Oleh Reski Sapitri
PENDAHULUAN
Karya sastra dapat dianalisis dari berbagai sudut pandang, tergantung pada metode dan model analisis yang digunakan. Namun, tidak sedikit pembaca atau penikmat sastra mengalami kesulitan dalam menafsirkan makna yang terkandung dalam sebuah karya, khususnya pada genre cerpen. Cerpen merupakan bentuk karya sastra naratif fiksi yang memiliki struktur kompleks, dan seringkali menyampaikan makna secara implisit. Hal ini membuat pembaca harus melakukan penafsiran mendalam untuk memahami pesan yang ingin disampaikan pengarang.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji cerpen adalah pendekatan semiotika. Semiotika merupakan ilmu yang mempelajari tanda dan simbol serta bagaimana tanda-tanda tersebut digunakan untuk menyampaikan makna. Dalam konteks ini, semiotika menjadi alat untuk memahami bagaimana pengarang merancang tanda-tanda dalam karya sastra, dan bagaimana pembaca menafsirkan makna dari tanda-tanda tersebut.
Beberapa tokoh penting dalam bidang semiotika antara lain Ferdinand de Saussure, Charles Sanders Peirce, Umberto Eco, dan Roland Barthes. Penelitian ini akan difokuskan pada teori semiotika Ferdinand de Saussure. Saussure menyatakan bahwa tanda terdiri dari dua unsur penting, yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda merupakan bentuk fisik atau representasi suatu objek (baik tertulis, lisan, maupun visual), sementara petanda adalah konsep atau makna yang muncul di benak pembaca sebagai hasil dari interaksi dengan penanda.
KAJIAN TEORI: SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE
Ferdinand de Saussure adalah pelopor dalam kajian semiotika modern. Ia menyatakan bahwa tanda hanya memiliki makna ketika ada hubungan antara penanda dan petanda. Dalam pandangannya, penanda adalah aspek material dari sebuah tanda (bunyi, tulisan, gambar), sedangkan petanda adalah konsep mental yang muncul dari penanda tersebut.
Saussure juga membagi teori semiotikanya dalam beberapa konsep penting lainnya, yakni:
- Langue dan parole: Langue adalah sistem bahasa yang disepakati secara kolektif oleh masyarakat, sementara parole adalah penggunaan bahasa oleh individu.
- Sinkronik dan diakronik: pendekatan sinkronik mempelajari bahasa dalam suatu waktu tertentu, sedangkan pendekatan diakronik mempelajari perkembangan bahasa dari waktu ke waktu.
- Syntagmatic dan paradigmatic: hubungan sintagmatik adalah hubungan antara elemen bahasa dalam satu struktur, sedangkan paradigmatik adalah hubungan pilihan antara elemen yang bisa saling menggantikan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Peneliti berperan sebagai instrumen utama dalam proses pengumpulan dan analisis data. Teknik triangulasi digunakan untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas data dengan melibatkan berbagai sumber data, metode, dan perspektif. Data dikumpulkan dari teks cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis, dan dianalisis dengan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure, yang berfokus pada relasi antara penanda dan petanda dalam teks.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini mengkaji unsur-unsur tanda dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” dengan pendekatan semiotika Saussure.
Data 1: Judul “Robohnya Surau Kami”
- Penanda (Signifier): Surau yang roboh secara fisik.
- Petanda (Signified): Simbol kemunduran nilai-nilai religius dalam masyarakat.
Surau yang roboh bukan sekadar bangunan yang rusak, tetapi merupakan representasi dari lunturnya semangat keagamaan di masyarakat. Surau yang tak lagi digunakan untuk ibadah menunjukkan bahwa masyarakat mulai meninggalkan aspek spiritual dalam kehidupannya.
Data 2: Tokoh Haji Saleh
- Penanda (Signifier): Tokoh Haji Saleh yang saleh secara ritual, tetapi tidak peduli dengan urusan sosial.
- Petanda (Signified): Simbol seseorang yang hanya mementingkan akhirat, tanpa tanggung jawab terhadap kehidupan dunia.
Haji Saleh digambarkan sebagai pribadi yang rajin beribadah, tetapi lalai terhadap tanggung jawab sosialnya. Ia digambarkan lebih memilih hidup miskin dan beribadah, tetapi membiarkan anak-cucunya menderita.
Data 3: Tokoh Kakek (Garin Surau)
- Penanda (Signifier): Seorang kakek penjaga surau yang hidup dalam kesendirian dan kemiskinan.
- Petanda (Signified): Simbol keikhlasan beribadah yang tidak disertai dengan kesadaran sosial.
Kakek digambarkan sangat tawakal dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Namun, ia tidak menjalankan peran sosialnya sebagai bagian dari masyarakat yang turut bertanggung jawab terhadap keluarga dan komunitas.
Data 4: Ajo Sidi
- Penanda (Signifier): Ajo Sidi, tokoh yang gemar bercerita.
- Petanda (Signified): Representasi suara kritis dalam masyarakat yang menyampaikan pesan moral melalui cerita.
Ajo Sidi hadir sebagai karakter yang menggambarkan realitas sosial melalui cerita yang ia sampaikan kepada tokoh kakek. Ia menyindir kehidupan masyarakat yang hanya mengejar ibadah ritual tetapi melupakan aspek sosial.
KESIMPULAN
Melalui analisis semiotika Ferdinand de Saussure terhadap cerpen “Robohnya Surau Kami”, ditemukan bahwa A.A. Navis menyampaikan kritik sosial terhadap fenomena keberagamaan masyarakat yang hanya menekankan pada ibadah ritual dan melupakan tanggung jawab sosial. Tanda-tanda yang muncul, seperti tokoh Haji Saleh, kakek, dan surau yang roboh, mengandung pesan bahwa keberagamaan yang tidak dibarengi dengan amal sosial adalah sesuatu yang sia-sia. Cerpen ini menyampaikan pesan bahwa keseimbangan antara ibadah spiritual dan amal sosial adalah fondasi penting dalam kehidupan beragama.
Reski Sapitri adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, FIB UNILAK







