RiauKepri.com, PEKANBARU– Suasana Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Jalan Diponegoro, Pekanbaru, Senin (19/10/2026), mendadak riuh oleh gelak tawa. Bukan karena ada yang berbalas pantun sampai kalah, melainkan gara-gara Kapolda Riau Irjen Pol. Arman Achdiat, S.I.K., M.Si., datang membawa bekal 16 pantun.
Namun, jangan buru-buru membayangkan ke-16 pantun itu bakal ditumpahkan sekaligus di hadapan para datuk. Kapolda ternyata punya hitungan sendiri. Bahkan, ia sempat berkelakar masih ada 16 pantun lagi yang belum dibacakan.
Kehadiran Arman bersama rombongan disambut Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Provinsi Riau Datuk Seri H. Marjohan Yusuf, Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Provinsi Riau Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, serta sejumlah pengurus LAMR lainnya.
Mengawali silaturahmi, Kapolda membuka suasana dengan membacakan pantun. Pengakuannya soal membawa 16 pantun sontak mengundang tawa dan tepuk tangan para hadirin.
Rupanya, kunjungan ke rumah besar masyarakat Riau itu tak hanya menjadi ajang silaturahmi resmi. Kapolda juga membawa cerita keluarga yang membuat suasana semakin cair.
Arman bercerita memiliki enam orang anak dan dua cucu. Dari enam anak tersebut, anak kelima dan keenam merupakan pasangan kembar yang kini masih duduk di bangku SMP.
Cerita paling mengundang senyum muncul ketika Arman membahas sang istri yang saat ini tinggal di Bandung.
Menurut Kapolda, istrinya mengaku percaya kepadanya hingga 80 persen. Sementara 20 persen sisanya, dengan nada bercanda, was-was, diserahkan kepada lingkungan Polda Riau.
Pengakuan itu membuat para datuk yang hadir tertawa. Maklum, menjadi Kapolda rupanya bukan hanya soal menjaga keamanan daerah, tetapi juga menjaga kepercayaan di rumah tangga.
Suasana semakin hangat ketika Ketua Umum DPH LAMR Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil memperkenalkan Puan Dinawati dan kalangan perempuan LAMR. Mereka disebut memiliki kemampuan luar biasa dalam menggerakkan kegiatan. Ketika meminta satu orang, yang datang bisa tujuh orang.
Hebatnya lagi, kegiatan yang mereka jalankan bisa berlangsung dengan biaya sendiri.
Mendengar cerita tentang kekuatan perempuan itu, Kapolda langsung mengeluarkan kisah pengalamannya sendiri.
Pagi harinya, ia mengaku memantau lalu lintas di tengah kegiatan terkait kebakaran hutan dan lahan (k
Karhutla). Dalam kegiatan itu, ia melihat dua orang mengendarai sepeda motor tanpa helm.
Namun, ketika didekati dan diketahui pengendaranya perempuan, ia mengaku memilih balik kanan bersama anggotanya. Tentu saja, cerita itu disampaikan dalam nada gurauan yang kembali mengundang gelak tawa.
Kapolda Arman kemudian menyinggung kebiasaan pengendara yang lampu sein-nya menyala ke kanan, tetapi kendaraannya justru berbelok ke kiri. Begitulah, menurut kelakar Kapolda, kekuatan the power of emak-emak. Bahkan, dalam urusan lalu lintas pun, polisi bisa dibuat harus berpikir dua kali. “Ditabrak pun kita, tetap kita yang salah,” gurau Kapolda dan ketawa kembali pecah.
Meski demikian, cerita tersebut menjadi bumbu humor dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban itu, bukan ajakan untuk mengabaikan aturan lalu lintas.
Di penghujung silaturahmi, sesi foto bersama pun digelar. Lantas, bagaimana nasib 16 pantun yang dibawa Kapolda? Ternyata, tidak semuanya dibacakan. Selebihnya hanya menjadi bagian dari gurauan yang sukses mencairkan suasana di Balai Adat LAMR.
Para datuk pun pulang membawa cerita, sementara Kapolda meninggalkan kesan bahwa silaturahmi dengan lembaga adat tak harus selalu berlangsung kaku. Sesekali, pantun, kisah keluarga, dan gurauan ringan justru menjadi jembatan untuk mendekatkan polisi dengan masyarakat adat.
Sebab, di rumah besar Melayu, selain petuah dan tunjuk ajar, gelak tawa juga punya tempat tersendiri. (RK1)









