Menu

Mode Gelap
Peredaran Narkoba di Wonosari Barat Digagalkan, Satu Pelaku Diamankan Satresnarkoba Polres Bengkalis Bekuk Terduga Pengedar Sabu di Wonosari Barat Bekerja Cerdas Kunci Transformasi Sistem Kerja ASN LAM Kepri Minta Publik Akhiri Polemik, Iman Sutiawan Diminta Fokus Bekerja untuk Daerah Polsek Tebingtinggi Pastikan Hasil Panen Warga dalam Budidaya Lele Memuaskan Ketua Karang Taruna Kota Batam Hadiri Kegiatan Peksos Go To School di SMP 21 dan SMP 36 Batam

Nasional

PPN XIII Jakarta: Puisi Menjalin Persaudaraan Asia Tenggara, Ini Sejarahnya

badge-check


					Ahmadun Yosi. F: Dok Perbesar

Ahmadun Yosi. F: Dok

RiauKepri.com, JAKARTA— Sekitar 18 tahun lalu, pada 2007, gagasan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) lahir di Medan. Saat itu, sekitar 50 penyair dari lima negara Asia Tenggara—Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand—berkumpul atas prakarsa Laboratorium Sastra Medan. Dari pertemuan inilah lahir tekad untuk menjadikan puisi sebagai pengikat persaudaraan lintas bangsa.

Sejak awal, PPN dimaksudkan tidak hanya sebagai ajang silaturahmi para penyair, tetapi juga sebagai forum untuk saling mengenali, memahami, dan mengapresiasi perkembangan perpuisian di kawasan. Kesepakatan bersejarah pun ditandatangani oleh tokoh-tokoh sastra dari lima negara, termasuk Mohamad Saleeh Rahamad dan S.M. Zakir (PENA Malaysia), Viddy AD Daery dan Ahmadun Yosi Herfanda (KSI Indonesia), Afrion (Laboratorium Sastra Medan), Zefri Ariff (Asterawani Brunei Darussalam), Nik Rakib bin Nik Hassan (Nusantara Studies Thailand), serta Djamal Tukimin (Asas 50 Singapura).

Dari Medan, perjalanan PPN terus berlanjut ke berbagai kota dan negara: Kediri, Brunei Darussalam, Kuala Lumpur, Palembang, Jambi, Singapura, Thailand, Tanjung Pinang, Banten, Kudus, hingga kembali ke Kuala Lumpur, dan tahun 2025 ini Jakarta dipercaya menjadi tuan rumah. Hingga kini, sudah 13 kali PPN digelar.

Salah satu tonggak penting terjadi di Kuala Lumpur, ketika istilah “Pesta Penyair Nusantara” diganti menjadi “Pertemuan Penyair Nusantara” agar kegiatan ini tidak hanya dipandang sebagai ajang seremonial, melainkan forum yang lebih bermakna.

“Setiap PPN selalu melahirkan antologi puisi bersama, yang jika dikumpulkan, akan membentuk peta perkembangan perpuisian di lima negara serumpun. PPN juga menghasilkan banyak makalah dan pemikiran sastra yang sayang sekali belum dibukukan,” ungkap Ahmadun Yosi Herfanda, Ketua Panitia PPN XIII.

Ia menambahkan, ke depan PPN perlu lebih kreatif dengan agenda yang segar, termasuk rencana penerbitan antologi pilihan 19 tahun PPN dan kumpulan makalah penting dari PPN I hingga XIII.

Selain itu, pernah pula muncul gagasan penghargaan sastra versi PPN, termasuk Anugerah Penyair Nusantara, yang sempat direkomendasikan namun belum terealisasi secara konsisten.

“PPN bukan sekadar ajang mempererat persaudaraan melalui puisi. Ia bisa memberi arti lebih dari itu—menjadi wadah yang relevan dengan zamannya, sekaligus warisan kultural yang terus hidup,” lanjut Ahmadun.

Selama masih ada pihak yang bersedia menjadi tuan rumah dan komunitas yang berkomitmen, PPN diyakini akan terus berlangsung lintas generasi. “Semoga kita diberi umur panjang untuk tetap berjumpa di PPN-PPN berikutnya,” tutup Ahmadun. (Red)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menguat, Isu Reshuffle Kabinet Merah Putih

27 April 2026 - 12:02 WIB

Bintan Raih Terbaik I di Ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026

26 April 2026 - 11:56 WIB

Bupati H. Asmar Ikuti Rakornas Kementan RI, Bahas Strategi Hadapi Musim Kering Jaga Ketahanan Pangan Nasional

24 April 2026 - 11:18 WIB

Ketua Karang Taruna Kota Batam Kunjungi Pengurus Nasional Karang Taruna di Sekretariat PNKT

23 April 2026 - 20:01 WIB

Bupati Roby Ekspose Kesiapan Implementasi Manajemen Talenta ASN di BKN RI

22 April 2026 - 16:46 WIB

Trending di Bintan