RiauKepri.com, SIAK– Setelah berbagai upaya dilakukan selama setahun terakhir, Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli, M.Si memastikan bahwa alokasi dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp5,5 miliar berhasil didapatkan untuk revitalisasi dua bangunan cagar budaya, yakni Istana Siak dan Balairung Sri. Meski demikian, Pemkab Siak masih mengajukan tambahan anggaran Rp9 miliar lagi kepada Kementerian Kebudayaan agar pemugaran cagar budaya dapat dilakukan secara menyeluruh.
Hal tersebut disampaikan Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, M.Si didampingi Wakil Bupati Syamsurizal, saat menerima kunjungan kerja Ketua Komisi X DPR RI Dr. Hetifah Sjaifudian, MPP. Bersama anggota Komisi X DPR RI dari Daerah Pemilihan Riau Karmila, serta sejumlah anggota Komisi X lainnya, para Direktur jenderal, Direktur kementerian mitra Komisi X, serta Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI di Kota Siak, Rabu (22/7/2026).
“Alhamdulillah, tahun ini Istana Siak dan Balairung Sri memperoleh alokasi anggaran pemugaran atau revitalisasi sebesar Rp5,5 miliar yang bersumber murni dari APBN. Kami berterimakasih pada Bapak Menteri Kebudayaan. Ini tentu kita syukuri. Insyaallah pekerjaan revitalisasi mulai dilaksanakan dalam tahun ini. Mohon doanya semoga diberi kelancaran,” ungkap Afni.
Namun menurutnya anggaran tersebut baru cukup untuk penanganan awal sehingga belum mampu menjawab seluruh kebutuhan pemugaran. Saat ini terdapat tiga bangunan cagar budaya yang menjadi prioritas pelestarian, yakni Istana Siak, Balairung Sri, dan Tangsi Belanda. Karena itu, dalam kunjungan Komisi X DPR RI, Pemkab Siak sekaligus menyerahkan usulan tambahan anggaran revitalisasi sebesar Rp9 miliar.
Sementara itu Ketua Komisi X DPR RI Dr.Hetifah Sjaifudin, MPP mengaku terkesan dengan kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki Kabupaten Siak. Bahkan Hetifah menyampaikan bahwa selama empat periode bertugas di Komisi X DPR RI, baru kali ini ia menyaksikan begitu kayanya warisan budaya sejarah di sebuah daerah, mulai dari cagar budaya benda, budaya tak benda, kuliner, alat musik tradisional hingga peninggalan sejarah lainnya.
“Saya rasanya tak mau pulang. Siak sungguh luar biasa. Bupatinya juga luar biasa dan senang bisa bertemu langsung beliau, biasa melihat di tik tok saja. Kami sekarang sudah lihat langsung kondisi tangsi Belanda, Istana Siak dan Balairung Sri. InsyaAllah akan langsung disampaikan kepada Menteri Kebudayaan agar revitalisasi cagar budaya di Siak menjadi salah satu prioritas pemerintah. Kami dari Komisi X akan mengawal bersama usulan dari Ibu Bupati Siak,” ungkap Hetifah.
Sementara itu, melalui surat resmi kepada Menteri Kebudayaan tertanggal 22 Juli 2026, Pemerintah Kabupaten Siak mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp9 miliar untuk dialokasikan pada APBN Tahun Anggaran 2027 dan 2028.
Dalam surat tersebut dijelaskan, alokasi APBN tahun 2026 sebesar Rp5,5 miliar terdiri dari Rp3 miliar untuk revitalisasi Istana Siak dan Rp2,5 miliar untuk Balairung Sri. Dana itu diprioritaskan untuk penanganan darurat pada bagian konstruksi yang mengalami kerusakan berat, sekaligus mencakup biaya penyusunan Detail Engineering Design (DED), konsultan pengawas, dan manajemen pengelolaan, sehingga pekerjaan tahun ini masih bersifat parsial.
Pemkab Siak mengusulkan tambahan Rp4 miliar untuk penyempurnaan revitalisasi Istana Siak, Rp2,5 miliar untuk Balairung Sri, serta Rp2,5 miliar untuk pemugaran Tangsi Belanda yang hingga kini belum memperoleh alokasi anggaran.
Dengan demikian, total kebutuhan revitalisasi tiga bangunan cagar budaya tersebut mencapai Rp14,5 miliar. Setelah dikurangi dana APBN 2026 yang telah diterima sebesar Rp5,5 miliar, masih terdapat kekurangan anggaran Rp9 miliar yang diharapkan dapat dipenuhi pemerintah pusat pada tahun 2027.
Afni berharap tambahan anggaran tersebut dapat direalisasikan sehingga revitalisasi Istana Siak, Balairung Sri, dan Tangsi Belanda dapat dilakukan secara menyeluruh sebagai upaya menjaga warisan sejarah Kabupaten Siak yang telah berusia lebih dari tiga abad.
Rangkaian kunjungan rombongan Komisi X DPR RI di Siak, sebelum ke Istana Siak meninjau hasil revitalisasi SD Negeri 001 Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura. Selanjutnya, makan beranyut di tepian Sungai Siak, kemudian mengunjungi sejumlah destinasi sejarah dan religi, di antaranya Masjid Sahabuddin, Kompleks Makam Sultan Syarif Kasim II, dan ditutup dengan peninjauan ke Istana Siak. (RK1)








