar bermain langkah. Kadang ketawa, kadang geleng kepala. Tapi dalam hati tetap berharap, biarlah kali ini mereka ingat pesan nenek moyang: “Biar lambat asalkan selamat, biar tepat daripada cepat.”

Karena kalau masih juga cincin besar dipakaikan ke jari yang salah, jangan salahkan takdir kalau tangan sendiri yang patah.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

ASEAN Menuju Usia 59 Tahun

31 Mei 2026 - 11:17 WIB

Bersulang Geleng

31 Mei 2026 - 09:59 WIB

Pembisik Negeri

30 Mei 2026 - 08:11 WIB

Ganja Kakus

30 Mei 2026 - 07:29 WIB

Dunia Seni Riau Berduka, Dua Senimannya Meninggal Dunia

28 Mei 2026 - 21:07 WIB

Trending di Riau