RiauKepri.com, SIAK– Bupati Siak Dr.Afni Zulkifli, tampil anggun berbusana melayu pada rangkaian puncak peringatan HUT Kabupaten Siak ke 27 tahun, Senin (10/12/2026). Tidak sebatas dikenakan, ternyata ada cerita unik dan pesan sejarah, serta nilai kelestarian budaya Siak yang ingin ditunjukkan.
“Ibu Bupati sangat mencintai kelestarian budaya leluhurnya. Beliau ingin tampil berbaju melayu dengan bahan biasa saja namun sarat makna, dan baju ini dijahit mendadak sehari sebelumnya, oleh penjahit UMKM lokal Siak saja,” ungkap Yulita, ajudan Bupati Siak, Selasa, 13 Oktober 2026.
Pertama, saat memimpin upacara peringatan HUT Siak di depan Istana Asserayah Hasyimiyah, Bupati perempuan pertama Siak itu mengenakan baju kain tenun Siak berwarna ungu tua dengan motif tradisional Melayu. Busana tersebut bukan sekadar pakaian seremonial, melainkan representasi identitas dan warisan kebesaran Kerajaan Siak Sri Indrapura.
Busana yang dirancang khusus untuk Afni itu terinspirasi dari pakaian yang pernah dikenakan Permaisuri Sultan Siak, Tengku Agung Sultanah Latifah. Perpaduan warna, motif, dan detail rancangannya menghadirkan kembali jejak keanggunan perempuan Melayu dalam perayaan hari jadi negeri yang dikenal dengan sejarah panjang kesultanan tersebut.
Warna ungu tua yang menjadi dasar busana melambangkan kebangsawanan dan kearifan. Sementara itu, motif pucuk rebung yang menghiasi kain menyiratkan harapan dan kekuatan. Sedangkan motif tampuk manggis menggambarkan keramahan dan kemurahan hati.
Kedua motif tersebut mempertemukan nilai estetika dengan pesan filosofis yang lekat dalam tradisi Melayu. Di tengah potongan busana yang memadukan unsur klasik dan sentuhan modern, detail bros serta payet keemasan memperkuat kesan anggun dan berwibawa.bSelendang dengan motif tradisional senada melengkapi penampilan Afni.
“Keseluruhan rancangan itu menegaskan bahwa kain tenun Siak bukan hanya produk kerajinan, tetapi juga wastra warisan kerajaan yang menyimpan nilai sejarah dan identitas masyarakat Siak,” kata Yulita.
Penampilan Afni dalam balutan busana bernuansa kerajaan itu sekaligus menghadirkan gambaran tentang perempuan Melayu yang memadukan kepemimpinan, keteguhan, kesantunan, dan kebanggaan terhadap akar budayanya.
Busana tersebut menjadi pengingat bahwa peringatan hari jadi daerah tidak hanya berbicara tentang usia dan pembangunan, tetapi juga tentang bagaimana warisan leluhur tetap hidup melalui generasi masa kini.
Tampil Berbeda di Paripurna DPRD
Penampilan Afni juga mencuri perhatian dalam rangkaian peringatan HUT ke-27 Kabupaten Siak di DPRD Siak. Jika saat upacara ia mengenakan busana tenun Siak yang terinspirasi dari Permaisuri Sultan Siak, pada agenda di gedung dewan ia tampil dengan Baju Kurung Laboh, pakaian adat Melayu yang sarat nilai kesantunan, kesederhanaan dan kehormatan.
Busana tersebut dipadukan dengan Tudung Lingkup berwarna emas yang membingkai wajahnya dengan anggun. Baju Kurung Laboh sendiri merupakan salah satu pakaian tradisional Melayu yang kini diusulkan Provinsi Riau sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Potongannya yang longgar dan menjuntai hingga di bawah lutut mencerminkan kesopanan serta penghormatan terhadap nilai adat dan syariat. Siluetnya yang sederhana justru menampilkan keanggunan tanpa kesan berlebihan.
Afni memadukannya dengan kain bercorak tenun lejo kotak-kotak yang senada dengan penutup kepala. Dalam filosofi yang disematkan pada rancangan tersebut, motif kotak-kotak dimaknai sebagai lambang kejujuran, kejernihan hati, dan keselarasan antara kebaikan di dalam diri dengan perilaku yang terlihat.
Sementara itu, Tudung Lingkup berwarna emas menyempurnakan penampilan. Warna tersebut menyiratkan kehormatan, kerendahan hati, dan perlindungan terhadap perempuan Melayu.
Dua penampilan Afni dalam rangkaian HUT Siak tahun ini memperlihatkan kekayaan ragam busana tradisional Melayu, mulai dari tenun Siak yang berakar pada tradisi kerajaan hingga Baju Kurung Laboh yang terus dipertahankan sebagai identitas budaya.
Di tengah perayaan usia ke-27 Kabupaten Siak, pesan yang dibawa busana-busana itu terasa lebih luas daripada sekadar penampilan seorang kepala daerah. Ada sejarah yang dikenang, filosofi yang diwariskan, dan identitas Melayu yang terus dirawat agar tidak terputus oleh perubahan zaman. (RK1)










