RiauKepri.com, PEKANBARU– Kunjungan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, ke Riau dalam rangka peringatan Hari Kebudayaan Nasional (HKN) 2026 tak sekadar menghadiri perayaan. Sejumlah gagasan besar tentang pengembangan situs sejarah, pembangunan museum, hingga penulisan sejarah Riau turut mengemuka dan siap ditindaklanjuti bersama.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau (DPH LAMR), Datuk Seri Haji Taufik Ikram Jamil, menyatakan kesiapan LAMR untuk bekerja sama mewujudkan gagasan Menteri Kebudayaan tersebut.
Gagasan itu disampaikan Fadli Zon dalam dua agenda pada Ahad (18/10/2026), yakni saat menghadiri puncak HKN melalui Arak-arakan Keberagaman, Persebatian Antaretnis di Balai Adat LAMR serta ketika mengunjungi Kompleks Percandian Muara Takus di Kabupaten Kampar. Dalam kunjungan ke Muara Takus, Fadli turut didampingi Taufik Ikram Jamil.
Menurut Datuk Seri Taufik berbagai gagasan yang disampaikan Menteri Kebudayaan tersebut perlu disambut secara kreatif dan cepat oleh seluruh komponen masyarakat Riau. Sebab, gagasan itu bukan hanya menyangkut pelestarian peninggalan masa lalu, tetapi juga bagaimana sejarah dan kebudayaan menjadi kekuatan pembangunan daerah.
Salah satu perhatian utama Fadli Zon adalah pengembangan Kompleks Percandian Muara Takus. Kawasan ini dinilai memiliki potensi besar untuk mengungkap lebih jauh jejak peradaban masa lampau di Riau.
Fadli mengemukakan gagasan pembebasan atau pengadaan lahan untuk mendukung penelitian dan pengembangan situs-situs yang diduga memiliki tinggalan arkeologis baru, termasuk di sekitar 100 meter dari kompleks candi yang telah dikenal saat ini.
Selain itu, muncul gagasan untuk menghadirkan museum di kawasan Muara Takus. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat mengenai sejarah dan peradaban yang berkembang di kawasan itu sejak masa lampau, termasuk kaitannya dengan peradaban Melayu tua.
Bagi Datuk Seri Taufik, pengembangan Muara Takus harus dilakukan dengan visi yang lebih luas. Kawasan ini tidak cukup hanya dipandang sebagai kumpulan bangunan candi, tetapi juga sebagai ruang sejarah, pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata.
Daya tariknya pun tidak semata-mata terletak pada peninggalan sejarah. Perjalanan dari Pekanbaru menuju Muara Takus melalui jalan tol menawarkan pemandangan alam yang menarik, sehingga berpotensi memperkuat pengalaman wisata bagi pengunjung.
Datuk Seri Taufik menyebutkan, kawasan yang diperkirakan mencapai hampir 150 hektare itu perlu ditelaah lebih lanjut untuk mengetahui potensi dan batas kawasan inti pengembangan peradaban masa lampau tersebut.
Dalam upaya menindaklanjuti gagasan itu, Menteri Kebudayaan langsung bersedia membantu membuka komunikasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk PLN, mengingat terdapat lahan di kawasan tersebut yang berkaitan dengan penguasaan lahan untuk kepentingan pembangunan pembangkit listrik tenaga air.
Bagi LAMR, dukungan lintas lembaga menjadi penting agar pengembangan Muara Takus dapat berjalan dengan tetap memperhatikan pelestarian situs, kepentingan masyarakat, serta nilai sejarah yang dikandungnya.
Selain Muara Takus, gagasan pengembangan museum di Riau juga menjadi perhatian. Taufik menyebutkan, Fadli Zon turut menyinggung perlunya museum perminyakan dan museum perjuangan sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan perjalanan sejarah dan identitas Riau.
Gagasan tersebut dinilai relevan mengingat Riau memiliki sejarah panjang dalam industri perminyakan sekaligus perjalanan perjuangan masyarakatnya. Keberadaan museum diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda dan sarana memperkenalkan sejarah daerah kepada masyarakat luas.
Dalam konteks itu, Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, yang mewakili Plt Gubernur Riau, menyarankan agar pengembangan museum di Riau mengacu pada pengalaman pengelolaan Museum Nasional di Jakarta. Kajian tersebut dapat menjadi bahan rujukan untuk memperbaiki museum yang telah ada, termasuk Museum Sang Nila Utama, maupun merancang museum baru.
Syahrial juga menyarankan agar pengembangan Muara Takus mempelajari tata kelola Kompleks Percandian Muara Jambi. Kedua kawasan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikaji dalam konteks hubungan sejarah dan perkembangan peradaban masa lampau di Sumatera.
Ia menggambarkan Muara Jambi sebagai kawasan yang berkembang dengan dukungan pemerintah pusat, sehingga pengalaman pengelolaannya dapat menjadi pelajaran bagi pengembangan Muara Takus.
Tak kalah penting, Fadli Zon juga merespons positif keinginan LAMR untuk menyusun buku sejarah Riau. Bahkan, gagasan itu diarahkan agar dikembangkan menjadi buku sejarah Riau yang lebih komprehensif.
Menurut Datuk Seri Taufik, upaya tersebut dapat diselaraskan dengan program Kementerian Kebudayaan yang pada tahun ini menjalankan penulisan kembali sejarah nasional Indonesia. Dengan demikian, sejarah Riau diharapkan memperoleh ruang dokumentasi yang lebih kuat dalam narasi sejarah nasional.
Datuk Seri Taufik menilai, seluruh gagasan tersebut membutuhkan kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga adat, akademisi, budayawan, dan masyarakat. LAMR, katanya, siap mengambil bagian dalam upaya mewujudkannya.
Fadli Zon juga membuka peluang bagi komunitas dan pelaku kebudayaan untuk mengembangkan program melalui Dana Indonesiana. Dukungan tersebut dapat dimanfaatkan, antara lain, untuk kegiatan penulisan sejarah, pengembangan program kebudayaan, serta penyelenggaraan kegiatan seperti Arak-arakan Keberagaman yang menjadi puncak HKN di Riau.
Datuk Seri Taufik menyampaikan apresiasi atas perhatian Menteri Kebudayaan terhadap kebudayaan Melayu dan berbagai warisan sejarah di Riau. Ia berharap komunikasi yang telah terbangun dapat berlanjut menjadi program nyata, bukan berhenti sebagai gagasan dalam kunjungan kerja.
Bagi LAMR, momentum HKN 2026 menjadi kesempatan untuk memperkuat kolaborasi dalam merawat warisan budaya sekaligus mengangkat kembali peran Riau dalam perjalanan panjang peradaban Nusantara. Apa lagi Fadli Zon sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada LAMR, masyarakat Riau yang menyambut hari kebudayaan nasional pada tahun kedua ini setelah diumumkan pada tahun lalu. (RK1)









