Menu

Mode Gelap
Jalan Rusak Parah, Warga Kesal: ‘Kemarin Jembatan, Sekarang Jalan Lagi Dirusak PLN’ Prakiraan Cuaca Kepri Sabtu, 25 April 2026: Batam–Tanjungpinang Berawan, Natuna dan Anambas Berpotensi Hujan Program JALUR Polda Riau Sasar Suku Talang Mamak di Pedalaman Inhu, Bagikan Sembako, alat tulis anak-anak hingga Layanan Kesehatan Gratis 477 Personel Polda Kepri Dimutasi, Rotasi Jabatan untuk Penyegaran dan Peningkatan Kinerja Jaga Marwah Organisasi, PWI Kepri Minta DK Evaluasi Legalitas Anggota di Wadah KJK Komisi II DPRD Kabupaten Bintan Laksanakan Koordinasi Program Kampung Nelayan Merah Putih ke DKP Provinsi Kepri

Seni dan Budaya

Budaya Melayu, Superego Kultural yang Mulai Dilupakan

badge-check


					Budaya Melayu, Superego Kultural yang Mulai Dilupakan Perbesar

Oleh; Yoan S Nugraha
Sekretaris Bidang Penelitian, Pengkajian, dan Penulisan Adat Budaya Melayu LAMKR Tanjungpinang

 

Indonesia adalah negara kaya budaya, dan salah satunya adalah budaya Melayu yang memiliki falsafah luhur: adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Prinsip ini menegaskan bahwa adat selalu berlandaskan nilai religius. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi, nilai-nilai luhur itu perlahan mulai terpinggirkan.

Dalam perspektif psikoanalisis, budaya Melayu dapat diposisikan sebagai “superego kultural.” Freud menyebut superego sebagai pengendali moral yang mengarahkan perilaku manusia. Dalam masyarakat Melayu, nilai marwah (harga diri), sopan santun, musyawarah, dan gotong royong berfungsi sebagai mekanisme moral kolektif yang menahan dorongan instingtif (id) agar tidak merusak tatanan sosial.

Ungkapan klasik “biar mati anak, jangan mati adat” bukanlah sekadar retorika, melainkan penegasan bahwa adat diposisikan lebih tinggi daripada kepentingan pribadi. Adat menjadi pagar moral yang membimbing perilaku masyarakat agar tetap beradab.

Sayangnya, modernisasi sering dipahami sebagai kebebasan tanpa batas. Generasi muda lebih akrab dengan budaya populer global daripada kearifan lokal. Superego kultural yang seharusnya membimbing mereka justru melemah. Akibatnya, kita melihat fenomena sosial seperti anarki dalam demonstrasi, kriminalitas remaja, hingga pudarnya sopan santun dalam interaksi sehari-hari.

Krisis moral ini bisa diatasi dengan menghidupkan kembali peran budaya lokal. Budaya Melayu, misalnya, dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan karakter di sekolah. Guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai marwah, sopan santun, dan musyawarah dalam praktik keseharian. Tokoh adat dan agama bisa dilibatkan untuk memberi teladan, sementara keluarga berperan menanamkan rasa malu dan harga diri sebagai benteng moral.

Ketika superego kultural diperkuat, masyarakat memiliki pegangan moral yang jelas. Aspirasi bisa disampaikan secara kritis namun tetap santun. Perbedaan bisa didialogkan tanpa harus berubah menjadi kekerasan.

Budaya Melayu bukanlah sekadar warisan masa lalu. Ia adalah benteng moral yang relevan untuk masa kini. Yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk menghidupkan kembali nilai-nilainya, bukan sekadar mengingatnya dalam buku sejarah atau upacara adat tahunan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Nadim Festival Obati Kerinduan Event Sastra di Batam

8 April 2026 - 15:49 WIB

Penyair Bintan Erizal Norman Pukau Delegasi Asia Tenggara di Nadim Festival 2026

5 April 2026 - 15:28 WIB

Rumah Budaya Tengku Mahkota Wakili Indonesia Ikut Simposium Bangsawan Nusantara di Perak

29 September 2025 - 11:00 WIB

PPN XIII Jakarta: Puisi Menjalin Persaudaraan Asia Tenggara, Ini Sejarahnya

6 September 2025 - 14:39 WIB

Dari Tepian Narosa, Dukungan Besar Menbud untuk LARM se-Sumatera

21 Agustus 2025 - 15:17 WIB

Trending di Kuansing