RiauKepri.com, BANGKINANG — Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau terus bergerak masif dalam mengawal pelestarian kebudayaan di dunia pendidikan. Setelah sebelumnya sukses menggelar kegiatan serupa di Kabupaten Pelalawan, kini giliran para pendidik di Kabupaten Kampar yang mendapatkan pembekalan serupa.
LAMR Provinsi Riau resmi menaja Pelatihan Penguatan Keterampilan Guru Muatan Lokal (Mulok) Budaya Melayu Riau (BMR) untuk tingkat SD, SMP, dan SMA se-Kabupaten Kampar. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 9 hingga 11 Juli 2026 ini. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Kampar, Dr. Hj. Misharti, S.Ag., M.Si.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Provinsi Riau, Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah krusial untuk memastikan estafet nilai-nilai luhur budaya Melayu agar tidak terputus.
”Pelatihan ini sangat penting bagi keberlangsungan pewarisan budaya kepada generasi mendatang. LAMR Provinsi Riau akan terus mendorong pewarisan ini melalui jalur sekolah formal. Apalagi saat ini, mata pelajaran Mulok BMR dari tingkat SD sampai SMA sudah resmi terdaftar dalam sistem Dapodik,” ujar Datuk Seri Taufik Ikram Jamil.
Konsistensi LAMR Provinsi Riau ini menjadi kelanjutan dari komitmen mereka saat mengadakan pelatihan di Pelalawan. Pola penguatan guru mulok ini sengaja dilakukan secara estafet antarkabupaten guna memastikan standardisasi kompetensi guru BMR merata di seluruh wilayah Bumi Lancang Kuning.
Wakil Bupati Kampar, Dr. Hj. Misharti, S.Ag., M.Si.—yang juga mengemban amanah sebagai Pengurus LAMR Provinsi Riau sekaligus Ketua PGRI Kabupaten Kampar— menyampaikan apresiasi yang mendalam atas inisiatif LAMR Riau memilih Kampar sebagai lokus pelatihan berikutnya. Menurutnya, Kabupaten Kampar memiliki karakteristik kebudayaan yang sangat kaya, unik, dan beragam. Oleh karena itu, kehadiran ruang-ruang akademis seperti pelatihan ini sangat dinantikan.
Wakil Bupati juga mengatakan peningkatan kompetensi yang diusung pelatihan ini diharapkan mampu mendongkrak pengetahuan serta keterampilan praktis guru dalam mengajar BMR. Majelis ilmu seperti ini dinilai penting untuk membedah, mendiskusikan, dan merawat seluruh entitas kebudayaan Kampar secara menyeluruh agar bisa diajarkan dengan tepat kepada generasi muda.
Dampak positif dari pelatihan estafet ini langsung dirasakan oleh para peserta. Melanjutkan testimoni sukses dari para guru di Pelalawan, para guru di Kampar pun mengakui bahwa kegiatan ini memberikan penyegaran dan amunisi baru yang sangat berharga. Pelatihan ini dinilai berhasil menambah kompetensi pedagogis dan substansi materi kebudayaan, sehingga para guru merasa lebih percaya diri dalam mengelola proses belajar-mengajar Mulok BMR di sekolah masing-masing. Melalui sinergi antara LAMR, pemerintah daerah, dan para pendidik, mata pelajaran Budaya Melayu Riau diharapkan tidak sekadar menjadi pelengkap kurikulum di Dapodik, melainkan menjadi fondasi karakter bagi generasi muda Riau yang berakar pada adat dan beradab. (*)








