RiauKepri.com, SIAK – Mahasiswa KKN Tematik/Binadesa Pendidikan Bahasa Melayu (PBM) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning turut menghadiri prosesi pernikahan adat Melayu pasangan Elvi dan Veroon pada 8 Juni 2026 di Sungai Mempura, Kabupaten Siak. Kehadiran mahasiswa dalam acara tersebut menjadi pengalaman berharga untuk menyaksikan secara langsung adat Melayu yang masih terjaga dan dilaksanakan dengan penuh penghormatan oleh masyarakat setempat.
Suasana adat mulai terasa ketika rombongan mempelai pria datang berarak menuju rumah mempelai perempuan dengan iringan tabuhan kompang dari Grup Kompang Sri Kembayat (Cahaya Negeri). Bunyi kompang yang menggema menyatu dengan langkah arak-arakan, menghadirkan suasana yang khidmat dan penuh kebersamaan. Masyarakat yang hadir tampak antusias menyaksikan rangkaian prosesi yang memperlihatkan kuatnya budaya Melayu di Sungai Mempura.
Setibanya di halaman rumah mempelai perempuan, rombongan disambut dengan atraksi Silat Kubu yang dibawakan oleh Hapis Azmar dan Bapak Nasrun. Gerakan silat yang tegas namun penuh penghormatan memperlihatkan seni bela diri Melayu yang diwariskan turun-temurun. Setiap langkah dan gerakan menjadi simbol penyambutan kepada mempelai lelaki beserta rombongan keluarga yang datang.
Prosesi Silat Kubu berlangsung hingga di batas yang ditandai dengan daun kelapa. Setelah itu, kedua pesilat berdamai sebagai tanda diterimanya rombongan mempelai lelaki. Suasana kemudian dilanjutkan dengan tradisi saling melempar beras kuning yang melambangkan doa, restu, dan harapan baik bagi kehidupan rumah tangga kedua mempelai.
Prosesi berikutnya dilanjutkan dengan Silat Sembah yang dibawakan oleh Darimel dan Ocu Bain dan M. Yunus sebagai bentuk penghormatan sebelum mempelai lelaki dipersilakan memasuki rumah mempelai perempuan. Gerakan yang ditampilkan memperlihatkan kelembutan adat Melayu yang menjunjung tinggi sopan santun dan tata krama.
Suasana adat semakin terasa ketika berlangsung tradisi palang pintu yang dipimpin oleh Bapak Syahril A. M. A. Dalam prosesi tersebut terjadi balas pantun berbahasa Melayu antara kedua pihak keluarga sebelum rombongan diperbolehkan masuk. Pantun-pantun yang disampaikan tidak hanya menghibur para tamu, tetapi juga menunjukkan indahnya bahasa Melayu yang masih terus dijaga hingga saat ini.
Setelah seluruh rangkaian adat selesai dilaksanakan, acara dilanjutkan dengan makan beradat bersama keluarga dan tamu undangan. Tradisi pernikahan adat Melayu di Sungai Mempura ini menjadi gambaran bahwa budaya Melayu masih hidup, dijaga, dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas masyarakat Siak. (Rls)







